Nenek Streamer Minecraft Jadi Korban Prank Swatting Polisi di Arizona

Nenek Streamer Minecraft Jadi Korban Prank Swatting Polisi di Arizona

Seorang nenek berusia 81 tahun asal Arizona, Amerika Serikat (AS), menjadi sasaran keisengan berupa pembongkaran rumah oleh aparat keamanan saat melakukan livestreaming game Minecraft. Seperti dilansir dari Tekno, aktivitas siaran langsung tersebut sebenarnya ditujukan untuk menggalang dana pengobatan kanker bagi cucunya yang bernama Jack Self.

Aksi mulia lewat kanal YouTube milik Sue Jacquot yang dikenal sebagai "GrammaCrackers" ini telah menarik perhatian banyak orang hingga mengumpulkan lebih dari 600.000 pelanggan. Keluarga ini bahkan sempat mengadakan siaran langsung selama 24 jam penuh selama hampir 15 hari demi menutup biaya medis yang sangat besar.

Menurut Jacquot, biaya pengobatan yang harus ditanggung keluarganya tidak sedikit.

"Dia sudah menjalani sekitar 200 kali kemoterapi dalam satu setengah tahun terakhir, dan itu menghasilkan tagihan yang sangat mahal yang tidak ditanggung perusahaan asuransi," kata Jacquot.

Di tengah perjuangan tersebut, insiden tidak terduga terjadi pada Senin malam ketika rumah mereka menjadi target swatting atau laporan darurat palsu. Seseorang menghubungi pihak berwenang dan mengklaim bahwa Jacquot telah ditembak mati oleh Jack Self, yang juga dilaporkan berencana mengakhiri hidupnya sendiri.

Peristiwa menegangkan ini berawal sekitar pukul 23.00 waktu setempat saat perwakilan keluarga mendapat kabar mengenai respons darurat kepolisian terhadap rumah mereka. Laporan palsu tersebut langsung memicu pengerahan puluhan petugas Kepolisian Queen Creek dengan perlengkapan taktis lengkap.

"Kami menerima laporan bahwa Jack menembak neneknya hingga tewas dan kemudian akan bunuh diri. Saat mendengarnya saya langsung kaget," kata Jack Self.

"Rasanya seperti dihantam pukulan keras di perut," kata Jack Self.

Aparat keamanan yang datang dilaporkan membawa tameng antihuru-hara, senapan, serta sekitar 20 mobil polisi dan lima kendaraan SWAT. Petugas segera mengepung area rumah dan menginstruksikan seluruh penghuni untuk keluar dengan tangan terangkat.

Saat pengepungan terjadi, Jacquot tengah tertidur lelap di kamarnya tanpa mengetahui situasi di luar. Kamera siaran langsung yang masih menyala sempat merekam momen ketika para petugas kepolisian memasuki kamar untuk membangunkannya.

"Mereka masuk, lalu satu orang memegang satu lengan saya dan yang lain memegang lengan satunya. Mereka mengantar saya keluar sambil meminta maaf," kata Jacquot.

"Dan ada seorang polisi wanita yang cantik sekali. Dia sangat baik, tetapi saya rasa kalau memang ada masalah, dia juga bisa bertindak tegas," imbuhnya.

Jacquot menanggapi peristiwa mengejutkan ini dengan santai dan menganggapnya sebagai pengalaman yang unik.

"Saya cuma berpikir, sebenarnya cucu-cucu saya ini sudah berbuat apa?" katanya sambil tertawa.

Dalam kesempatan wawancara lain, lansia ini mengapresiasi perlakuan baik dari para petugas kepolisian yang mengevakuasinya.

"Saya sedang tidur, benar-benar tidur nyenyak. Saya tidak mau bangun, lalu para polisi itu masuk ke rumah," katanya.

"Mereka menggandeng saya keluar. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi rasanya cukup menyenangkan."

Lansia ini bahkan berseloroh mengenai pengalaman pertamanya menaiki kendaraan dinas kepolisian.

"Lalu saya naik mobil polisi. Saya belum pernah naik mobil polisi sebelumnya."

Hasil Penyelidikan dan Dukungan Komunitas Gameh2

Polisi berada di lokasi selama kurang lebih tiga jam sebelum memastikan bahwa panggilan darurat tersebut merupakan hoaks. Sejak awal memasuki garasi, petugas sudah menduga adanya laporan palsu sehingga tidak menggunakan tindakan kekerasan, terlebih setelah melihat perlengkapan livestream di dalam rumah.

Penyelidikan awal mendeteksi bahwa telepon darurat misterius tersebut dilakukan oleh seseorang yang berbicara dengan aksen Prancis. Pihak keluarga masih mempertanyakan motif pelaku yang tega menyasar nenek streamer tersebut.

"Informasi yang kami dapat sejauh ini, panggilan itu menggunakan aksen Perancis. Mereka belum benar-benar yakin panggilan itu berasal dari mana," kata Jack.

"Entah tujuannya untuk menyakiti kami, membuat kami marah, atau ingin mengganggu Grandma Crackers saat siaran langsung," kata Austin Self.

"Untungnya polisi sangat profesional dan luar biasa sehingga dampaknya bisa diminimalkan."

Meski baru saja mengalami kejadian berbahaya, Jacquot menolak untuk berhenti dan langsung melanjutkan aktivitas livestreaming Minecraft keesokan harinya. Baginya, tindakan destruktif dari oknum tidak dikenal tidak akan memengaruhi misi sosialnya.

"Mereka tidak akan menentukan apa yang boleh saya lakukan. Mereka juga tidak akan membuat saya takut untuk melakukan ini," kata Jacquot.

Pasca-insiden, gelombang simpati dan dukungan emosional justru semakin deras mengalir dari komunitas gamer di platform digital.

"Mereka sangat baik dan peduli pada keadaan saya. Mereka bertanya bagaimana kondisi saya, bagaimana situasinya, mengatakan mereka mencintai saya dan menyesalkan kejadian ini. Dukungan mereka luar biasa," kata Jacquot.

Departemen Kepolisian Queen Creek menegaskan bahwa kasus swatting ini masih dalam proses penyelidikan intensif oleh tim penyidik.

Artikel terkait

Rekomendasi