Pelatih Timnas Irak Graham Arnold mengkritik kebijakan AFC terkait pelaksanaan putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia pada Oktober 2025 yang dinilai sangat merugikan Timnas Indonesia. Arnold menyoroti perubahan aturan lokasi pertandingan dan jadwal yang membuat skuad Garuda memiliki waktu persiapan paling minim dibandingkan tim lain di Grup B.
Kritik tersebut disampaikan Arnold melalui siniar The Howie Games yang tayang di YouTube pada Selasa, 5 Mei 2026. Ia mengungkapkan adanya kejanggalan dalam penentuan tuan rumah grup yang melibatkan Irak, Indonesia, dan Arab Saudi saat itu.
"Ketika saya menghadiri undian di awal kampanye bersama Australia, kami diberi tahu bahwa playoff akan diadakan di tempat netral," ungkap Arnold.
Namun, kebijakan tersebut berubah saat pengundian resmi dilakukan. AFC menetapkan dua tim dengan peringkat FIFA tertinggi per 13 Juni 2025 sebagai tuan rumah, yang seharusnya menempatkan Qatar (peringkat 53) dan Irak (peringkat 57) di posisi tersebut.
"Saya pikir itu bagus, kami akan menjadi tuan rumah, karena Qatar berada di peringkat 53, Irak 57, dan Arab Saudi 58. Namun entah bagaimana, Arab Saudi justru menjadi tuan rumah grup tersebut," tutur Arnold.
Keputusan penunjukan Arab Saudi sebagai tuan rumah dianggap memberikan keuntungan tidak adil. Arnold menekankan bahwa Indonesia menjadi pihak yang paling menderita karena jadwal kedatangan pemain yang sangat mepet dengan hari pertandingan.
"I mungkin tidak akan pernah menerima pekerjaan ini kalau mereka sudah lolos dalam 10 tahun terakhir. Fakta bahwa mereka belum lolos selama 40 tahun menunjukkan betapa besarnya tantangan yang akan saya hadapi," ujar Arnold.
Pria berusia 62 tahun itu merinci bahwa beberapa pemain Indonesia baru tiba di Arab Saudi pada hari Selasa, sementara pertandingan krusial melawan tuan rumah berlangsung pada Rabu malam. Situasi ini dinilai sangat timpang jika dibandingkan dengan waktu pemulihan tim lain.
"Tapi ketika pengundian resmi dilakukan, tiba-tiba aturannya berubah. Dua tim berperingkat tertinggi akan menjadi tuan rumah," katanya.
Arnold menambahkan bahwa ketidakadilan ini berlanjut pada laga-laga berikutnya di grup tersebut. Ia merasa prihatin dengan kondisi fisik para pemain Indonesia yang harus berpindah dari Arab Saudi ke Qatar dalam waktu singkat.
"Play-off berlangsung di Saudi dan Qatar, saya harus bilang saya benar-benar merasa sangat kasihan pada Indonesia di grup kami. Hal itu karena benar-benar tidak adil," ujar Arnold.
Ketimpangan jadwal juga dirasakan oleh skuad Irak saat harus menghadapi Arab Saudi. Arnold mencatat perbedaan signifikan dalam jumlah hari istirahat antar tim yang bertanding.
"I felt very sorry for Indonesia in our group because that playoff situation was completely unfair. They had to play in Saudi Arabia and Qatar," ucap Arnold.
Irak sendiri akhirnya menang melawan Indonesia pada hari Sabtu. Namun, Arnold mengeluhkan singkatnya jeda waktu sebelum mereka menghadapi Arab Saudi di laga penentu.
"Sementara itu, kami bermain melawan Indonesia pada Sabtu dan mengalahkan mereka," jelas dia.
Keunggulan waktu istirahat yang dimiliki Arab Saudi mencapai satu pekan penuh. Hal ini dianggap sebagai faktor krusial yang mempengaruhi hasil akhir klasemen Grup B.
"Di sisi lain, Arab Saudi memiliki waktu istirahat enam atau tujuh hari, sedangkan kami harus menghadapi mereka hanya dua atau tiga hari setelah pertandingan kami melawan Indonesia," jelas Arnold.
Pernyataan ini muncul setelah Arnold sukses membawa Irak mengakhiri penantian 40 tahun untuk lolos ke putaran final Piala Dunia. Irak memastikan tempat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko setelah melalui jalur playoff antarkonfederasi.
"Kami kemudian bermain melawan Indonesia Sabtu malam dan menang, Saudi mendapat istirahat enam hingga tujuh hari. Sementara kami hanya punya dua hingga tiga hari sebelum menghadapi Saudi," ucap Arnold.
Pada klasemen akhir putaran keempat Grup B, Arab Saudi lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 sebagai juara grup. Sementara itu, Indonesia harus tersingkir setelah menempati posisi terbawah grup tersebut.