Andoni Iraola segera menjadi pelatih Liverpool setelah mencapai kesepakatan lisan pada hari Selasa terkait kontrak berdurasi dua tahun. Jangka waktu ini terhitung lebih pendek dari durasi kontrak yang biasanya diterima oleh manajer baru di level tertinggi sepak bola.
Kesepakatan verbal tersebut tercapai setelah berlangsungnya pembicaraan formal antara kedua belah pihak. Dilansir dari Suara, juru taktik asal Basque ini dikenal sebagai salah satu pelatih yang ingin segera mewujudkan ide-ide sepak bolanya di klub baru.
Langkah manajemen ini membawa tantangan tersendiri, namun membuat manajer seperti Iraola terhindar dari keharusan meminta tambahan waktu di industri sepak bola yang sering kali tidak sabar menuntut hasil instan.
Dalam menjalankan tugasnya di Anfield, Iraola tidak akan bekerja sendirian. Asisten pelatih Tommy Elphick dan Shaun Cooper diharapkan ikut bergabung ke dalam jajaran staf kepelatihan Liverpool.
Selain kedua asisten tersebut, gerbong kepelatihan Iraola juga akan diisi oleh figur lain. Pelatih kebugaran Pablo de la Torre serta analis taktik Tom Webber dilaporkan bakal turut merapat ke skuad Merseyside.
Iraola membeberkan alasan di balik keputusannya yang memilih durasi kontrak pendek tersebut. Pelatih berusia 43 tahun itu mengaku ingin terus membuktikan kelayakannya di setiap musim berjalan.
"I pikir hanya menandatangani kontrak, hanya untuk memiliki jaminan bahwa jika mereka mengontrak Anda, Anda akan menerima uang, saya tidak merasa – saya tidak akan merasa – benar-benar senang dengan ini. Saya pikir Anda harus mendapatkan hak itu setiap musim," kata Iraola melansir Sportbible, Rabu (3/6/2026).
Menurut Iraola, ikatan kerja di dunia kepelatihan sepak bola tetap bisa berakhir cepat apabila salah satu pihak sudah tidak merasa sejalan, terlepas dari berapa lama durasi sisa kontrak yang dimiliki sang manajer.
"Terkadang, bahkan jika Anda tidak mendapatkan hasil terbaik, mungkin klub sangat senang dengan whitening Anda dan mereka ingin melanjutkan, dan itu juga terjadi sebaliknya. Jadi saya pikir, dalam kasus seorang manajer, tidak masalah jika Anda memiliki tiga tahun lagi. Jika salah satu pihak tidak senang, biasanya akan terjadi perpisahan dari satu pihak atau pihak lain." ujar Iraola.
Iraola menilai bahwa hubungan kerja antara manajemen klub dan manajer tim idealnya dievaluasi secara berkala demi menjaga komitmen bersama.
"So setiap tahun harus seperti pembaruan kepercayaan dari kedua belah pihak dan, biasanya, seperti itulah." tutur Iraola.
Ketertarikan manajemen Liverpool terhadap kapabilitas Iraola sebenarnya sudah muncul sejak lama. Pemantauan tersebut dilakukan bahkan sebelum periode dua musim kepemimpinan Arne Slot di Anfield.
Iraola sendiri memiliki rekam jejak yang mumpuni saat menangani AFC Bournemouth. Di bawah arahannya, klub berjuluk The Cherries tersebut berhasil mencatatkan prestasi finis tertinggi di liga secara berturut-turut.
Bournemouth tercatat telah berkompetisi selama sembilan musim di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Iraola sukses mengantarkan tim pantai selatan itu menyamai posisi terbaiknya dengan finis di peringkat kesembilan pada musim 2024-25.
Performa Bournemouth semakin menanjak pada musim 2025-26 dengan berhasil finis di urutan keenam klasemen akhir. Hasil tersebut membuat mereka hanya terpaut tiga poin di belakang posisi Liverpool.
Keberhasilan menembus posisi enam besar membuat Bournemouth berhak mengamankan tiket kompetisi Eropa untuk pertama kali dalam sejarah klub pada musim mendatang.
Posisi yang ditinggalkan Iraola di Bournemouth akan diteruskan oleh mantan pelatih Borussia Dortmund dan RB Leipzig, Marco Rose, yang bakal memimpin tim tersebut mengarungi kompetisi Liga Europa.
Sementara itu, Iraola yang sejatinya bisa membawa Bournemouth ke Liga Champions andai hasil laga pekan terakhir berpihak pada mereka, kini resmi melangkah untuk memimpin Liverpool di kompetisi utama antarklub Eropa.