Pandangan masyarakat global terhadap dunia gaming kompetitif kini mulai mengalami pergeseran yang signifikan. Industri yang dahulu sering kali diidentikkan dengan hobi pengisi waktu luang, kini mulai dipandang sebagai sebuah profesi yang menjanjikan.
Hasil riset global Logitech G PRO Series Survey, seperti dilansir dari Medcom, menunjukkan bahwa 65 persen responden memberikan dukungan terhadap penyediaan jalur pendidikan formal untuk karier di bidang esports dan gaming profesional.
Pengumpulan data tersebut dilakukan oleh Logitech G yang bekerja sama dengan Censuswide pada Januari 2026. Riset ini menjangkau 18 ribu responden yang tersebar di 12 negara, termasuk Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, hingga Brasil.
Laporan tersebut mencatat ada sekitar 54 persen responden global yang memandang gaming profesional sebagai sebuah jalur karier yang sah. Data ini merekam adanya perubahan persepsi publik terhadap industri esports yang kian dinamis.
Penerimaan terhadap profesi sebagai pemain gim profesional memperlihatkan adanya jurang perbedaan pandangan yang cukup mencolok antargenerasi.
Kelompok muda menunjukkan keterbukaan yang tinggi, di mana 67 persen Gen Z dan 60 persen Millennials sepakat bahwa esports merupakan bentuk karier yang valid. Sebaliknya, cara pandang ini hanya disetujui oleh 37 persen responden dari generasi Baby Boomers.
Perbedaan respons yang tajam juga terdokumentasi secara geografis di beberapa negara. Di Jerman, tercatat hanya sekitar 20 persen Baby Boomers yang menilai gaming profesional sebagai opsi karier yang layak, sementara di China angka dukungannya melonjak hingga 74 persen.
Global Communications Gaming Lead Logitech G, Derek Perez, menilai bahwa hasil survei ini menjadi penanda kuat bahwa esports telah bertransformasi melampaui batas hiburan konvensional.
"Riset ini menunjukkan seberapa jauh esports dan gaming telah berkembang, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai jalur menuju kesuksesan pribadi dan profesional. Namun masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendukung generasi muda yang ingin berkarier di dunia gaming profesional," ujar Derek Perez.Ia menilai keterlibatan dan dukungan dari sektor korporasi yang semakin masif akan membuka ruang serta peluang baru bagi masyarakat untuk menekuni sektor industri ini.
Tantangan Prestise dan Dukungan Lingkungan Sosial
Meskipun tren penerimaan positif terus merangkak naik, profesi sebagai atlet gim profesional rupanya belum mampu menandingi pamor pekerjaan konvensional.
Sektor pekerjaan seperti tenaga kesehatan, pengacara, guru, dan insinyur tetap mendominasi daftar pekerjaan paling bergengsi di tingkat global. Gaming profesional sendiri tertahan di angka 8 persen, setara dengan posisi musisi, aktor, pembalap profesional, serta politisi.
Rendahnya minat juga terlihat dari keengganan orang tua untuk membiarkan anak mereka terjun ke industri ini. Hanya ada sekitar 1 persen Baby Boomers dan 3 persen Gen X yang bersedia memberikan restu bagi anak atau kerabat dekat mereka untuk menjadi gamer profesional, sementara di kelompok Millennials angkanya hanya berada di 4 persen.
Meski demikian, citra industri ini dinilai terus membaik. Sekitar 40 persen responden melihat bahwa profesi gaming kompetitif saat ini jauh lebih memikat dibandingkan kondisi pada satu dekade yang lalu.
Hambatan Finansial dan Dorongan Kurikulum Sekolah
Logitech turut memetakan sejumlah faktor utama yang memicu keraguan masyarakat dalam menjadikan esports sebagai pilar mata pencaharian utama.
Faktor risiko finansial menjadi kendala terbesar yang disuarakan oleh 42 persen responden. Hambatan berikutnya adalah tingkat kompetisi industri yang dinilai terlampau ketat sebesar 34 persen, serta minimnya dukungan sosial dan orang tua yang mencapai 31 persen.
Di samping itu, sepertiga responden menyoroti persoalan ketidakpastian jaminan kerja, sedangkan 42 persen lainnya menilai publik masih sering memandang sebelah mata profesi ini sebagai sekadar kegemaran waktu luang.
Di tengah hambatan tersebut, keinginan agar esports masuk ke dalam institusi pendidikan formal tergolong cukup tinggi. Sebanyak 47 persen responden global berpendapat bahwa sekolah sudah sepatutnya mengintegrasikan kelas esports ke dalam kurikulum pengajaran resmi, berdampingan dengan mata pelajaran olahraga umum.
Aspirasi ini paling kuat disuarakan di negara China dan Swiss. Sebaliknya, beberapa negara di kawasan Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman cenderung bersikap lebih waspada dalam merespons wacana integrasi kurikulum tersebut.
Secara umum, sebanyak 65 persen responden global mendesak adanya program pendidikan resmi untuk industri esports yang difasilitasi lewat universitas, akademi, maupun lembaga kursus keahlian khusus.
Publik juga mulai menyadari tingkat kesulitan aktivitas ini, di mana 84 persen responden mengategorikan gaming profesional sebagai kegiatan yang menguras kemampuan mental, dan lebih dari separuhnya sepakat bahwa aktivitas ini menguras energi fisik.
Bahkan, sebanyak 27 persen responden meyakini bahwa seorang gamer profesional dapat menghabiskan waktu latihan berkisar antara 10 hingga 12 jam per hari. Durasi tersebut tercatat lebih panjang daripada alokasi waktu kerja standar di perkantoran.
Logitech menggarisbawahi bahwa pemenuhan akses terhadap fasilitas pelatihan yang memadai, dukungan infrastruktur, serta pemanfaatan teknologi terkini menjadi poin krusial demi mendorong akselerasi ekosistem esports.