Penantian panjang selama 22 tahun akhirnya berakhir setelah Arsenal resmi menobatkan diri sebagai kampiun Liga Inggris atau Premier League 2025/2026.
Keberhasilan tim asuhan Mikel Arteta ini didorong oleh konstruksi taktik pertahanan paling kokoh yang pernah disaksikan dalam sejarah sepak bola modern.
Seperti dikutip dari Suara, mesin pemenang ini tidak mengandalkan estetika permainan menyerang, melainkan disiplin pertahanan baja dan dominasi mematikan dalam situasi bola mati.
Catatan kebobolan Arsenal menjadi sorotan utama karena hanya menyentuh angka 26 gol sepanjang musim ini berdasarkan data dari ESPN.
Statistik tersebut menempatkan lini belakang Meriam London sejajar dengan rekor pertahanan terbaik dalam sejarah liga, melampaui standar minimal tim penghuni tiga besar.
Meski publik sering merindukan gaya sepak bola menyerang bebas era Arsene Wenger, tim asuhan Arteta ini terbukti jauh lebih efisien dalam mengamankan poin.
Hal ini diperkuat dengan data expected goals (xG) kebobolan yang hanya berada di angka 27, sebuah jarak kualitas yang sangat jauh jika dibandingkan dengan Manchester City.
Bahkan, jika ditarik ke level Eropa, Arsenal tercatat hanya kebobolan 0,4 gol per pertandingan di Liga Champions, catatan yang hanya bisa didekati oleh Chelsea musim 2020/2021.
Ketangguhan ini lahir karena tim lawan hampir mustahil menciptakan peluang berkualitas tinggi saat menghadapi mereka.
Arsenal tercatat hanya mengizinkan 15 peluang besar sepanjang musim, angka terendah bagi tim Liga Inggris mana pun sejak 2010.
Total Football Bergaya Pragmatis
Keunikan lain dari taktik Arteta adalah kemampuannya mempertahankan penguasaan bola sebesar 62,4 persen di sepertiga akhir lapangan lawan.
Angka ini tergolong sangat tinggi untuk sebuah tim yang gaya bermain utamanya dianggap pragmatis dan sangat berorientasi pada aspek pertahanan.
Berbeda dengan tim lain yang menjauhkan bola dari gawang untuk bertahan, Arsenal justru mempersulit lawan melepaskan tembakan setelah mereka masuk ke area pertahanan.
Strategi ini bisa berjalan mulus karena setiap pemain, termasuk barisan penyerang, diwajibkan Arteta untuk ikut bekerja keras saat kehilangan bola.
Bukayo Saka menjadi simbol filosofi tersebut dengan mencatatkan total 153 tekel dan intersepsi, angka luar biasa bagi seorang pemain depan.
Sebagai perbandingan, gabungan tekel dan intersepsi dari bintang dunia seperti Harry Kane, Kylian Mbappe, dan Mohamed Salah hanya menyentuh angka 151.
Arteta tampaknya mengadopsi filosofi aman di belakang dengan meminimalisir risiko melalui umpan silang lapangan yang hanya dilakukan sebanyak 59 kali.
Sebagian besar umpan panjang justru dimainkan oleh David Raya atau bek tengah agar seluruh pemain tetap berada di belakang bola jika umpan tersebut gagal dimenangkan.
Efisiensi di Atas Segalanya
Gaya bermain yang sangat terkontrol dan defensif ini memiliki konsekuensi pada produktivitas gol di permainan terbuka atau open play.
Hingga pekan ke-37, The Gunners baru mengoleksi 41 gol dari permainan terbuka, angka yang relatif rendah bagi tim berstatus juara liga.
Namun, keterbatasan tersebut tertutupi dengan sempurna melalui penguasaan bola mati yang menjadi senjata rahasia paling mematikan milik Arsenal musim ini.
Integrasi antara pengaruh taktik Pep Guardiola dalam penguasaan bola dan gaya pragmatis ala David Moyes dalam bertahan menciptakan formula juara yang unik bagi Meriam London.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa identitas sebuah tim tidak harus selalu mengikuti tren menyerang total untuk bisa meraih prestasi tertinggi di dunia.
Kini, Arsenal telah menetapkan standar baru tentang bagaimana sebuah gelar juara bisa diraih melalui organisasi tim yang sangat rapat dan minim celah.