Debut perdana Tretan Muslim sebagai pemeran utama dalam film FOUFO menghadapi tantangan besar terkait adaptasi budaya dan bahasa.
Dilansir dari Medcom, film garapan sutradara Bayu Skak ini mengusung genre komedi fiksi ilmiah dengan latar cerita unik tentang alien terdampar di Madura.
Proyek kolaborasi antara Skak Studios dan Sinemart ini menggunakan bahasa Madura untuk sekitar 70 hingga 80 persen dialognya.
Para pemeran yang terlibat umumnya memiliki latar belakang budaya Madura, termasuk Tretan Muslim sendiri.
Namun, komika tersebut mengaku kesulitan karena sudah lama tidak menggunakan bahasa daerahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menceritakan kendala tersebut saat menghadiri acara Content Day film FOUFO di SCTV Tower, Jakarta Pusat, pada Senin, 8 Juni 2026.
"Kalau saya bebannya karena kan ini Madura, membawa kesukuan gitu. Karena jujur saya lama nggak ngomong Madura sebenarnya. Saya ngomong Madura tuh kalau sama ibu saya doang," kata Tretan Muslim.
Perbedaan dialek antarwilayah di Pulau Garam menjadi kendala tambahan bagi dirinya selama proses pendalaman skrip.
Naskah film FOUFO rupanya memakai dialek Madura Pamekasan, sedangkan Tretan Muslim terbiasa dengan dialek Bangkalan.
"Jadi pas di film ini saya harus berbahasa Madura itu sampai saya 'emang ada ya bahasa Madura kayak gini?'. Karena script-nya itu konsultan dia Madura-nya kabupaten Pamekasan, saya Bangkalan. Nah itu aja udah beda. Saya bacanya aja ini susah banget ya bahasa Madura. Itu menjadi tantangan," ujar Tretan Muslim.
Tantangan kebahasaan ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh Tretan Muslim seorang diri.
Pegiat dakwah sekaligus konten kreator, Habib Ja'far, yang turut membintangi film ini juga mengalami kendala serupa.
Perbedaan latar belakang daerah asal membuat para aktor sering berdiskusi intens mengenai ketepatan kosakata.
"Belum lagi Habib Ja'far dia Madura swasta. Itu dia Madura beda lagi gitu. Jadi kadang kita debat sesama Madura 'Ini bahasa Maduranya apa?', tanya ke Pamekasan, tanya ke Fuad, Fuad orang Kangean Sumenep ini beda, beda lagi. Jadi dia yang paling susah, dia nggak bisa memastikan dialog saya benar apa nggak. Kalau saya ngawur juga dia nggak tahu. Tapi untung ada Faiz yang menjaga," tutur Tretan Muslim seraya tertawa.
Klarifikasi Terkait Stereotipe Suku Madura
Selain urusan dialek, Tretan Muslim menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai potensi munculnya stereotipe negatif.
Ia menegaskan bahwa film FOUFO sama sekali tidak memiliki niat untuk mendiskreditkan suku Madura.
Sinematografi ini justru berusaha menonjolkan nilai-nilai luhur dan sisi positif kehidupan masyarakat setempat.
"Kalau lihat trailer doang memang ada adegan soal nyolong besi atau rel kereta. Tapi sebagian besar ceritanya justru menunjukkan keluarga Madura yang kuat, religius, dan punya mimpi memberangkatkan orang tua berhaji," kata Tretan Muslim.
Ia membenarkan bahwa beberapa candaan memang diambil dari realitas sosial atau stereotipe yang berkembang.
Namun, hal tersebut dikemas sebagai bagian dari komedi dan bukan bentuk generalisasi terhadap seluruh warga.
"Mungkin stereotipe kayak gergaji rel, nggak mau vaksin, ya itu kita nggak memfitnah juga, maksudnya ada memang beberapa oknum, sekitar 4 juta kalau ga salah," kelakar Tretan Muslim.
"Tapi bukan berarti semua orang Madura seperti itu. Di semua suku pasti ada sisi positif dan negatifnya," ujar Tretan Muslim.
Kesulitan Melakoni Adegan Menangis
Tantangan akting Tretan Muslim semakin berat ketika dirinya dituntut melakukan adegan emosional.
Sebagai seorang komika, ia merasa khawatir penonton justru akan tertawa saat melihatnya menangis.
"Saya pas akting nangis tuh baru belajar, bahwa nangis itu ternyata nggak cuma keluar air mata doang. Kalau itu sih selebgram juga bisa, wiuwww," canda Tretan Muslim.
"Yang saya pikirkan itu, orang selama ini lihat saya bercanda dan ngakak. Kalau saya nangis, mereka bisa dapat feel-nya enggak? Udah muka saya mungkin tidak drama ya, ditambah ngomongnya Madura pas nangis. 'Aduh de’remmah bue' ya orang langsung ketawa gitu. Itu yang saya khawatirkan," ungkap Tretan Muslim.
Beruntung, kehadiran pelatih akting dan lawan main yang suportif sangat membantu dirinya membangun emosi sedih.
Tretan Muslim secara khusus memuji kemampuan akting Ibu Kam yang berperan sebagai ibunya dalam film tersebut.
"Shout out untuk pemeran ibu saya, dia bernama Ibu Kam. Dia nangisnya gila banget dia nangis take kedua masih bisa nangis lagi. Saya bilang 'kamu punya kelainan kelenjar air mata atau gimana?'," canda Tretan Muslim.
"Karena saya dapat tandem ibu yang luar biasa seperti itu, saya jadi lebih mudah ngebawain feel sedihnya," kata Tretan Muslim.