Dunia musik kembali diguncang oleh kabar mengenai vokalis legendaris Nirvana, Kurt Cobain. Laporan baru muncul yang meragukan penyebab kematian musisi ikonik tersebut tiga dekade silam.
Sejarah mencatat bahwa Kurt Cobain meninggal akibat bunuh diri pada April 1994 di rumahnya yang berada di Seattle. Namun, desakan untuk menyelidiki ulang peristiwa tragis ini kembali menguat di masyarakat.
Sebuah tim forensik swasta mengklaim telah menemukan sejumlah bukti baru, seperti dilansir dari Suara yang mengutip laporan Daily Mail pada Kamis, 4 Juni 2026. Temuan tersebut mengarah pada dugaan adanya rekayasa agar kematian sang ikon grunge terlihat seperti tindakan mengakhiri hidup sendiri.
Seorang mantan kapten kepolisian Seattle ikut angkat bicara mengenai kasus ini. Dirinya menyebutkan bahwa proses penyelidikan awal yang dilakukan pada tahun 1994 gagal berjalan dengan baik.
Meski klaim tersebut memicu kegaduhan di kalangan penggemar, pihak Kepolisian Seattle tetap teguh pada keputusan mereka. Pihak berwenang menegaskan tidak mempunyai rencana untuk membuka kembali berkas perkara kematian sang musisi.
Kepolisian Seattle merujuk pada hasil tinjauan ulang yang telah selesai dilakukan pada tahun 2014. Detektif cold case Mike Ciesynski kala itu sudah memeriksa seluruh bukti fisik hingga dokumen teori konspirasi yang beredar.
Proses evaluasi tersebut menunjukkan hasil yang tetap sama dengan penyelidikan awal. Polisi tidak menemukan bukti baru yang cukup valid untuk mengubah kesimpulan awal mengenai penyebab kematian Kurt Cobain.
Kematian Cobain dipastikan akibat tindakan bunuh diri yang dipicu oleh tekanan popularitas, gangguan kesehatan mental, serta ketergantungan pada zat terlarang. Perdebatan ini pun kembali memicu pembahasan mengenai fenomena 27 Club.
Istilah 27 Club merujuk pada fenomena budaya populer mengenai musisi berbakat yang meninggal dunia pada usia emas 27 tahun. Banyak narasi mistis hingga teori konspirasi yang dikaitkan dengan kematian para figur terkenal tersebut.
Fenomena ini awalnya terbentuk setelah dunia kehilangan empat pilar musik rock pada periode 1969 hingga 1971. Brian Jones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Jim Morrison tercatat semuanya wafat pada usia 27 tahun.
Ketakutan publik terhadap mitos ini semakin menguat saat penyanyi Amy Winehouse meninggal dunia pada 2011 di usia yang sama. Asisten pribadi Winehouse sempat melaporkan bahwa sang artis pernah mengutarakan kecemasannya akan bergabung dengan kelompok tersebut sebelum wafat.
Kepopuleran istilah ini juga dipicu oleh pernyataan ibu Kurt Cobain, Wendy Fradenburg Cobain O'Connor, sesaat setelah kematian putranya.
"Sekarnag dia pergi dan bergabung dengan klub bodoh itu. Sudah kukatakan padanya jangan bergabung dengan klub bodoh itu."
Banyak jurnalis menginterpretasikan ucapan tersebut sebagai konfirmasi mengenai 27 Club. Namun, analisis dari penulis buku The 27s, Eric Segalstad, menunjukkan perspektif yang berbeda dan lebih personal bagi keluarga.
Wendy kemungkinan besar sedang merujuk pada silsilah kelam keluarga mereka sendiri. Tercatat ada dua paman serta kakek buyut Kurt Cobain yang juga meninggal dunia akibat tindakan bunuh diri.
Sanggahan Ilmiah Berdasarkan Data Statistik
Meskipun narasi mengenai kutukan usia ini sangat populer, penelitian ilmiah menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Laporan dari British Medical Journal (BMJ) tahun 2011 menegaskan bahwa risiko kematian musisi pada usia 27 tahun tidak lebih tinggi daripada usia lainnya.
Studi BMJ menyimpulkan bahwa popularitas memang meningkatkan risiko kematian pada musisi muda akibat gaya hidup yang ekstrem. Namun, tidak ada lonjakan data statistik yang spesifik terjadi tepat pada usia 27 tahun.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Dianna Kenny pada 2014 turut memperkuat sanggahan tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa usia paling umum bagi meninggalnya musisi populer sebenarnya berada di angka 56 tahun.
Mitos mengenai 27 Club tetap bertahan di masyarakat karena kekuatan narasi budaya, bukan karena validitas angka. Usia tersebut sering dianggap sebagai masa transisi yang berat antara kepemudaan yang bergejolak dan tuntutan kedewasaan.