Petenis tunggal putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, memastikan diri melangkah ke babak perempat final turnamen Grand Slam Prancis Terbuka 2026 setelah menundukkan rivalnya, Naomi Osaka, di Lapangan Roland Garros, Paris.
Berdasarkan laporan dari mediaindonesia.com, Sabalenka memenangkan pertandingan babak keempat tersebut dalam dua set langsung dengan skor akhir 7-5 dan 6-3. Hasil ini sekaligus memperpanjang catatan keunggulan petenis asal Belarusia tersebut menjadi tiga kemenangan beruntun atas Osaka sepanjang musim kompetisi 2026.
Sebelum melangkah ke babak delapan besar, performa Sabalenka di lapangan tanah liat Paris tercatat cukup dominan sejak babak-babak awal. Dilansir dari wtatennis.com dan rolandgarros.com, petenis berusia 28 tahun itu mengalahkan Jessica Bouzas 6-4, 6-2 di babak pertama, lalu menumbangkan wakil tuan rumah Elsa Jacquemot dengan skor 7-5, 6-2 di babak kedua.
Ketika menghadapi Jacquemot di Lapangan Philippe-Chatrier, Sabalenka sempat mendapatkan perlawanan sengit sebelum akhirnya mengamankan delapan dari sepuluh game terakhir dan membukukan total 45 pukulan winners.
"That was a tricky match from a tricky opponent," kata Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan penuh penonton tuan rumah kepada Jacquemot memaksa dirinya untuk segera meningkatkan level permainan di atas lapangan.
"She played really incredible tennis, forced me to step in and play it on another level. I'm happy I could handle it and get the win." ujar Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Guna mengatasi situasi ketat tersebut, petenis yang juga menjadi runner-up turnamen ini pada musim 2025 tersebut mengaku harus mengandalkan pergerakan kaki yang cepat.
"I was just trying to remind myself that I'm really strong, and I can handle it, and that I have to work as fast as possible with my legs," tutur Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Ia tetap berupaya menjaga ritme permainan agresif untuk memberikan tekanan konstan kepada sang lawan.
"Just accelerate the racquet, and try to put the balls back on that side, try to stay aggressive, and put as much pressure as I can on her." ucap Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Keberhasilan melewati momen-momen krusial di babak awal menjadi modal penting bagi Sabalenka untuk mematangkan rasa percaya dirinya di Paris.
"I'm super happy that I was able to raise the level in those really tight and key moments of the match," ujar Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Kemenangan atas Osaka di babak keempat kemudian dirayakan Sabalenka dengan melakukan tarian koreografi lagu "Thriller" milik Michael Jackson atas permintaan komentator Fabrice Santoro di tengah lapangan.
"Di sini?" tanya Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Aksi selebrasi tersebut disambut riuh oleh para penonton yang memadati stadion setelah sang petenis memberikan syarat khusus.
"Hanya jika semua orang [di stadion] ikut menari," ujarnya, Petenis Nomor Satu Dunia.
Sabalenka pun menutup aksinya dengan gerakan moonwalk dan langsung membagikan momen kebahagiaan tersebut kepada para penggemar melalui akun media sosial pribadinya.
"Semuanya, menarilah." tambah Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Di sisi lain, Naomi Osaka menerima hasil minor ini dengan sikap legawa meski dirinya mencatatkan rekor buruk setiap kali bertemu dengan Sabalenka.
"Tetapi saya agak menyadari bahwa itu tidak penting sama sekali," kata Osaka, Petenis Jepang.
Pemegang empat gelar Grand Slam tersebut menegaskan bahwa dirinya hanya akan fokus untuk terus memberikan penampilan terbaik di setiap turnamen tanpa terbebani hasil akhir.
"Saya telah melawannya berkali-kali dan sayangnya harus kalah berkali-kali. Satu-satunya hal yang bisa terus saya lakukan adalah mencoba yang terbaik. Mungkin, mudah-mudahan, suatu hari nanti hasilnya akan menguntungkan saya. Namun, saya tidak boleh membiarkan diri saya berkecil hati setiap kali kalah atau menang melawan seseorang. Karena sejujurnya, memukul bola itu tidak terlalu penting, seperti, di bumi ini, kasarnya." jelas Osaka, Petenis Jepang.
