Ayu Aulia Kehilangan Rahim Akibat Komplikasi Aborsi Ilegal

Ayu Aulia Kehilangan Rahim Akibat Komplikasi Aborsi Ilegal

Selebgram Ayu Aulia mengonfirmasi dirinya telah kehilangan rahim secara permanen akibat komplikasi serius setelah menjalani prosedur aborsi pada Senin (11/5/2026). Langkah medis pengangkatan rahim tersebut terpaksa dilakukan dokter untuk menyelamatkan nyawanya dari risiko infeksi parah dan perdarahan yang tidak terkendali.

Kabar mengenai kondisi kesehatan ini disampaikan langsung oleh sang selebgram melalui media sosial pribadinya. Ayu menyatakan bahwa tindakan aborsi tersebut dipicu oleh tekanan psikologis dan rasa takut terkait hubungan asmara yang dijalaninya.

"Keputusan itu membawa dampak besar dalam hidup saya, termasuk kehilangan rahim saya sendiri," ungkap Ayu dalam unggahan Instagram Story-nya, Senin (11/5/2026).

Peristiwa ini menjadi sorotan publik mengingat risiko medis fatal yang membayangi prosedur aborsi tidak aman. Dilansir dari Suara, tinjauan medis menunjukkan bahwa meskipun aborsi legal di bawah pengawasan tenaga ahli umumnya aman, praktik ilegal atau tidak steril sering kali berujung pada kerusakan organ permanen.

Ada tiga faktor utama yang secara medis mengharuskan dilakukannya histerektomi atau pengangkatan rahim setelah aborsi. Penyebab pertama adalah infeksi parah atau sepsis yang muncul akibat penggunaan alat tidak steril atau adanya jaringan janin yang tertinggal di dalam rahim.

Kondisi kedua melibatkan perdarahan hebat yang terjadi jika pembuluh darah besar pada dinding rahim mengalami kerusakan selama prosedur. Jika upaya medis standar gagal menghentikan aliran darah, dokter tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat rahim demi mencegah kematian pasien.

Faktor ketiga adalah perforasi uterus atau robeknya dinding rahim akibat tertusuk alat tajam saat proses bedah. Apabila robekan tersebut terlalu luas dan tidak dapat diperbaiki melalui jahitan, organ rahim harus segera diambil untuk menghindari komplikasi pada organ dalam lainnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan aborsi tidak aman sebagai prosedur yang dilakukan oleh individu tanpa kompetensi atau di lingkungan yang tidak memenuhi standar sanitasi. Metode ini berisiko tinggi menyebabkan jaringan parut permanen pada saluran kelamin yang menghambat kemungkinan kehamilan di masa depan.

Tenaga medis mengimbau perempuan untuk mewaspadai gejala bahaya pasca-aborsi atau keguguran, seperti demam tinggi yang disertai menggigil. Tanda lain yang memerlukan penanganan darurat meliputi keluarnya cairan berbau busuk, nyeri perut hebat, serta perdarahan masif yang membasahi lebih dari dua pembalut dalam satu jam.

Artikel terkait

Rekomendasi