Stasiun televisi Trans TV menjadwalkan penayangan film Master Z: Ip Man Legacy pada Sabtu, 30 Mei 2026, pukul 20.15 WIB. Sinema spin-off garapan sutradara legendaris Yuen Woo-ping ini menjadi panggung pembuktian bagi Zhang Jin.
Dilansir dari Suara, proyek layar lebar rilisan akhir 2018 tersebut hadir sebagai jawaban atas keraguan publik terhadap masa depan sinema bela diri Hong Kong pasca-berakhirnya saga utama Ip Man.
Alur cerita berfokus pada kehidupan Cheung Tin-chi yang diperankan oleh Zhang Jin setelah kekalahannya dari Ip Man dalam film Ip Man 3.
Tin-chi memutuskan untuk menarik diri dari dunia Wing Chun sepenuhnya demi menjalani kehidupan biasa. Ia memilih berprofesi sebagai pemilik toko kelontong kecil sekaligus menjadi ayah tunggal bagi putranya.
Keinginan Tin-chi untuk hidup dalam ketenangan mulai terusik sewaktu dirinya menyelamatkan Julia yang diperankan Liu Yan. Julia kala itu tengah menjadi sasaran pengejaran geng narkoba di bawah pimpinan Tso Sai Kit.
Aksi penyelamatan tersebut menyeret Tin-chi masuk ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar. Ia harus berhadapan dengan sindikat kriminal pimpinan Tso Ngan Kwan, seorang bos mafia wanita yang sebenarnya berniat untuk tobat.
Persoalan kian rumit dengan keterlibatan seorang pengusaha asing misterius bernama Owen Davidson yang diperankan oleh Dave Bautista.
Yuen Woo-ping yang dikenal lewat penataan aksi dalam The Matrix menampilkan koreografi estetis. Salah satu daya tarik utama muncul melalui performa elegan sekaligus mematikan dari aktris Michelle Yeoh.
Ketegangan tanpa dialog tersaji lewat adegan adu kekuatan antara Michelle Yeoh dan Zhang Jin di atas meja bar sembari menuangkan minuman.
Karakter Cheung Tin-chi yang dibawakan Zhang Jin menawarkan impresi yang berbeda dari sosok Ip Man versi Donnie Yen. Tin-chi ditampilkan dengan aura yang lebih gelap, dipenuhi penyesalan, namun memiliki kedalaman sisi kemanusiaan seorang ayah.
Kontras performa terjadi saat menghadapi Dave Bautista yang menonjolkan kekuatan murni, berbeda dengan Zhang Jin yang mengandalkan kecepatan serta presisi dalam duel final.
Latar Hong Kong era 1960-an dengan paparan lampu neon yang khas ikut memperkuat visual bernuansa noir dalam menghidupkan atmosfer setiap adegan pertarungan.