Bayern Munich menyatakan kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan wasit Joao Pinheiro setelah menelan kekalahan dari Paris Saint-Germain (PSG) pada leg kedua semifinal Liga Champions di Allianz Arena, Rabu (6/5/2026). Skuad asuhan Vincent Kompany menyoroti beberapa keputusan krusial, termasuk insiden bola tangan (handball) dan offside yang dinilai merugikan tuan rumah.
Kekecewaan Die Roten bermula sejak menit awal saat Ousmane Dembele mencetak gol pada menit ketiga, yang memperlebar keunggulan agregat PSG menjadi 6-4. Ketegangan meningkat pada menit ke-23 ketika wasit meniup peluit offside terhadap Harry Kane dalam posisi serangan balik sebelum hakim garis mengangkat bendera.
Mantan pemain Michael Ballack mengkritik keras keputusan tersebut karena wasit dianggap menghentikan peluang bersih tanpa menunggu tinjauan VAR. Menurut laporan asatunews.co.id, Ballack menilai pejabat pertandingan seharusnya membiarkan permainan berlanjut agar teknologi dapat bekerja lebih akurat.
"The referee blows his whistle before the assistant has even raised his flag—he just can't do that. That's a huge mistake. The officials should have let the play run. Why did he blow the whistle? He's clean through on goal. What might have happened next is another matter, but the whistle should never have sounded." ujar Michael Ballack, komentator TV.
Kontroversi berlanjut pada menit ke-29 saat Nuno Mendes tampak menyentuh bola dengan tangan, namun ia lolos dari kartu kuning kedua. Analis DAZN, Sami Khedira, menyebut keputusan wasit untuk menghukum Konrad Laimer sebagai gantinya telah mengubah momentum pertandingan.
"The referee is once again interfering in this wonderful football match and changing the balance of play. Bayern were clearly disadvantaged here," kata Sami Khedira, analis DAZN.
Puncak kemarahan Bayern terjadi pada menit ke-31 ketika bola hasil sapuan Vitinha mengenai lengan Joao Neves yang terangkat di dalam kotak penalti. Meskipun ada protes keras dan pemeriksaan VAR singkat, wasit tidak memberikan penalti kepada Bayern.
Pakar wasit Manuel Graefe menyebut situasi tersebut merupakan pelanggaran yang sangat jelas, bahkan lebih nyata dibandingkan insiden pada leg pertama. Hal ini memicu perdebatan mengenai konsistensi aturan handball di kompetisi UEFA.
"Klarer Handelfmeter! Viel klarer als die Situation im Hinspiel. Er nimmt den Arm über die Schulter und der Arm geht in die Flugbahn. Völlig unverständlich, warum der VAR nicht eingreift." tutur Manuel Gräfe, pakar wasit BILD.
Namun, dilansir dari goal.com, terdapat aturan teknis yang menjelaskan mengapa insiden Neves tidak dianggap pelanggaran. Berdasarkan Laws of the Game, sentuhan tangan tidak dianggap pelanggaran jika bola mengenai pemain setelah sebelumnya dimainkan oleh rekan setimnya, selama tidak langsung menjadi gol.
Kepala wasit DFB, Knut Kircher, memberikan konfirmasi bahwa panduan UEFA memang tidak mewajibkan penalti jika bola disapu keluar kotak penalti oleh rekan satu tim. Hal ini menjadi dasar teknis bagi wasit VAR untuk tidak mengintervensi keputusan di lapangan.
"UEFA guidelines. It must not result in a penalty if the ball is struck out of the penalty area by a teammate," ucap Knut Kircher, kepala wasit DFB.
Kritik juga datang dari mantan penyerang Inggris, Alan Shearer, yang meluapkan kekesalannya melalui media sosial. Shearer menilai aturan bola tangan saat ini sudah sangat membingungkan dan merusak kualitas permainan sepak bola.
"The handball ball law is so f***** up it’s madness. They have just messed the whole thing up. Tied themselves in knots. #clueless." tulis Alan Shearer melalui akun X miliknya.
Harry Kane terlihat terus melakukan protes kepada wasit saat menuju terowongan pemain pada waktu istirahat babak pertama. Penunjukan Joao Pinheiro yang baru memimpin 14 laga Liga Champions sebelumnya juga menjadi sorotan pihak Bayern Munich pasca laga tersebut.