Penyerang tim nasional Ghana Antoine Semenyo mengungkapkan rasa frustrasinya setelah berulang kali ditolak oleh sejumlah akademi klub Liga Inggris selama masa mudanya sebelum akhirnya berhasil menembus level tertinggi sepak bola profesional.
Semenyo tercatat pernah menjalani uji coba di Arsenal, Tottenham Hotspur, Chelsea, Fulham, Millwall, dan Crystal Palace saat berusia 11 hingga 15 tahun.
Kegagalan beruntun tersebut sempat membuatnya putus asa hingga memutuskan berhenti bermain bola selama satu tahun demi fokus pada sekolah.
"I went to quite a few academies between 11 and 15. Arsenal, Tottenham, Chelsea, Fulham, Millwall. Crystal Palace was my last trial at 15," kata Antoine Semenyo kepada FIFA.
Semenyo menambahkan bahwa durasi uji coba yang cukup lama di Crystal Palace tidak membuahkan kontrak profesional, yang memicu kekecewaan mendalam bagi dirinya kala itu.
"I went there for two months, didn't get in, and (was) very frustrated that I wasn't signed by any of the teams. I just ended up giving it up and focusing on school. I gave up for the year, enjoyed just being normal." ujar Antoine Semenyo.
Setelah setahun vakum, mantan pelatih Leeds United Dave Hockaday mengajaknya kembali bermain di South Gloucestershire and Stroud College hingga akhirnya direkrut Bristol City pada 2017.
Karier Semenyo mulai menanjak setelah dipinjamkan ke Bath City, Newport County, dan Sunderland, sebelum bersinar di AFC Bournemouth dengan mencetak 30 gol dari 101 laga, lalu pindah ke Manchester City pada Januari seharga lebih dari 60 juta poundsterling.
Kesuksesan di level klub melandasi ambisi besar pemain berusia 26 tahun tersebut menjelang putaran final Piala Dunia 2026 bersama negaranya.
"It’s surreal to be honest. I speak to my friends about it all the time. I didn't think I would ever make it this far," tutur Antoine Semenyo.
Pemain yang lahir dan besar di Inggris ini memilih membela tanah kelahiran orang tuanya sejak Mei 2022 dan sempat tampil di Piala Dunia 2022 Qatar.
"I thought just being a professional was enough – signing for Bristol City was enough for me. So, to say that I'm going to (another) World Cup… yeah, it's amazing." ucap Antoine Semenyo.
Semenyo menegaskan motivasi tinggi skuad Black Stars untuk membuktikan kualitas mereka di turnamen global mendatang setelah tergabung di grup yang sama dengan Inggris.
"It will just feel normal. I don't think I'll feel anything. I think if anything, I'll just want to win, and just prove that we can compete with the top nations. I don't think it changes anything for me, but I know playing against my friends, I want to prove my point. I want to show that we are a top nation, we can play together, and we can beat all the top teams." kata Antoine Semenyo.
Kekecewaan akibat gagal melaju ke Piala Afrika 2025 menjadi pemacu bagi tim nasional Ghana untuk tampil habis-habisan di panggung dunia.
"We were so frustrated that we didn't qualify. It was very, very tough. But I feel like we've rectified that in terms of qualifying for the World Cup. But, we're not just coming to the World Cup, we want to compete on all levels. I feel like everyone in the team is ready to go. For us, we can compete with these teams. It's just [about] winning games, having fun and showing the nation what we can do." ujar Antoine Semenyo.
Di sisi lain, performa impresif Semenyo yang mencetak 16 gol liga musim ini berbanding terbalik dengan statistiknya di tim nasional yang baru mengemas tiga gol dari 34 laga, termasuk saat kalah 2-0 dari Meksiko dalam laga persahabatan pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Analis olahraga Nomso Obiajuru lewat tulisan di yen.com.gh menilai pelatih Ghana Carlos Queiroz harus mendesain ulang struktur taktik dengan menempatkan Semenyo di sisi kanan penyerangan guna memaksimalkan potensinya di Piala Dunia 2026.