Ayu Aulia Jalani Pengangkatan Rahim Akibat Komplikasi Aborsi Masa Lalu

Ayu Aulia Jalani Pengangkatan Rahim Akibat Komplikasi Aborsi Masa Lalu

Selebritas Ayu Aulia mengungkapkan fakta terkait kondisi kesehatannya yang harus menjalani prosedur pengangkatan rahim atau histerektomi akibat komplikasi serius dari tindakan aborsi di masa lalu. Kabar mengenai dampak permanen pada organ reproduksinya tersebut dibagikan melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Dilansir dari Suara, hilangnya kemampuan reproduksi ini bermula dari hubungan asmara Ayu dengan seorang pejabat publik berinisial R yang berujung pada kehamilan tidak direncanakan. Tekanan sosial dan kekhawatiran terhadap karier menjadi alasan utama sang artis mengambil keputusan tersebut.

"Di masa lalu, saya pernah memiliki hubungan dengan seorang seorang pejabat hingga mengandung seorang anak," tulis Ayu Aulia dalam unggahannya.

Keputusan untuk mengakhiri kehamilan tersebut diakui Ayu sebagai tindakan yang sangat ia sesali karena memicu kerusakan fisik permanen. Kondisi medis yang memburuk memaksa dokter melakukan tindakan penyelamatan nyawa melalui operasi besar.

"Dalam keadaan penuh tekanan, ketakutan, dan kebingungan, saya mengambil keputusan yang sangat saya sesali, yaitu melakukan aborsi," katanya.

Akibat dari prosedur aborsi yang tidak aman tersebut, rahim Ayu tidak dapat dipertahankan. Hal ini secara otomatis menutup kemungkinannya untuk bisa mengandung atau memiliki keturunan secara biologis di masa depan.

"Kehilangan rahim, kehilangan masa depan yang dulu aku bayangkan," tuturnya pilu.

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), prosedur aborsi pada dasarnya tidak secara langsung menyebabkan pengangkatan rahim jika dilakukan sesuai standar medis. Namun, histerektomi menjadi jalan terakhir jika pasien mengalami pendarahan hebat atau infeksi berat yang mengancam nyawa.

Laporan dari National Center for Biotechnology Information (NCBI) turut mengonfirmasi bahwa tindakan medis ekstrem ini hanya dilakukan pada kondisi darurat seperti kerusakan organ yang parah. Risiko komplikasi fatal ini meningkat drastis pada praktik aborsi ilegal yang dilakukan oleh tenaga tidak ahli.

WHO menekankan bahwa aborsi yang ditangani tenaga medis terlatih melalui metode obat atau bedah yang tepat merupakan prosedur yang aman. Sebaliknya, praktik yang tidak sesuai standar kesehatan sering kali berujung pada cedera organ serius yang mengharuskan pengangkatan rahim demi keselamatan pasien.

Artikel terkait

Rekomendasi