Stadion Giovanni Zini menjadi saksi bisu pertandingan hidup mati antara Cremonese melawan Como pada laga pamungkas pekan ke-38 Serie A musim 2025/26 yang berlangsung Minggu, 24 Mei 2026, pukul 20.45 CEST.
Pertandingan ini sangat krusial bagi kedua tim karena Cremonese berjuang lolos dari jerat degradasi, sementara Como mengincar tiket menuju kompetisi Liga Champions musim depan.
Dilansir dari comofootball.com, Cremonese saat ini menempati peringkat ke-18 klasemen dengan 34 poin, hanya selisih satu angka di belakang Lecce yang berada di posisi aman.
Skuat asuhan Marco Giampaolo tersebut wajib memenangkan laga ini sembari berharap Lecce gagal memetik kemenangan saat menghadapi Genoa.
Jika Cremonese meraih hasil imbang dan Lecce kalah dari Genoa, kedua tim akan mengumpulkan poin yang sama yaitu 35 poin, sehingga harus melalui babak penentuan atau play-off untuk menentukan tim yang bertahan di Serie A.
Namun jika kedua tim memetik kemenangan, Cremonese dipastikan terdegradasi ke Serie B karena tertahan di peringkat ketiga dari bawah dengan raihan 37 poin.
Tuan rumah bermodal tren positif setelah mencatat dua kemenangan beruntun, masing-masing dengan skor 3-0 melawan Pisa dan 1-0 atas Udinese lewat gol tunggal Jamie Vardy.
Sepanjang sejarah keikutsertaannya di kasta tertinggi sepak bola Italia, Cremonese belum pernah sekalipun meraih tiga kemenangan beruntun dalam satu musim kompetisi.
Di sisi lain, Como yang dilatih oleh Cesc Fabregas bertamu ke Cremona membawa modal impresif lewat catatan tiga hasil positif beruntun, termasuk kemenangan kandang saat menjamu Parma pada pekan sebelumnya.
Tim tamu menonjol secara defensif dengan rekor 19 kali tanpa kebobolan (clean sheet), menyamai catatan Arsenal sebagai yang terbaik di lima liga top Eropa musim ini.
Berdasarkan data uscremonese.it, antusiasme penonton sangat tinggi dengan tiket presale yang ludes terjual sebanyak 3.838 lembar, termasuk 192 tiket untuk pendukung tim tamu.
Angka tersebut menggenapi total sementara penonton yang hadir di stadion menjadi 12.046 orang, termasuk 8.208 pemegang tiket terusan milik suporter tuan rumah.
Catatan sejarah pertemuan di Cremona memihak tuan rumah, di mana dari 29 laga resmi, Cremonese menang 17 kali, imbang 7 kali, dan Como hanya menang 5 kali.
Kemenangan terakhir Como di markas Cremonese terjadi pada musim 2013/14 di kompetisi Lega Pro berkat gol bunuh diri pemain lawan.
Pelatih Cremonese, Marco Giampaolo, memberikan pandangannya mengenai beban berat yang dihadapi timnya dalam konferenza pers menjelang pertandingan akbar ini.
"Domani dobbiamo affrontare l’Everest, perché davanti avremo una squadra forte, organizzata e in grande condizione. Servirà fare tutto bene, anzi benissimo, per provare a vincere" ujar Marco Giampaolo, Pelatih Cremonese.
Giampaolo menambahkan bahwa laga ini membutuhkan performa terbaik dari sepanjang karier para pemainnya mengingat kekuatan besar yang dimiliki oleh tim lawan.
"Per noi sarà come scalare l’Everest, è chiaro che servirà la partita migliore probabilmente anche della carriera di tanti di noi, non solo la migliore della stagione. Sono molto consapevole delle dinamiche, di tutto quel che rappresenterà questa partita, degli intrecci con gli altri campi, soprattutto della força dell’avversario. Non sarà una gara impossibile, niente è impossibile, ma dovremo fare tante cose tutte insieme e perfette per vincere. Dobbiamo andare oltre tutto" kata Marco Giampaolo, Pelatih Cremonese.
Dia juga merefleksikan tekanan besar yang dialami tim selama berada di papan bawah dan harus terus-menerus mengejar poin di setiap pekan.
"Quando sei lì sotto a rincorrere, ogni partita pesa tantissimo. A un certo punto impari a convivere con la precarietà, con la pressione e con l’obbligo di fare risultato. Abbiamo fatto il possibile, ma non l’impossibile. Vorrei avere altre quattro o cinque gare" cetus Marco Giampaolo, Pelatih Cremonese.
Pertandingan ini dinilai sebagai ujian akhir bagi karakter timnya dalam merespons situasi sulit di ujung kompetisi.
"Se vogliamo essere sintetici, sì. Siamo chiamati ancora una volta a dare prova di noi stessi come è sempre stato sin qui. Le difficoltà ti misurano: è in quei momenti che bisogna vedere come si reagisce" ucap Marco Giampaolo, Pelatih Cremonese.
Sementara itu, pelatih Como, Cesc Fabregas, menegaskan fokus tinggi skuatnya untuk mengamankan poin penuh demi target besar mereka menuju kompetisi antarklub Eropa.
"Sarà una partita emozionante e combattuta. La Cremonese sta lottando per un obiettivo e noi per un altro. È, ancora una volta, la partita della stagione, perché continuiamo a crescere e a lottare per traguardi sempre più grandi. In partite come queste contano emozioni, attenzione agli errori e lucidità." kata Cesc Fabregas, Pelatih Como.
Fabregas juga menceritakan dampak emosional yang dirasakan oleh para suporter dan generasi baru pendukung Como atas performa tim musim ini.
"Ricevo spesso lettere dai tifosi e proprio oggi in una di queste ho letto ‘Grazie per tutto quello che ci state facendo vivere’. Questa è la cosa bella: far sognare una nuova generazione di bambini che ora va a scuola con la maglia del Como e ha idoli come Paz, Baturina e Douvikas." tutur Cesc Fabregas, Pelatih Como.
Dia memuji kedisiplinan dan organisasi pertahanan timnya yang menjadi kunci utama selain taktik menyerang yang sering dipuji banyak pihak.
"La gente spesso guarda il Como per la sua proposta offensiva, ma anche la crescita difensiva è stata fondamentale: 28 gol subiti, 19 clean sheet e solo 12 reti concesse nelle ultime 18 partite. È un dato clamoroso e rappresenta bene questo gruppo: mentalità, organizzazione, energia, disciplina, ideas chiare e voglia di migliorare sempre" pungas Cesc Fabregas, Pelatih Como.
Pertandingan ini dipimpin oleh wasit utama Maresca, didampingi asisten wasit Cecconi dan Fontemurato, serta disiarkan secara langsung melalui aplikasi DAZN.