Ridho Slank Raih Lisensi Pilot Pribadi Usai Tempuh Pendidikan Tiga Tahun

Ridho Slank Raih Lisensi Pilot Pribadi Usai Tempuh Pendidikan Tiga Tahun

Gitaris grup band Slank, Mohammad Ridho Hafiedz, resmi mengantongi lisensi pilot pribadi setelah menyelesaikan pendidikan penerbangan selama tiga tahun terakhir. Keberhasilan ini mewujudkan impian masa mudanya untuk bisa menerbangkan pesawat secara mandiri melintasi berbagai rute di wilayah Pulau Jawa.

Meskipun bukan untuk keperluan pesawat komersial, pria berusia 52 tahun ini tetap merasa bahagia. Dilansir dari Suara, Ridho Slank kini sudah bisa membawa pesawat untuk dirinya sendiri maupun sang istri, Ony Seroja Hafiedz.

Keinginan menjadi penerbang sebenarnya sudah muncul sejak lulus dari bangku SMA, saat ia sempat diterima di sekolah penerbangan Curug. Namun, rencana tersebut terhambat karena tidak mendapatkan lampu hijau dari sang ayah.

"Bokap gak setuju akhirnya gua gak boleh," jelas Ridho singkat mengenai alasan kegagalannya menjadi pilot profesional di masa lalu.

Setelah berpuluh-puluh tahun berlalu, suami dari Ony Seroja Hafiedz ini memutuskan untuk kembali belajar mengendalikan burung besi. Usaha kerasnya selama tiga tahun belakangan membuahkan hasil yang memuaskan.

"Sekolah pilot, dan akhir tahun lalu dapet private pilot license," tutur Ridho Slank ditemui di Gang Potlot pada Jumat, 5 Juni 2026.

Saat melakukan penerbangan perdana seorang diri, ia tidak menampik adanya perasaan was-was dan tegang di dalam kokpit.

"Nggak bohong sih, gue deg-degan," akunya jujur mengenai momen bersejarah dalam hidupnya tersebut.

Sejauh ini, ia sudah mengasah kemampuan navigasi udaranya dengan menempuh beberapa rute penerbangan jarak jauh. Rute yang pernah dilewatinya meliputi wilayah Bogor menuju pesisir selatan Jawa Barat hingga ke arah Cirebon.

"Jarak tempuh yang paling jauh itu gua pernah Bogor ke Pangandaran. Bogor-Pangandaran, terus ke Cirebon juga pernah," paparnya mengenai rute yang telah ia lalui.

Di sisi lain, Ridho Slank meluruskan anggapan masyarakat bahwa hobi kedirgantaraan ini selalu memerlukan biaya yang sangat mahal. Berdasarkan kalkulasi pribadinya, biaya operasional menerbangkan pesawat justru lebih terjangkau dibandingkan pengeluaran rutin bermain golf.

"Setelah gua hitung-hitung... lebih mahal main golf daripada bawa pesawat. Main golf ada bayar caddie, beli bola, makannya, belum lagi mesti punya member," kata gitaris 52 tahun ini.

Untuk urusan operasional pesawat, ia sejauh ini hanya perlu mengeluarkan biaya untuk pembelian bahan bakar saat hendak mengudara.

"Pertamax turbo sekali terbang, 60 liter, berapa tuh?" imbuhnya memberikan perbandingan.

Mengenai armada, ia memanfaatkan fasilitas dari komunitas tempatnya bernaung dengan sistem pembayaran iuran sewa.

"Gue ikut club, jadi masih sewa pesawat. Iurannya ada, tapi nggak seperti main golf. (harga sewa pesawat) macam-macam, lebih mahal Alphard lah," katanya memberikan gambaran.

Artikel terkait

Rekomendasi