Keberhasilan bersejarah diraih oleh Como 1907 yang resmi mengamankan tiket menuju kompetisi elite Eropa, Liga Champions. Prestasi fenomenal pada Serie A musim 2025/2026 ini diraih di bawah asuhan pelatih Cesc Fabregas, seperti dilansir dari Suara.
Klub sepak bola Italia yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh pengusaha Indonesia melalui Djarum Group ini menunjukkan lonjakan performa luar biasa. Como 1907 mencatatkan sejarah baru setelah dua musim sebelumnya masih berkompetisi di Serie B.
Kemenangan telak dengan skor 4-1 atas Cremonese menjadi penentu langkah kepastian Como 1907. Kepastian posisi mereka di klasemen juga terbantu oleh kekalahan AC Milan di Stadion San Siro yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
"Dalam seluruh hidup saya, bahkan ketika saya melakukan pergantian pemain, saya hanya memiliki perasaan tentang berbagai hal, dan saya memiliki perasaan sehari sebelum kami bermain melawan Parma bahwa dengan Molecular dua kemenangan, kami akan berada di Liga Champions," ujar Fabregas kepada DAZN Italia.
Arsitek tim berusia 39 tahun tersebut menerapkan pendekatan psikologis unik demi membakar semangat juang anak asuhnya. Mantan gelandang legendaris Arsenal dan Barcelona itu mengadopsi filosofi olahraga lain dalam sesi motivasi tim.
"Saya menunjukkan kepada para pemain sebuah video tentang seorang pesepak bola yang berada di posisi㉖ keenam, tetapi dia mulai mengayuh pedal dalam sprint terakhir dan dia memenangkan balapan," ungkap Fabregas.
"Itulah yang kami lakukan di musim ini," sambungnya.
Perjalanan Como 1907 menuju papan atas tidak sepenuhnya mulus karena sempat didera hasil minor, termasuk kekalahan saat bersua Udinese. Kendati demikian, internal tim tetap memelihara keyakinan tinggi untuk bersaing di jalur juara.
Komposisi skuad yang didominasi pilar muda menjadi salah satu kunci utama kesuksesan strategi kepelatihan ini. Tercatat ada 15 pemain berbakat yang berusia di bawah 23 tahun (U-23) dalam jajaran tim utama.
"Ini adalah skuad yang penuh dengan anak-anak, kami memiliki 15 pemain yang semuanya berusia di bawah 23 tahun, jadi ini adalah mahakarya dari seluruh tim," tuturnya.
Para pemain muda ini dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang cepat terhadap taktik serta kemauan keras untuk terus berkembang. Kerja keras kolektif di lapangan menjadi penentu utama implementasi strategi dari tim pelatih.
"Saya hanya bisa mengangkat topi kepada para pemain ini, karena kami pelatih mencoba mendorong mereka, memberi pilihan, memberi tahu mereka di mana ruangnya, tetapi merekalah yang melakukannya di lapangan," jelas Fabregas.
Transformasi Infrastruktur dan Komitmen Jangka Panjang
Pencapaian menuju Liga Champions terasa kontras jika menilik kondisi awal klub beberapa tahun lalu. Pada masa awal kedatangan Fabregas, Como 1907 bahkan belum memiliki sarana penunjang latihan dan pemulihan fisik yang representatif.
"Saya sedang berbicara dengan dua fisioterapis hari ini yang bersama kami empat tahun lalu ketika saya datang untuk bermain, kami tidak memiliki tempat latihan," kenangnya.
"Jadi kami akan melakukan pijat di atas meja di ruang belakang sebuah bar! Sekarang, kami berada di Liga Champions," lanjut Fabregas dengan nada haru.
Proses mematangkan tim dinilainya memberikan banyak pelajaran berharga dalam karier barunya di dunia manajerial sepak bola. Setiap dinamika yang terjadi menuntut pengambilan keputusan yang cermat setiap hari.
"Ini seperti pergi ke universitas sepak bola setiap hari, karena saya harus membuat begitu banyak keputusan," ujarnya.
Meski performanya mulai menarik perhatian sejumlah klub raksasa Eropa, juru taktik asal Spanyol ini memilih setia. Fabregas menegaskan komitmennya untuk melanjutkan proyek jangka panjang yang sedang dibangun bersama manajemen Como 1907.
"Saya sangat bahagia di sini. Waktu memang penting, tetapi saya sangat bahagia dengan apa yang kami lakukan di sini," tegasnya.
Menurut Fabregas, karier kepelatihan membutuhkan kesabaran dan proses belajar yang panjang.
"Anda tidak boleh terburu-buru dalam pekerjaan Anda, Anda harus memiliki kesabaran dan terus belajar," tutupnya.