Musisi asal Amerika Serikat, Beck Hansen, tampil perdana di Sydney Opera House, Australia, pada Kamis, 7 Mei 2026, dengan menggandeng Sydney Symphony Orchestra. Konser bertajuk kolaborasi simfoni ini menandai babak baru dalam karier sang peraih Grammy setelah tiga dekade berkarya di industri musik.
Pertunjukan ini mengeksplorasi katalog lagu Beck yang diaransemen ulang secara orkestral, dengan fokus utama pada album Sea Change (2002) dan Morning Phase (2014). Penampilan tersebut melibatkan konduktor Nicholas Buc serta musisi pendukung tetap Beck, termasuk Jason Falkner, Roger Manning, dan James McAlister untuk memperkuat tekstur musik di atas panggung.
"I was going to see orchestras from a young age," kata Beck, musisi.
Beck mengenang masa kecilnya saat ia sering membeli tiket murah untuk menonton pertunjukan orkestra. Pengaruh simfoni dalam karyanya juga tidak lepas dari peran ayahnya, David Campbell, yang merupakan komposer produktif dan pengatur musik bagi banyak musisi dunia.
"I was that kid who'd get the student ticket and go in the cheap seats," ujar Beck, musisi.
Meskipun telah sering mengunjungi Australia sejak album pertamanya, kunjungan kali ini memberikan nuansa berbeda dengan melibatkan Philharmonia Australia di Melbourne dan Sydney Symphony Orchestra. Beck mengakui bahwa proyek ini merupakan bisnis keluarga karena banyak aransemen lagu miliknya dikerjakan oleh sang ayah sejak akhir 1990-an.
"It's like this body of work of father and son — this family business of making music," cetus Beck, musisi.
Dalam wawancara dengan Karen Leng dari Double J, Beck menjelaskan bahwa format formal ini memungkinkan dirinya membawakan lagu-lagu yang sebelumnya jarang dimainkan secara langsung. Ia merasa tur orkestra ini adalah pengalihan yang menyenangkan setelah puluhan tahun menjalani konser rock tradisional.
"It's always special coming out to Australia and I've been lucky to be coming there since my first album," terang Beck, musisi.
Beck sempat merasa ragu untuk melakukan kolaborasi orkestra karena takut dianggap terlalu pretensius. Namun, setelah 35 tahun berkarier, ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan penghormatan pada elemen simfoni yang tersebar di sepanjang diskografinya.
"It's been a really nice detour to take after many decades of just playing rock shows," tutur Beck, musisi.
Penyanyi berusia 55 tahun ini membandingkan pengalaman bermain dengan orkestra seperti menonton film dalam versi IMAX yang lebih luas. Baginya, suara dari 80 musisi yang bermain secara serempak memberikan kekuatan fisik dan spiritual yang unik bagi penonton maupun dirinya sendiri.
"I came up at a time where when the artist shows up with the orchestra, that's when they've lost it … when they get really pretentious and overblown," seloroh Beck, musisi.
Selama konser, Beck membawakan hits populer seperti Loser dan Where It's At, namun fokus emosional tetap berada pada lagu-lagu melankolis. Ia menyebutkan bahwa setting orkestra memaksa dirinya untuk lebih fokus pada vokal dan arus emosi daripada aspek fisik pertunjukan.
"I think that's why it's taken me 35 years to do something like this," ungkap Beck, musisi.
Beck juga menyatakan kekagumannya pada kedisiplinan para pemain orkestra dibandingkan musisi rock. Ia secara jenaka menyoroti bagaimana berbagai kelompok dalam orkestra, seperti pemain biola, memiliki kebiasaan yang sangat berbeda setelah pertunjukan berakhir.
"It's like going to see the IMAX version of a movie. It's more expansive and it's been a lot of fun," papar Beck, musisi.
Selain lagu orisinal, Beck menyajikan lagu baru berjudul Ride Lonesome serta beberapa lagu penutup milik musisi lain. Ia menekankan bahwa pendekatan simfoni ini bertujuan untuk membuka tonalitas suara yang membawa pendengar ke suasana yang lebih dalam dan menghantui.
"It feels like something very rarefied and holy. Where we're all usually just jamming in a rock band down on terra firma, [orchestras are] really like taking flight somewhere else," sebut Beck, musisi.
Konser di Sydney Opera House ini juga menyertakan momen unik ketika Beck bercerita tentang proses rekaman lagu We Live Again di masa lalu yang sempat mendapat komentar dari musisi Thom Yorke dan Bjork. Penampilan ditutup dengan aksi solo gitar blues sebelum akhirnya membawakan lagu debut ikoniknya, Loser, di hadapan penonton.
"There's a way to approach it that honours the orchestra. That opens up the tonality of these transportive sounds," jelas Beck, musisi.
Beck merasa suara besar dari ansambel musik klasik ini mampu memberikan efek penyucian bagi pikiran pendengarnya. Baginya, orkestra adalah sebuah mesin manusia yang indah dan memberikan wahyu suara yang luar biasa di atas panggung.
