Aktor Mark Ruffalo bersama sejumlah sineas papan atas Hollywood menyatakan penolakan keras terhadap rencana penggabungan bisnis antara Paramount dan Warner Bros pada Minggu (10/5/2026). Penolakan tersebut muncul melalui sebuah petisi dan tulisan opini yang menyoroti dampak buruk monopoli bagi para pekerja kreatif di industri film.
Rencana merger dua raksasa hiburan ini memicu gelombang protes dari kalangan aktor dan sutradara yang khawatir akan masa depan industri, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Sejauh ini, sebuah petisi yang menentang penyatuan tersebut telah mengumpulkan sekitar 4.000 tanda tangan sejak diluncurkan pada April lalu.
Mark Ruffalo mengungkapkan pandangannya bersama Matt Stoller, Direktur Riset American Economic Liberties Project, mengenai atmosfer ketakutan yang menyelimuti industri ini. Mereka menyebut banyak pihak yang sebenarnya tidak setuju namun memilih untuk bungkam karena merasa terancam oleh kekuatan besar korporasi.
"Hal yang paling membuka pikiran kita tentang surat itu bukanlah orang-orang yang menandatangainya. Melainkan orang-orang yang tidak menandatangainya. Bukan karena mereka tidak setuju, tetapi karena mereka takut," tulis Ruffalo dan Stoller.
Keduanya menekankan bahwa rasa takut tersebut telah menjadi hambatan utama bagi para seniman untuk menyuarakan pendapat mereka secara terbuka. Fenomena ini dinilai telah merusak iklim kerja di Hollywood bahkan sebelum kesepakatan resmi terjadi.
"Ada banyak alasan untuk memblokir kesepakatan ini, tetapi kami sekarang percaya bahwa alasan yang paling mendasar adalah apa yang kami temui ketika meminta para seniman untuk menggunakan suara mereka: rasa takut. Rasa takut yang mendalam, buruk, dan meluas untuk berbicara," lanjut mereka.
Dalam tulisan yang dirilis di The New York Times tersebut, Ruffalo memberikan peringatan keras mengenai potensi kehancuran tatanan industri jika konsolidasi ini tetap dilanjutkan. Ia menilai kerugian ekonomi dan hilangnya kebebasan berekspresi sudah mulai dirasakan oleh para praktisi saat ini.
"Orang jadi takut bersuara tentang industri mereka sendiri," kata Ruffalo.
Sejumlah nama besar seperti Robert De Niro, Sofia Coppola, Pedro Pascal, Florence Pugh, dan Edward Norton tercatat telah menandatangani petisi penolakan. Dukungan juga datang dari sutradara ternama seperti Yorgos Lanthimos dan Denis Villeneuve yang secara tegas mengambil posisi kontra terhadap rencana merger tersebut.
Ruffalo dan Stoller mengakhiri pernyataan mereka dengan ajakan kepada para kolega di industri film untuk terus berjuang melawan dominasi oligarki yang berpotensi mengontrol konten tayangan masyarakat secara luas.
"Kita bisa menang. Dan siapa yang tahu? Kalau kita bisa mengalahkan oligarki yang berusaha mengontrol serial TV dan film yang kita tonton, mungkin kita bisa melakukan hal yang sama di tempat lain juga," tutup mereka.
Saat ini, proses penggabungan Paramount dan Warner Bros masih berada dalam tahap peninjauan oleh otoritas persaingan usaha di Amerika Serikat dan Eropa. Langkah hukum berupa gugatan dari jaksa agung negara bagian berpotensi muncul untuk menghentikan transaksi tersebut demi mencegah praktik monopoli.