Nintendo menargetkan volume produksi konsol teranyar mereka, Switch 2, hingga menyentuh angka 20 juta unit pada akhir tahun fiskal Maret 2027. Langkah agresif ini diambil produsen game asal Jepang tersebut di tengah rencana penyesuaian harga perangkat.
Dikutip dari Suara, jumlah manufaktur yang dibidik ini mengalami lonjakan sekitar 20 persen jika disandingkan dengan target awal perusahaan. Sebelumnya, dalam laporan keuangan kepada publik, produsen yang berbasis di Kyoto tersebut sempat mengumumkan target resmi sebesar 16,5 juta unit.
Perbedaan proyeksi volume manufaktur ini dinilai sebagai bagian dari taktik berkala yang kerap diterapkan oleh perusahaan. Analis industri senior, Serkan Toto, memberikan pandangannya mengenai langkah strategis yang diambil oleh produsen tersebut.
"Bagi mereka, tidak ada kerugian nyata dalam menetapkan angka yang rendah terlebih dahulu dan kemudian melampauinya di kemudian hari. Tahun fiskal yang baru saja berakhir adalah contoh yang baik," ungkap Serkan Toto.
Melalui penetapan ekspektasi awal yang tidak terlalu tinggi, perusahaan dapat menyajikan performa positif bagi para investor. Di sisi lain, manajemen rantai pasok juga menjadi lebih siap dalam mengantisipasi lonjakan permintaan pasar tanpa menanggung risiko penumpukan stok komoditas.
Kendati proyeksi manufaktur meningkat, para calon pembeli harus bersiap menghadapi penyesuaian harga. Mulai 1 September 2026, nilai retail untuk perangkat Switch 2 di pasar Amerika Serikat bakal mengalami kenaikan sebesar 50 dolar AS, sehingga harganya menjadi 499,99 dolar AS atau berkisar Rp8,8 juta.
"Mengingat perubahan kondisi pasar, dan setelah mempertimbangkan prospek bisnis global, Nintendo akan merevisi harga eceran yang disarankan pabrikan (MSRP) untuk sistem Nintendo Switch 2 dan sistem Nintendo Switch," bunyi pernyataan resmi Nintendo dikutip dari GamesGG dan VGC.
Kebijakan penyesuaian harga ini menempatkan gawai hiburan tersebut pada segmen pasar yang lebih premium. Kendati demikian, target manufaktur sebanyak 20 juta unit menjadi indikasi kuat bahwa ketersediaan pasokan barang di pasar akan berada dalam kondisi yang lebih stabil.
Langkah pengamanan rantai pasok ini sekaligus diterapkan untuk mengantisipasi aksi borong oleh para spekulan penimbun barang (scalpers). Hal ini berkaca pada pengalaman kelangkaan unit yang sempat melanda generasi awal konsol pendahulu maupun gawai buatan kompetitor lain di masa peluncuran perdana.
Guna mendongkrak performa penjualan ekosistem perangkat keras yang masif ini, portofolio perangkat lunak eksklusif juga terus diperkuat. Salah satu judul permainan yang dipersiapkan untuk memikat pasar adalah Yoshi and the Mysterious Book yang telah resmi dirilis dan mendapatkan respons positif dari para kritikus.