Bobotoh Padati GBLA dan Berbelanja Atribut Jelang Persib vs Persijap

Bobotoh Padati GBLA dan Berbelanja Atribut Jelang Persib vs Persijap

Ribuan pendukung Persib Bandung atau Bobotoh mulai memadati kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) semenjak Sabtu (23/5) siang demi menyaksikan laga krusial menghadapi Persijap Jepara.

Dilansir dari pantauan CNNIndonesia.com, area Ring 1 stadion sudah dipenuhi penonton sejak pukul 13.00 WIB guna mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas. Arus suporter yang menaiki sepeda motor, mobil, hingga bus besar dilaporkan telah mengular sepanjang tiga kilometer dari arah pintu keluar tol Gedebage menuju stadion.

Pertandingan terakhir Super League 2025/2026 ini dijadwalkan berlangsung pukul 16.00 WIB. Laga tersebut menjadi momentum sejarah bagi Maung Bandung untuk mengunci gelar kelima sekaligus melampaui rekor Persipura Jayapura di era Liga Indonesia, serta mencetak rekor sebagai tim pertama yang meraih gelar juara tiga kali secara beruntun.

Dukungan luar biasa tidak hanya datang dari kelompok suporter lokal, melainkan juga menarik perhatian penikmat sepak bola mancanegara yang sengaja datang ke Bandung.

"Halo, saya jauh-jauh datang dari Vietnam untuk mendukung Persib. Semoga hari ini mereka menang dan juara," kata Keung Ci Mien, pendukung asal Ho Chi Minh, Vietnam.

Keung terlihat membawa spanduk bertuliskan 'Bobotoh Vietnam' saat mengantre masuk. Pria yang telah mengidolakan Persib sejak 2,5 tahun lalu itu mengaku ini adalah pengalaman perdananya menonton langsung di dalam stadion.

"Ini pertama kali menonton Persib di stadion. Sebelumnya saya hanya main-main saja di Indonesia," ucap Keung.

Antusiasme masif pendukung Persib ini juga membawa dampak positif yang besar terhadap sektor ekonomi mikro di Kota Bandung, salah satunya bagi para pedagang kaki lima di kawasan trotoar Tegallega.

Tuti, seorang pedagang musiman yang menjajakan kaus dan bendera Persib, mengaku memperoleh kenaikan omzet yang sangat signifikan menjelang pertandingan penentu ini.

"Lumayan banget berpengaruh ke ekonomi dibanding hari-hari biasa. Omzet jelas naik kalau Persib lagi mau tanding begini," ujar Tuti kepada detikJabar.

Guna mengoptimalkan keuntungan, Tuti membagi fokus penjualan dengan suaminya yang membuka lapak terpisah di bagian atas trotoar Tegallega. Strategi penyediaan stok barang dagangannya sengaja dilakukan satu hari sebelum pertandingan (H-1) menyusul jadwal laga yang rapat.

"Saya jualan di sini saja, cuma di sini sih. Tapi paling di sebelah atas ada lagi yang jualan, itu suami saya. Sama, jualan baju atribut Persib juga," ungkap Tuti.

Perempuan berusia 50 tahun tersebut bahkan memilih untuk memperpanjang jam operasional dagangannya demi melayani arus Bobotoh hingga pertandingan selesai.

"Biasanya jualan dari pagi. Tapi kalau sekarang, karena Persib mau main, saya bakal jualan sampai selesai pertandingan," tambah Tuti.

Kondisi serupa juga dialami oleh Arini, pedagang berusia 17 tahun yang meneruskan usaha atribut keluarganya. Arini menyebut gelombang pembeli kali ini jauh lebih besar karena banyak didominasi oleh suporter dari luar daerah Bandung.

Berbeda dengan Tuti, keluarga Arini menerapkan sistem manajemen stok sejak jauh hari sebelum kompetisi bergulir demi mengantisipasi kelangkaan bahan baku kain.

"Kita biasanya stok barang dari jauh-jauh hari, bahkan sebelum musim Persib ramai. Kita sudah siapin sampai ribuan stok baju. Kalau mepet sebulan atau dua bulan sebelum laga, nyari bahannya susah banget," ujar Arini.

Meskipun biaya produksi kain terus meningkat, Arini mempertahankan harga jual kaus kualitas terbaiknya di angka Rp150.000 per lembar. Ia tidak merasa khawatir dengan banyaknya persaingan pedagang atribut lain di sepanjang jalan Tegallega.

"Rezeki mah sudah ada yang mengatur, yang penting kita kasih kualitas terbaik," ucap Arini.

Artikel terkait

Rekomendasi