Pebulutangkis tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting memberikan kepastian mengenai kelanjutan kariernya di dunia badminton. Atlet berusia 29 tahun tersebut menyatakan secara tegas bahwa dirinya belum memiliki rencana untuk gantung raket dalam waktu dekat.
Seperti dikutip dari Detik Sport, hasrat untuk meraih prestasi tertinggi menjadi alasan utama dirinya tetap bertahan. Keinginan untuk kembali menapakkan kaki di podium juara diakui masih sangat besar.
Langkah Anthony Ginting pascapulih dari cedera bahu memang diwarnai dinamika performa yang naik turun. Dirinya mengakui belum mampu kembali ke tingkat penampilan terbaiknya dalam beberapa kejuaraan terakhir.
Secara kondisi fisik, sang pemain sebenarnya berada dalam status siap tanding. Namun, pencapaian di berbagai turnamen sepanjang tahun ini dinilai masih belum maksimal olehnya.
Statistik mencatat Anthony Ginting baru satu kali menembus babak semifinal pada tahun ini. Prestasi tersebut diraih saat berlaga di turnamen Super 300 Swiss Open, sementara pada kompetisi lain ia sering terhenti di babak 32 dan 16 besar.
Penurunan performa dan hilangnya rasa percaya diri akibat hasil yang tidak sesuai ekspektasi kerap menjadi pemicu seorang atlet untuk rehat. Kendati demikian, situasi tersebut tidak menggoyahkan komitmen peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 ini.
Keputusan untuk terus bertahan di lapangan disampaikan langsung saat berada di pemusatan latihan nasional. Dirinya memastikan fokusnya saat ini adalah tetap menjalani program latihan yang ada.
"Enggak ada sih. Kalau planning berhenti dalam waktu dekat, enggak ada lah, memang dari saya pribadi keinginannya masih besar," kata Ginting saat ditemui di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur.
Keseriusan tersebut dibuktikan dengan kepatuhannya dalam melakoni seluruh menu latihan dari tim pelatih. Ginting mempercayakan proses kebangkitannya pada sistem yang telah dirancang oleh PBSI.
"Sisanya tinggal tunggu waktu sih, kayak kemarin saya mengobrol sama Koh Indra setelah kalah di Malaysia Masters, jujur sempat ngedrop juga karena kan terlepas siapa pun lawannya, kalau merasakan kalah terus pasti ngedrop juga," tutur juara Asia 2023 tersebut.
Faktor lingkungan dan jajaran pelatih di pelatnas diakui memberikan dampak besar bagi mental bertandingnya. Dukungan moral secara konsisten terus diberikan demi mengembalikan kepercayaan diri sang atlet.
"Bersyukurnya punya pelatih seperti Koh Indra (Widjaja) dan pelatih-pelatih lain, tetap support. Mereka tidak yang ... tetap ada evaluasi cuma buat membangun kepercayaan diri kan tak bisa sehari, semalam dua malam, atau seminggu dua minggu."
"Dari saya pribadi dari lingkungan sekitar juga harus terus positif, dan support. Jadi itu yang terus dibangun setiap harinya di latihan dan di luar lapangan," lanjutnya.
Selain motivasi dari aspek teknis di arena fungsional, dorongan eksternal juga diperoleh dari keluarga kecilnya. Kehadiran sang buah hati diakui menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan psikologisnya.
"Bersyukurnya sekarang sudah punya anak jadi tak terlalu dipikirkan. Kalau dulu setiap habis kalah di asrama, lagi makan, atau di kamar pasti kepikiran. Sekarang pun tetap kepikiran juga (kalau habis kalah), tapi teralihkan sama anak," kata Ginting.
Keberadaan keluarga kini bertransformasi menjadi energi positif baru bagi kelanjutan karier profesionalnya. Target personal kini dipatok demi sang anak.
"Jadi punya keluarga dan anak itu menjadi bentuk motivasi dan semangat juga. Kayak salah satu motivasinya ingin bawa Ethan ke podium, dan podium-podium lainnya karena ada tujuannya," Ginting menegaskan.