"In a rock band setting, it's more about the beat and the energy driving it. This really just lets the songs sit and breathe," urai Beck, musisi.
Ia juga memuji komitmen para pemain perkusi yang harus menunggu lama sepanjang konser hanya untuk memukul drum beberapa kali. Kedisiplinan waktu para pemain orkestra menjadi hal yang sangat berkesan bagi musisi yang terbiasa dengan gaya hidup band rock ini.
"I'm somebody who tends to be more of a physical performer and I relate to the songs through movement," aku Beck, musisi.
Setiap nada yang dihasilkan oleh orkestra dinilai Beck mampu menyentuh bagian tubuh dan jiwa yang berbeda. Pengalaman ini memberikan inspirasi baru baginya sebagai seorang musisi yang terus berganti identitas musik.
"It does make you sing different … you really settle into the songs and dig deep into the emotion," kata Beck, musisi.
Beck menutup rangkaian cerita pengalamannya dengan menekankan betapa besarnya kekuatan suara yang dihasilkan oleh formasi tersebut. Hal ini memberikan perspektif baru dalam caranya membawakan musik di hadapan publik Australia.
"It's been really inspiring for me as a musician. It feels like you have this battalion behind you, like ammunition. This incredible musical force and you can see it in people's faces — the revelation of that sound," ujar Beck, musisi.
Konser ini mendapatkan ulasan positif dari berbagai media musik internasional yang menyoroti kematangan artistik Beck. Setelah menyelesaikan jadwal di Sydney, Beck dijadwalkan melanjutkan aktivitas musiknya sesuai dengan agenda tur yang telah ditetapkan.
"Just the sound of it does something to you physically. It's just like this big human machine," tegas Beck, musisi.
Beck mengakhiri penjelasannya dengan menyatakan bahwa pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap musik klasik. Ia merasa lebih segar setelah melalui proses kreatif yang melibatkan puluhan musisi profesional tersebut.
"This beautiful human endeavour that just hits a different part in your body and spirit," ucap Beck, musisi.
Pertunjukan ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah penampilan Beck di Australia selama tiga dekade terakhir. Penonton yang hadir sebagian besar terdiri dari kalangan profesional yang tumbuh bersama musik-musik alternatif era 90-an.
"It takes your brain out and washes it and puts it back in your head and you just feel like a little different," kata Beck, musisi.
Keberhasilan kolaborasi ini membuka kemungkinan bagi Beck untuk mengeksplorasi format serupa di masa depan. Meskipun dikenal sebagai musisi yang terus berubah, elemen orkestra kini menjadi bagian resmi dari perjalanan kariernya.
"Rock musicians, there's no clock. We're just dogs. But the orchestra? The minute [the show] hits 90 minutes, they're off stage," kelakar Beck, musisi.
Selama di atas panggung, Beck juga sempat berkeliling dan mencoba kursi kosong para pemain orkestra untuk memancing tawa penonton. Aksi spontan ini menunjukkan sisi santai Beck di tengah kemegahan gedung Sydney Opera House.
"The woodwinds, the percussionists and the harp player are usually the lone gunmen," amati Beck, musisi.
Ia juga memperhatikan bagaimana setiap anggota orkestra memiliki prioritas yang berbeda setelah konser usai. Hal-hal detail seperti ini menjadi hiburan tersendiri bagi Beck selama menjalani tur orkestra perdananya.
"I would say the bassoons or clarinets are the ones who linger on stage [and] take the longest to leave," tawa Beck, musisi.
Beck mengagumi bagaimana para pemain biola biasanya menjadi yang paling cepat meninggalkan lokasi setelah tugas mereka selesai. Observasi humoris ini menjadi bumbu di sela-sela penampilan musiknya yang serius.
"But the violins are straight out of there. They're already home watching Netflix before the show's over," canda Beck, musisi.
Pada akhirnya, Beck memberikan apresiasi tertinggi bagi para pemain perkusi atas kesabaran mereka sepanjang konser. Ia menilai tugas tersebut sebagai bentuk komitmen yang luar biasa dalam menjaga tempo dan momen dalam sebuah simfoni.
"They'll have to wait an entire two-hour concert. And he gets to hit the drum maybe once or twice," ujar Beck, musisi.
Fokus penuh pada bar demi bar musik menjadi kunci agar tidak melewatkan satu momen penting dalam pertunjukan orkestra. Beck menutup konsernya dengan penuh kesan bagi para penggemarnya di Sydney.
"That's the hardest job because if you lose track of a bar, you're going to miss that one moment. That's commitment," pungkas Beck, musisi.
Oh my God, that was amazing!" teriak seorang penonton, Penonton Konser.
"Settle in — it's gonna be a quiet ride," saran Beck, musisi.
"Wave," tutur Beck, musisi.
"It's the beginning of the end," gurau Beck, musisi.
"Damn, that orchestra sounds good," puji Beck, musisi.
"You're not singing it right, mate," ucap Thom Yorke, musisi.
"Disney," cetus Bjork, musisi.
"I'm a loser baby, so why don't you kill me?" nyanyi penonton, Penonton Konser.