Bayern Munich dipastikan tersingkir dari persaingan Liga Champions setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Paris Saint-Germain (PSG) pada laga leg kedua semifinal, Kamis (7/5) dini hari WIB. Hasil tersebut membuat raksasa Jerman tersebut kalah agregat 5-6.
Kekalahan agregat ini, sebagaimana dilansir dari Detik Sport, memupus harapan Die Roten untuk melaju ke partai puncak. Bayern Munich sebenarnya mengusung misi bangkit, namun gawang mereka justru kebobolan cepat melalui aksi Ousmane Dembele saat pertandingan baru berjalan tiga menit.
Skuad asuhan Thomas Tuchel terus berupaya memberikan tekanan sepanjang pertandingan untuk mengejar ketertinggalan. Kendati demikian, gol balasan yang dinanti baru tercipta pada masa tambahan waktu babak kedua melalui sontekan Harry Kane.
Bek tengah Bayern Munich, Jonathan Tah, memberikan pandangannya terkait kegagalan timnya mengonversi peluang lebih awal di Parc des Princes. Pemain bertahan tersebut merasa jalannya pertandingan bisa saja berubah jika timnya lebih efektif di depan gawang.
"Kedua pertandingan sama-sama sangat ketat. Dua pertandingan itu berbeda, tapi pada akhirnya mereka menang," ujar bek berusia 30 tahun itu di laman resmi klub.
Tah menilai gol kilat yang dicetak oleh PSG memaksa timnya bekerja ekstra keras menembus pertahanan lawan yang rapat. Strategi bertahan yang diterapkan tim tuan rumah diakui menjadi tantangan besar bagi lini serang Bayern.
"Paris mencetak gol cepat, kemudian bertahan dengan sangat baik. Seandainya saja kami menciptakan gol kami sedikit lebih awal, kami akan berada dalam posisi yang lebih baik," sambung dia.
Meskipun merasa kecewa dengan hasil akhir, pemain internasional Jerman itu tetap memberikan apresiasi terhadap perjuangan rekan-rekan setimnya. Ia menganggap performa tim di lapangan tetap memiliki sisi positif yang bisa dibanggakan.
"Sayang sekali, kami toh tidak memiliki banyak peluang. Sudah jelas ini sangat mengecewakan, tapi Anda memang harus menghadapi berbagai situasi yang berbeda untuk meraih kesuksesan. Kurasa kami bisa merasa bangga dengan cara kami bermain," Tah menambahkan.
Kegagalan ini memperpanjang catatan buruk Bayern Munich yang belum pernah lagi mencicipi partai final Liga Champions sejak menjadi juara pada musim 2020. Di sisi lain, PSG berhasil mengamankan tiket final untuk kedua kalinya secara berturut-turut setelah menyabet gelar juara pada musim sebelumnya.