Ekosistem digital seperti Minecraft, Roblox, dan Fortnite kini telah bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial utama bagi Generasi Alpha. Kelompok yang lahir pada rentang 2010 hingga 2024 ini menjadikan video game sebagai bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka, bukan sekadar hiburan semata.
Sebuah data yang dikutip dari Lifestyle mengungkapkan bahwa 79 persen dari Generasi Alpha aktif bermain game setiap minggu. Tren ini juga terlihat pada Generasi Z, di mana 63 persen di antaranya lebih memilih menghabiskan waktu dengan video game dibandingkan menonton film.
Popularitas game online didorong oleh tawaran kesenangan, pencapaian, serta koneksi sosial yang kuat melalui kerja sama tim. Aktivitas ini juga sering dikaitkan dengan peningkatan kreativitas, kemampuan kognitif, serta keterampilan dalam memecahkan masalah bagi para pemainnya.
Namun, interaksi yang sangat terbuka di ruang digital ini menyimpan risiko besar bagi anak-anak. Ruang sosial virtual yang ramai menjadi pintu masuk bagi predator online untuk mencari target korban di bawah umur.
Laporan dari Thorn menunjukkan fakta mengkhawatirkan bahwa seperempat anak muda mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di internet sebelum usia 18 tahun. Modus yang digunakan sering kali melibatkan imbalan sesuatu yang dianggap bernilai di dalam platform game.
"Sayangnya, kami melihat ancaman ini muncul di hampir semua platform," kata Melissa Stroebel, wakil presiden riset dan wawasan di Thorn.Stroebel menjelaskan bahwa sifat dasar platform game sebagai ruang sosial digital menjadi celah bagi pelaku kejahatan. Mereka memanfaatkan fitur tersebut untuk mendekati anak-anak dan remaja secara proaktif.
Kekhawatiran ini terus membayangi meski pengembang terus memperkuat sistem keamanan mereka. Sebagai contoh, Roblox telah memperkenalkan pembaruan kontrol orang tua pada akhir 2024, termasuk pengembangan teknologi deteksi penyalahgunaan dan fitur pelaporan yang lebih praktis.
Titania Jordan, penulis buku Parental Control, memberikan peringatan bahwa lingkungan digital tidak akan pernah bisa sepenuhnya aman 100 persen bagi anak-anak. Hal ini disebabkan oleh dinamika percakapan yang berlangsung sangat cepat.
"Ini karena percakapan terjadi begitu cepat dan dapat dipindahkan ke platform lain seperti Snapchat atau pesan teks," ujar Titania Jordan.Ron Kerbs, CEO Kidas, turut mengidentifikasi sejumlah masalah krusial yang mengintai anak-anak saat bermain game. Beberapa risiko utama meliputi kecanduan yang mengganggu pola tidur dan sekolah, hingga paparan konten kekerasan atau ujaran kebencian.
Selain itu, ancaman teknis seperti penipuan phishing melalui item game dan pelanggaran privasi juga menjadi perhatian serius. Predator biasanya meluangkan waktu cukup lama untuk membangun kepercayaan agar anak-anak merasa nyaman berbagi informasi pribadi.
Langkah Proaktif Perlindungan Anak
Orang tua disarankan mengambil langkah nyata untuk mendidik dan menetapkan batasan bermain bagi anak. Penggunaan aplikasi kontrol orang tua dapat membantu memantau komunikasi suara dan teks dalam game guna mendeteksi perilaku predator sejak dini.
Membahas risiko ajakan seksual secara jujur sangat penting dilakukan agar anak siap menghadapi situasi buruk. Jordan menyarankan orang tua untuk memberikan simulasi pertanyaan kepada anak mengenai tawaran dari orang asing di dalam aplikasi.
"Apa yang akan kamu lakukan jika orang asing di Roblox menawarkan Robux sebagai imbalan atas foto kamu? Apakah menurutmu semua orang di aplikasi obrolan memang orang seperti yang mereka katakan?" kata Jordan mencontohkan pertanyaan kepada anak.Strategi lain yang efektif adalah mengajak orang tua untuk ikut bermain game bersama anak. Laura Ordoñez dari Common Sense Media menjelaskan bahwa metode ini memberikan wawasan tentang bagaimana anak menangani situasi tanpa terkesan seperti interogasi.
"Selama bermain game, Anda mungkin melihat pesan obrolan muncul dari orang asing atau undangan untuk bergabung dengan server pribadi," tutur Ordoñez.Ordoñez menambahkan bahwa interaksi saat bermain bersama memungkinkan diskusi yang lebih natural. Anak juga harus diberi pemahaman bahwa mereka bisa selalu melapor kepada orang tua jika mengalami masalah apa pun.
"Jika seorang anak tahu bahwa orang tuanya tidak akan marah kepadanya, mereka jauh lebih mungkin untuk menjelaskan ketika mereka dalam bahaya. Dan ingat, ketika orang dewasa memanfaatkan seorang anak, itu bukanlah kesalahan anak tersebut," ujar Jordan.