Arsenal Melaju ke Final Liga Champions Usai Kalahkan Atletico Madrid

Arsenal Melaju ke Final Liga Champions Usai Kalahkan Atletico Madrid

Arsenal memastikan tempat di final Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2006 setelah mengalahkan Atlético de Madrid dengan skor 1-0 pada leg kedua semifinal di London Utara, Selasa (5/5/2026). Gol tunggal Bukayo Saka membawa The Gunners unggul agregat 2-1.

Kemenangan tipis tersebut diraih melalui penyelesaian jarak dekat Saka di pengujung babak pertama. Hasil ini memperpanjang rekor tidak terkalahkan Arsenal di Liga Champions menjadi 14 pertandingan, sekaligus menyamai rekor 41 kemenangan klub dalam satu musim yang pernah dicapai pada 1970/71.

Pertandingan berjalan ketat sejak awal dengan dominasi tuan rumah, meski tim tamu sempat mengancam melalui Julián Alvarez pada menit kedelapan. Kebuntuan pecah saat tendangan Leandro Trossard ditepis Jan Oblak, yang kemudian disambar oleh Saka untuk menjadi gol penentu kemenangan.

Gelandang Arsenal, Declan Rice, terpilih sebagai pemain terbaik dalam laga ini. Pengamat teknis UEFA, Joe Terry, memberikan penilaian tinggi atas kontribusi pemain internasional Inggris tersebut dalam mengatur permainan tim sepanjang laga.

"He showed sharp positional awareness and decision-making and did well in connecting defence and attack. His was a consistent performance with and without the ball while displaying great leadership and communication." puji Joe Terry, match reporter.

Mikel Arteta juga mendapat apresiasi atas keberanian timnya yang tetap bermain menyerang di babak kedua. Pola permainan tersebut dinilai berhasil meredam agresivitas lawan dan menjaga keunggulan hingga peluit panjang dibunyikan.

"It's so beautiful, you can see what it means to us, what it means to the fans. We're all so happy. This was a high-pressure game. It meant a lot to both sides, we managed it well and take ourselves to the final." ujar Bukayo Saka, pencetak gol Arsenal.

Saka menjelaskan bahwa insting untuk tetap waspada di depan gawang menjadi kunci keberhasilannya memanfaatkan bola muntah. Ia mengaku sangat bahagia bisa membawa timnya melangkah ke partai puncak kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut.

"In those situations I just try and stay alive. Sometimes it bounces for you, sometimes it doesn't, but you have to be there, and I was there." tambah Saka kepada Amazon Prime.

Kebahagiaan serupa disampaikan oleh Declan Rice yang menekankan pentingnya pencapaian ini bagi sejarah klub. Rice menganggap momen ini sebagai hasil kerja keras seluruh tim sepanjang turnamen berlangsung.

"It's an incredible feeling" cetus Declan Rice.

Rice menambahkan bahwa prestasi ini tidak boleh diremehkan mengingat gengsi besar yang dimiliki Liga Champions. Ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari skuad yang mengukir sejarah baru bagi publik Emirates.

"I don't think you can underestimate what we've done in this competition up to this point. We've every right to celebrate, it's such a big moment. The Champions League is the most prestigious tournament and it's a proud moment for the club and the boys." jelas Declan Rice, gelandang Arsenal.

Pelatih Mikel Arteta menyebut malam pertandingan tersebut sebagai momen luar biasa bagi semua pihak yang terlibat. Arsenal kini menatap final kedua sepanjang sejarah klub yang akan digelar di Budapest akhir Mei mendatang.

"An incredible night. We've made history together. I could not be happier for everyone involved. We knew how much it meant to everyone. After 20 years and for the second time in our history, we're in the Champions League final." ungkap Mikel Arteta, manajer Arsenal.

Di sisi lain, kubu lawan mengakui keunggulan Arsenal meski telah berupaya maksimal di babak kedua. Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, menilai sang lawan pantas lolos karena mampu memaksimalkan peluang yang ada.

"The team gave absolutely everything. If we got knocked out, it's because our opponents deserved to get through. They took their chances, including their big chance in the first half." kata Diego Simeone, pelatih Atleti.

Kekecewaan juga menyelimuti penjaga gawang Jan Oblak yang merasa timnya tampil terlalu berhati-hati pada paruh pertama. Meski performa membaik setelah jeda, upaya tersebut tidak cukup untuk membalikkan keadaan.

"I think the second half was good, like in Madrid as well. In the first half, maybe we paid a little bit too much respect and were afraid to play. The second half was good, but it was not enough to get to the final. We are sad, but it's football. Arsenal were better, and they're in the final." pungkas Jan Oblak, kiper Atleti.

Arsenal kini menunggu pemenang antara Bayern Munchen dan Paris Saint-Germain untuk dihadapi pada partai final. Laga puncak dijadwalkan berlangsung di Puskás Aréna, Budapest, pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi