Sutradara Rudi Soedjarwo menerapkan pendekatan tidak biasa dalam proses penggarapan film terbarunya yang berjudul Tanah Runtuh. Dikutip dari Suara, sinematografer tersebut sengaja menciptakan atmosfer yang menyerupai situasi riil agar emosi sekaligus respons para aktor muncul secara natural.
Langkah ini diambil lantaran jalan cerita Tanah Runtuh sangat bertumpu pada gejolak emosional para tokohnya. Fokus utama cerita mengarah pada sepasang anak yang terpisah dari ibundanya di area konflik.
"Bahkan pelan-pelan saya mau menggeser kata 'adegan' jadi 'kejadian' sebenarnya. Karena kadang-kadang adegan ini bawaannya kan akting. Tapi bagi yang belum pengalaman, itu kan untuk membayangkannya susah," kata Rudi Soedjarwo saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 8 Juni 2026.
Sutradara berusia 54 tahun tersebut menilai penonton bakal ikut peduli pada karakter jika emosi yang dihadirkan terasa meyakinkan. Oleh sebab itu, kondisi di sekeliling pemain dirancang hidup dan realistis.
"Yang kita share ke penonton emosional, emosi kan. Film akan bisa menarik penonton untuk peduli sama karakter kalau mereka terpancing secara emosi. Kalau situasinya enggak dibuat realistis, bagaimana mereka bisa bereaksi?" terangnya.
Bagi Rudi, mekanisme pengambilan gambar di lapangan lebih menyerupai rekayasa peristiwa ketimbang merekam adegan film konvensional. Kamera diposisikan sebagai alat dokumentasi kejadian nyata.
"Kita berkonspirasi merekayasa peristiwa ini supaya penonton percaya. Kamera hanya merekam kejadian itu. Kejadiannya yang harus benar," kata sutradara 54 tahun tersebut.
Penerapan metode tersebut menuntut kesiapan penuh dari seluruh jajaran aktor selama berada di lokasi syuting. Vino G. Bastian yang didapuk sebagai pemeran Idham mengungkapkan bahwa pergerakan kamera diatur sangat bebas dan dinamis.
"Kameranya liar banget. Bisa tiba-tiba dekat, tiba-tiba menjauh. Jadi kita memang harus melupakan kamera. Jangan selalu sadar ada kamera. Kita harus siap ketika kamera itu tiba-tiba ke kita," kata Vino.
Aktor yang merupakan suami Marsha Timothy ini mengisahkan pengalamannya saat terlibat dalam pengambilan gambar skala besar. Seluruh aktivitas dari para pemeran di dalam satu ruangan wajib bergerak serentak tanpa jeda.
"Di sana harus tembak-tembakan, di sini harus tembak-tembakan. Jadi nggak bisa kamera ke sana terus yang lain santai. Semuanya harus jalan, semuanya harus real," bebernya.
Konsep sinematografi yang menantang ini membutuhkan fase persiapan yang cukup panjang. Rudi mengonfirmasi bahwa para aktor mesti menjalani latihan intensif selama lebih dari dua bulan, melampaui durasi syuting itu sendiri.
Proses latihan tidak berupa pembacaan naskah di dalam ruangan, melainkan langsung berbentuk simulasi situasi lapangan. Sigi Wimala menuturkan bahwa latihan dilakukan secara riil sesuai kebutuhan adegan.
"Kita aja simulasi naik motor ya naik motor beneran," timpal Sigi Wimala.
Vino menambahkan bahwa fokus utama selama persiapan adalah mendiskusikan respons tindakan, bukan menghafalkan dialog tertulis. Hasilnya, tidak ada lagi kru maupun aktor yang memegang skrip saat syuting berjalan.
"Hampir nggak pernah duduk di meja untuk membahas skrip. Kita lebih banyak diskusi, 'kalau kejadiannya kayak gini, ngomongnya apa?' Pas syuting juga udah enggak ada yang pegang skrip," ucap Vino.
Tantangan Akting Organik Bersama Aktor Down Syndrome
Kehadiran Ridho, seorang aktor Down Syndrome yang memerankan tokoh Ringgo, menjadi tantangan tersendiri sekaligus pembeda dalam film ini. Tim produksi memilih menyelaraskan alur adegan dengan respons spontan yang diberikan oleh Ridho.
"Kita tidak pernah membebani Ridho harus adegan seperti ini atau begitu. Apa yang dia lakukan justru kita manfaatkan untuk adegan. Jadi semuanya didapat natural dan organik banget," kata Vino.
Rudi membenarkan adanya perlakuan khusus dalam mengondisikan suasana bagi Ridho. Upaya tersebut bertujuan untuk memunculkan potensi terbaik sang aktor secara natural.
"Kita harus memahami dia. Apa kelebihannya, apa kecenderungannya, lalu menciptakan situasi supaya semuanya bisa keluar secara alami," tutur Rudi.
Nuansa realistis di lokasi syuting ini bahkan sempat mengelabui masyarakat sekitar dan pemeran figuran. Mereka mengira kepanikan yang sedang direkam merupakan peristiwa nyata.
"Kadang karena kejadiannya dibuat terlalu real, ekstras di sana jadi bingung. Mereka kaget beneran, malah freeze," ujar Sigi sambil tertawa.
Tanah Runtuh merupakan sinema drama kemanusiaan produksi Denny Siregar Production yang menjadwalkan penayangan serentak di bioskop Indonesia mulai 25 Juni 2026. Sejumlah nama besar ikut membintangi film ini, seperti Vino G. Bastian, Sigi Wimala, Ridho Khaliq, Yoan, Tike Priatnakusumah, Agnes Naomi, Sari Koeswoyo, hingga Jerry Likumahwa.
Kisah film ini menyoroti perjalanan dua anak bernama Kai dan Ringgo yang mencari ibunya di tengah situasi konflik Poso, Sulawesi Tengah. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan polisi bernama Idham.
Walaupun menggunakan latar belakang peristiwa Poso, tim produksi menegaskan sinema ini sama sekali tidak menyoroti aspek politik maupun pertikaian antarkelompok. Alur cerita sepenuhnya berfokus pada sisi kemanusiaan serta perjuangan anak-anak yang menjadi korban konflik.