Aktris Acha Septriasa memerankan karakter Amina dalam film terbarunya berjudul Suamiku Lukaku untuk menyuarakan pengalaman nyata para korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan. Pengungkapan pendalaman karakter tersebut disampaikan saat berkunjung ke kantor Suara.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat pada Senin, 18 Mei 2026.
Film yang diproduksi di Pangkal Pinang ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 27 Mei 2026, seperti dilansir dari Suara. Karya sinema garapan sutradara Ssharad Sharaan dan Viva Westi tersebut menitikberatkan pada pentingnya keberanian bagi korban untuk bersuara.
Melalui tokoh Amina, penonton diajak melihat dinamika hubungan toksik yang berakar dari trauma masa lalu kedua belah pihak. Penegasan mengenai latar belakang karakter utama tersebut disampaikan langsung oleh sang aktris utama dalam sesi wawancara.
"Film Suamiku Lukaku bercerita tentang seorang perempuan bernama Amina. Dia tumbuh di keluarga yang memang enggak terbiasa untuk melawan karena dari kecil melihat hubungan orang tuanya penuh kekerasan dan enggak ada rasa saling mendengarkan," kata Acha Septriasa membuka cerita.
Amina tumbuh dengan memendam luka karena menyaksikan ibunya menjadi korban kekerasan sang ayah sejak kecil. Kondisi psikologis tersebut menjadi semakin rumit setelah ia menikah dengan pria yang juga memiliki trauma masa kecil akibat kurangnya perhatian orang tua.
"Suaminya ini tumbuh di situasi yang keras juga karena dia enggak pernah menerima perhatian dan genuine support dari bapaknya. Jadi akhirnya hubungan mereka tuh sama-sama membawa luka yang bikin dinamika pernikahannya sangat toksik," beber Acha.
Pemilihan lokasi syuting di Pangkal Pinang didasari oleh realitas sosial wilayah tersebut yang memiliki angka kekerasan terhadap perempuan cukup tinggi. Sutradara dan tim produksi sengaja membawa pesan ini untuk merespons situasi nyata di lapangan.
"Ironisnya, Pangkal Pinang itu adalah satu kota dengan tingkat kekerasan perempuan tertinggi di seluruh Indonesia. Makanya aku pengin banget film ini bisa jadi suara juga buat perempuan-perempuan yang mungkin selama ini takut bicara," tutur sang aktris.
Melalui pesan dalam film ini, kaum perempuan diharapkan tidak lagi merasa takut untuk mencari bantuan dari lingkungan terdekat mereka ketika menghadapi situasi yang mengancam di dalam rumah tangga.
"Aku pengin banget menyuarakan bahwa kita sebagai perempuan bisa bersuara untuk stop kekerasan. Kalau merasakan hal-hal yang sudah membuat kita enggak nyaman, please let someone that close to you know supaya mereka bisa bantu dan nemenin kita," ucapnya.
Proses pendalaman karakter Amina dilakukan melalui diskusi intensif bersama sutradara serta melakukan riset mendalam mengenai kondisi psikologis korban kekerasan verbal maupun fisik.
"Aku melihat referensi perempuan dengan tekanan physical abuse dan verbal abuse seperti apa, lalu bagaimana psikis mereka ketika mengalami hal-hal itu. Jadi memang banyak diskusi juga sama sutradara supaya karakternya terasa hidup," jelas Acha.
Tim produksi juga menghadirkan sejumlah perempuan di Pangkal Pinang sebelum syuting dimulai untuk mendengarkan langsung kesaksian mereka mengenai kekerasan yang dialami dalam kehidupan nyata.
"Waktu sebelum syuting memang sudah didatengin banyak wanita-wanita juga sebagai bahan riset. Mereka cerita langsung tentang pengalaman mereka dan itu cukup membuka mata buat aku," ungkapnya.
Acha mengungkapkan bahwa kisah nyata yang didengarnya dari para korban di lapangan memiliki realitas yang jauh lebih kelam daripada visualisasi yang ditampilkan dalam adegan layar lebar.
"Ternyata parah-parah banget, bahkan lebih parah daripada adegan film yang kita tampilkan di bioskop. Jadi waktu dengar cerita mereka tuh sedih banget karena ternyata banyak yang benar-benar mengalami hal seperti itu," sambung dia.
Fokus utama film ini bukan sekadar mengeksploitasi penderitaan, melainkan menyoroti ketahanan dan perjuangan seorang perempuan untuk bangkit kembali.
"Cerita Suamiku Lukaku ini bukannya tentang perempuan tersiksa doang, tapi tentang perempuan yang bangkit kembali dari situasi pelik di keluarganya dan berusaha mencari jati dirinya lagi," ujar Acha.
Salah satu adegan yang dinilai paling menguras emosi dan menguras energi sang aktris adalah momen krusial di atas menara suar peninggalan Belanda di Pangkal Pinang.
"Karakter Amina ini ingin bunuh diri. Itu adegan yang frustrating banget dan membuat aku sebagai aktor merasa kewalahan karena emosinya berat banget," ujar Acha.
Di puncak menara dengan puluhan anak tangga melingkar tersebut, proses pengambilan gambar mengharuskan luapan emosi frustrasi dan keputusasaan karakter Amina tergambar secara total.
"Enggak tahu ingin melampiaskannya seperti apa, ketakutan, kekesalan, hopeless, semuanya campur jadi satu. Jadi adegan itu memang paling berbekas buat aku selama syuting," katanya.
Sebagian besar alur cerita film ini didominasi oleh konflik dan perdebatan esensial seputar pernikahan, dengan menyisakan sedikit momen manis di awal hubungan.
"Sebagiannya besar adalah proses perjalanan karakter yang memang mengandung banyak perdebatan dan hal-hal tentang pernikahan yang essential banget. Jadi emosinya benar-benar naik turun," ucapnya.
Film ini juga dinilai relevan bagi generasi muda agar lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sejak dini.
"Buat Gen Z juga penting nonton film ini. Semakin kalian bisa take the red flags, sebenarnya kalian bisa menghindari hal-hal yang nggak baik buat ke depannya dan belajar dari hubungan di film ini," tambah Acha.
Naskah kuat yang ditulis oleh Titin Wattimena menjadi alasan utama Acha Septriasa menerima proyek ini, di samping kenyamanan bekerja sama dengan sineas perempuan.
"Film ini berbicara tentang suara yang dibungkam. Tentang memecahkan keheningan untuk orang-orang yang enggak bisa mengungkapkan kesulitannya di dalam rumah tangga mereka sendiri," papar Acha.