Arsenal menghadapi juara bertahan Paris Saint-Germain dalam pertandingan final Liga Champions yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, pada Sabtu malam, 30 Mei 2026.
Pertandingan puncak ini terpaksa dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu setelah kedua tim bermain imbang 1-1 selama 90 menit penuh.
Arsenal unggul lebih dulu pada menit keenam melalui gol penyerang tim nasional Jerman, Kai Havertz, setelah memanfaatkan bola pantul dari Leandro Trossard.
Gol tersebut membuat Havertz mencatatkan sejarah sebagai pemain Jerman pertama di era modern yang mencetak gol dalam dua laga final Liga Champions yang berbeda.
Dilansir dari Guardian sebelum pertandingan, Havertz mengutarakan impian masa kecilnya terkait laga final.
"Saat kecil, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan mencetak gol di final dan memenangkan pertandingan. Saya akan selalu bangga akan hal itu. Saya hanya berusaha membawa perasaan ini, dan berharap hal itu akan terjadi lagi," kata Havertz kepada Guardian.
Mantan kapten Arsenal, Thierry Henry, juga sempat memberikan pujian khusus kepada penyerang asal Jerman tersebut menjelang pertandingan puncak.
"Dia memiliki bakat untuk mencetak gol-gol penting," kata Henry kepada Bild.
Legenda Arsenal tersebut kemudian menguraikan kelebihan taktis serta kecerdasan bermain yang dimiliki oleh sang penyerang di lapangan.
"Dia terus-menerus memberikan tekanan, memahami permainan dengan sangat baik berkat kecerdasan sepak bolanya yang tinggi. Dia menggunakan otaknya. Hal ini membuatnya bisa ditempatkan di berbagai posisi. Semoga Havertz bisa bebas dari cedera untuk sementara waktu." kata Henry melanjutkan.
Paris Saint-Germain baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-65 melalui eksekusi penalti Ousmane Dembélé setelah Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan oleh Cristhian Mosquera di kotak terlarang.
Sebelum jalannya laga, legenda Arsenal lainnya, Martin Keown, sempat menyarankan tim untuk menurunkan Jurrien Timber demi meredam agresivitas serangan Kvaratskhelia.
"Saya menyaksikan pertarungannya dengan Kvaratskhelia musim lalu. Saya pikir dia menjalani pertarungan yang sangat sengit. Mungkin dia satu-satunya pemain di dunia sepak bola yang mampu menghadapinya, jadi saya pikir karena itulah dia diberi lebih banyak waktu bermain," ujar Keown dikutip dari Football London.
Mantan bek Arsenal tersebut juga menilai atribut fisik dan kelincahan yang dimiliki Timber menjadi faktor pembeda meskipun sang pemain baru pulih dari cedera panjang.
"Biasanya, seseorang yang absen selama itu, Anda akan berkata, 'oke, sudah terlambat', karena dia belum bermain selama 14 pertandingan. Tapi dia pemain yang cukup unik. Mobilitasnya dan cara dia mampu merebut bola, dan dia sangat agresif dan merupakan bek yang suka melakukan kontak fisik," jelas Keown.
Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, mengonfirmasi kesiapan kebugaran Timber serta Noni Madueke untuk tampil sebagai starter dalam konferensi pers sebelum pertandingan.
"[Timber] sudah bugar. [Untuk menjadi starter?] Ya." jawab Arteta singkat.
Arteta juga mengakui bahwa antusiasme seluruh anggota tim sangat tinggi untuk menghadapi pertandingan terbesar di kancah sepak bola Eropa tersebut.
"Itu karena saya melihat ke sekeliling dan melihat kegembiraan serta keinginan yang dimiliki semua pemain untuk bermain dalam pertandingan ini. Kita semua tahu bahwa ini adalah pertandingan terbesar dalam sepak bola, dan semua orang ingin menjadi bagian darinya. Mereka semua memahami apa yang dibutuhkan dan juga betapa pentingnya peran setiap orang untuk memberikan dampak saat dibutuhkan." tambah Arteta.
Meskipun tekanan di partai final sangat besar, keberhasilan menjuarai kompetisi domestik dinilai Arteta menjadi modal utama motivasi para pemainnya.
"Persiapannya sangat, very bagus, sangat fokus, dan sangat positif," tambahnya.
Arteta menekankan pentingnya perjuangan di atas lapangan hijau demi bisa menorehkan tinta emas baru dalam sejarah panjang klub berjuluk The Gunners tersebut.
"Kami berada di sini karena kami telah berhak berada di sini berkat cara kami bermain dan tampil di kompetisi ini, dan besok di lapangan itu kami harus berjuang untuk berhak memenangkan trofi." kata manajer Arsenal tersebut.
Manajer asal Spanyol itu menegaskan target utama timnya untuk meraih prestasi tertinggi dengan mengamankan dua gelar sekaligus dalam satu musim.
"Itu [menjuarai dua gelar] akan berarti sesuatu yang baru bagi kami semua. Kami tahu betapa sulitnya menulis sejarah baru di klub seperti Arsenal. Itulah tujuannya dan itulah mengapa kami semua sangat bersemangat dan memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkannya." tutur Arteta menutup.
Selain mencatatkan nama pencetak gol, bursa transfer Liga Premier juga mencatatkan nama pemain-pemain dengan nilai transfer termahal sepanjang sejarah kompetisi.
| Pemain | Posisi | Klub sebelumnya | Klub baru | Tahun | Biaya transfer |
|---|---|---|---|---|---|
| Aleksander Isak | Penyerang | Newcastle United FC | Liverpool | 2025 | 145 juta euro |
| Florian Wirtz | Gelandang | Bayer Leverkusen | FC Liverpool | 2025 | 125 juta euro |
| Enzo Fernandez | Gelandang | Benfica FC | Chelsea | 2023 | 121 juta euro |
| Jack Grealish | Penyerang | Aston Villa | Manchester City | 2021 | 117,5 juta euro |
| Declan Rice | Gelandang | West Ham United FC | Arsenal | 2024 | 116,6 juta euro |
| Moises Caicedo | Gelandang | Brighton & Hove Albion | FC Chelsea | 2023 | 116 juta euro |
| Romelu Lukaku | Penyerang | Inter Milan | FC Chelsea | 2021 | 113 juta euro |
| Paul Pogba | Gelandang | Juventus | Manchester United | 2016 | 105 juta euro |
| Kai Havertz | Penyerang | Bayer Leverkusen | FC Chelsea | 2020 | 100 juta euro |
| Hugo Ekitike | Serangan | Eintracht Frankfurt | FC Liverpool | 2025 | 95 juta euro |
Pertandingan babak perpanjangan waktu berjalan dengan intensitas tinggi hingga memaksa beberapa pemain seperti Vitinha dan Piero Hincapie mengalami cedera fisik.