Selain fokus pada performa teknis, Sabalenka juga sempat merespons sorotan publik terkait penggunaan perhiasan mewah seberat 200 karat pada babak pertama, yang dinilai kontradiktif dengan suaranya yang menuntut kenaikan hadiah uang bagi petenis.
"I don't think because I'm not really focusing on that and I'm not really overthinking, I was able to kind of separate myself from what's going on this year at Roland Garros," ujar Aryna Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Sabalenka menegaskan bahwa fokus utamanya di Roland Garros tahun ini adalah berjuang memperebutkan trofi juara utama.
"I'm bringing my best level that I have, and I'm there, I'm fighting, and you know, I'm doing everything I can to get this trophy," kata Aryna Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Terkait kontroversi hadiah uang tersebut, ia mengklarifikasi bahwa perjuangannya ditujukan untuk membantu kesejahteraan para petenis yang berada di peringkat bawah.
"I don't see how it's possible to cross these two completely different worlds," tegas Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Ia menambahkan bahwa situasi finansial pribadinya saat ini sudah sangat mencukupi, sehingga kritik tersebut dianggap tidak relevan.
"And as I said before, prize money, it's not about me at all." tutur Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Pernyataan ini sekaligus menutup spekulasi negatif yang beredar di luar lapangan menjelang pertandingan babak delapan besar.
"This is a fight for players, lower-ranked players who are really struggling to survive in this tennis world. It has nothing to do with me that I'm fighting for that prize money. Everyone knows that I'm doing good," pungkas Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Pada babak perempat final, Sabalenka dijadwalkan menantang petenis unggulan ke-25 asal Rusia, Diana Shnaider, yang melaju setelah mengalahkan Madison Keys.
"She's a great player. I'd say tricky game, changing the rhythm a lot, and moving well, great serving. So I'm super excited to face her for the first time," tutur Aryna Sabalenka, Petenis Nomor Satu Dunia.
Sementara itu, kejutan lain terjadi di sektor putri saat petenis kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska, menembus semifinal Grand Slam pertamanya setelah mengamankan kemenangan di paruh undian yang berbeda.
"For me, it's, like, whoever I'm playing, I'm lower in the rankings, so it doesn't matter for me if (the draw is) open or not," ucap Maja Chwalinska, Petenis Polandia.
Chwalinska mengaku menikmati statusnya sebagai pemain non-unggulan yang tidak banyak dikenal oleh para pesaingnya.
"Everyone here is higher in the ranking than me. So they are the favourites to win. I'm like an underdog. No one really knows me," sebut Maja Chwalinska, Petenis Polandia.
Di sektor tunggal putra, persaingan dipastikan akan melahirkan juara baru setelah tersingkirnya Jannik Sinner dan Novak Djokovic pada pekan sebelumnya.
"There was that big day or two days in a row, it was like (Jannik) Sinner lost, (Novak) Djokovic lost, it was a lot of noise," kata Felix Auger-Aliassime, Petenis Kanada.
Auger-Aliassime yang kini menjadi unggulan tertinggi di paruh atas undian putra memilih untuk tetap tenang dan fokus menghadapi pertandingan demi pertandingan.
"But that was last week. Then, as the days went by, you kind of get used to it," tambah Felix Auger-Aliassime, Petenis Kanada.
Ia memandang absennya para pemain top sebagai kesempatan besar, namun dirinya harus terlebih dahulu melewati babak perempat final.
"Of course not having Sinner, for example, in semi-finals is another opportunity, but you need to be there. So I have to focus on the next match and then try to be in the semi-finals," jelas Felix Auger-Aliassime, Petenis Kanada.
Felix Auger-Aliassime dijadwalkan menghadapi unggulan ke-10, Flavio Cobolli, demi memperebutkan satu tiket ke babak semifinal Prancis Terbuka 2026.
"It's so special, I mean, for everyone. For Flavio, for Matteo, for me. I feel like we all have different stories, but we're all so happy to be here, so happy to play quarters in a Slam," ungkap Matteo Arnaldi, Petenis Italia.
Pemenang laga tersebut nantinya akan menghadapi pemenang dari pertandingan derbi Italia antara Matteo Berrettini dan Matteo Arnaldi.
"Definitely it's going to be a tough one for us, because it's a derby," cetus Matteo Arnaldi, Petenis Italia.