Anjasmara Luncurkan Parfum Harmel Setelah Alami Kejadian Kurang Menyenangkan

Anjasmara Luncurkan Parfum Harmel Setelah Alami Kejadian Kurang Menyenangkan

Aktor kawakan Anjasmara membagikan kisah di balik keputusannya untuk terjun langsung secara detail dalam mengembangkan produk wewangian miliknya. Pengalaman kurang menyenangkan di sebuah pusat perbelanjaan menjadi pemicu utama sang artis dalam menjaga kualitas produk yang ia rilis.

Dikutip dari Suara, suami dari Dian Nitami ini sempat kehilangan rasa percaya diri setelah mencoba produk wewangian yang menawarkan aroma terlalu pekat saat sedang berjalan-jalan di area pertokoan.

"Sempat saya nyobain disemprotin parfum ya di pertokoan gitulah. Semprot parfum, terus baunya terlalu strong," kata Anjasmara saat ditemui di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada Senin, 1 Juni 2026.

Lantaran merasa sangat terganggu dengan aroma yang menempel tersebut, pria berusia 50 tahun ini langsung bergegas mencari tempat untuk membersihkan diri.

"Jadi akhirnya saya, aduh gimana caranya saya buru-buru langsung ke toilet, cuci-cuci supaya wanginya hilang," bebernya.

Kejadian tersebut pada akhirnya membentuk standar baru bagi sang aktor dalam memilih keharuman yang ideal. Baginya, sebuah wewangian tidak harus memiliki aroma yang menusuk hidung untuk dapat memikat perhatian orang lain.

"Saya suka sesuatu hal yang soft tapi bener-bener punya sebuah statement yang kokoh gitu. Enggak mau baunya yang terlalu strong, enggak mau yang terlalu lembut. Maunya yang pas," tutur aktor 50 tahun tersebut.

Prinsip personal tersebut kemudian dibawa olehnya ke dalam proses produksi brand Harmel. Kendati demikian, merumuskan formula yang sesuai dengan ekspektasinya ternyata menuntut perjuangan yang tidak sebentar.

Anjasmara mengungkapkan bahwa sifat perfeksionis yang ia miliki bersama tim membuat masa pengembangan produk harus berjalan hingga satu setengah tahun.

"Oh iya (butuh waktu lama). Bahkan saya sebenarnya sempat putus asa karena tim saya penginnya yang perfect banget," katanya.

Ia juga tidak menampik bahwa dirinya merupakan sosok yang sangat pemilih dan menuntut hasil terbaik, sehingga setiap komponen harus melewati kurasi yang ketat.

"Saya termasuk perfeksionis juga soalnya," ucapnya.

Di antara tiga varian produk yang dipersiapkan, sektor parfum menjadi divisi yang paling menguras energi dan waktu akibat tingginya frekuensi bongkar pasang formula.

"Trial error yang paling lamanya sebenarnya kalau yang paling lama itu ada di perfume kayaknya. He-eh. Parfum paling lama. 'Ini baunya enggak enak', 'ini kurang', terus sudah gitu 'ini wanginya sebentar', 'ini kurang gini, kurang gitu'," tuturnya.

Guna memastikan kelayakan dan kenyamanan sebelum dilepas ke pasaran, Anjasmara bahkan menguji coba sendiri formula akhir tersebut selama setengah tahun penuh.

"Aku juga sudah kebetulan kan produk ini sudah setahun, jadi sudah sekitar enam bulan terakhir ini aku selalu pakai gitu. Karena aku harus coba dulu nih, ini beneran sesuai dan beneran nyaman enggak dipakainya. Kalau misalkan enggak nyaman, ya masa kita harus launching, kan nanti yang ada jadi malu-maluin," jelas Anjasmara.

Baginya, penentuan aroma tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena wewangian serta deodoran merupakan dua elemen krusial yang wajib menemani aktivitas harian setiap orang.

"Parfum dan deodoran, itu yang paling penting," imbuh Anjasmara.

Artikel terkait

Rekomendasi