Dadang Haries Poernomo secara resmi meninggalkan posisi pelatih kepala Timnas balap sepeda Indonesia setelah menyerahkan surat pengunduran diri pada Senin (11/5/2026). Langkah ini diambil Dadang dengan alasan ingin memberikan perhatian lebih kepada keluarganya dalam waktu dekat.
Surat pengunduran diri tersebut diserahkan langsung kepada Sekretaris Jenderal Indonesia Cycling Federation (ICF), Jadi Rajagukguk, sebagaimana dilansir dari Detik Sport. Dadang menegaskan bahwa keputusannya didasari oleh kebutuhan keluarga yang mendesak.
"Saya ingin istirahat dan fokus keluarga. Jadi ada hal yang benar-benar saya harus fokuskan. Di satu sisi, ada keperluan keluarga yang harus dipenuhi dan tidak bisa ditinggalkan," kata Dadang kepada detikSport.
Kepemimpinan Dadang di skuad nasional telah berlangsung sejak 2018, dimulai pada ajang Asian Games Jakarta-Palembang. Selama masa jabatannya, Indonesia berhasil meraih dua medali emas, satu perak, dan dua perunggu pada pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.
Dadang juga memiliki catatan impresif dengan meloloskan atlet ke ajang Olimpiade, termasuk Toni Syarifudin pada edisi Rio 2016 dan Bernard van Aert pada Paris 2024. Prestasi terbarunya adalah membawa tim meraih tiga medali emas di SEA Games Thailand pada Desember 2025.
"Sukanya itu proses mengulik, mencari. Terus terang saja, ini dari dari sudut pandang saya, prestasi kita belum maksimal betul. Ada beberapa cabang yang mungkin unggul di Asia, tetapi tidak semuanya merata," ujar Dadang.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar baginya adalah merancang strategi yang sesuai dengan kondisi anggaran dan iklim kompetisi di dalam negeri. Hal ini dilakukan agar atlet Indonesia mampu bersaing dengan negara kuat lainnya.
"Nah, saya senangnya mengulik bagaimana anak-anak (minimal) tembus Asia dulu. Jadi proses menuju ke sananya, mencari sesuatu yang sesuai iklim Indonesia. baik dari segi anggaran hingga volume kompetisinya," kata Dadang.
Dadang mengakui adanya kesenjangan kualitas jika dibandingkan dengan kekuatan utama balap sepeda di Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Namun, ia selalu berusaha mencari celah untuk memberikan perlawanan kompetitif.
"Kita itu kan kalau mau dibandingkan dengan tim Asia seperti China, Jepang, Korea, jujur sangat engap-engap-an dari segi apapun banyak ketinggalan. Tapi pada diri saya tak mau menyerah begitu saja,saya mau cari sesuatu yang bisa melawan mereka," ungkap Dadang.
Salah satu pencapaian yang memuaskan bagi Dadang adalah progres di nomor trek yang mulai menunjukkan hasil positif secara bertahap. Ia menilai tim nasional sudah berada di jalur yang benar untuk menembus level dunia.
"Ini kan kita sulit jika ingin tembus ke Asia, apalagi ke tingkat dunia. Tapi, kita step by step sudah menuju ke sana. Itu merupakan kepuasan bagi saya," tutur Dadang.
Mengenai kendala selama menjabat, Dadang menyoroti minimnya bibit atlet berbakat dan terbatasnya jumlah kompetisi di Indonesia. Menurutnya, rintangan tersebut harus dihadapi dengan mentalitas yang kuat agar prestasi tetap berjalan.
"Sedangkan untuk dukanya, mungkin sama seperti pelatih lainnya. Sulit untuk menemukan hasil bibit Indonesia tidak terlalu banyak karena masih belum begitu banyak. Lalu soal kompetisinya, ya rintangan yang harus kita hadapi. Ada banyak hal tapi kita harus terus maju, tidak boleh menyerah, tak boleh kendur. Itu saja," kata Dadang.
Meskipun belum berhasil membawa atlet meraih medali di panggung Olimpiade, Dadang mengaku sangat bangga bisa mengantarkan anak asuhnya lolos melalui jalur kualifikasi yang ketat. Ia membedakan pencapaian ini dengan status wildcard.
"Bagi saya (meloloskan atlet ke Olimpiade) itu adalah sebuah prestasi. Maksud saya, orang-orang tidak bisa melihat bahwa sebenarnya ada perbedaan besar antara wildcard dengan lolos kualifikasi," ujar Dadang.
Ia mengenang perjuangan panjang selama dua tahun yang harus ditempuh oleh Toni Syarifudin dan Bernard van Aert demi mendapatkan tiket Olimpiade. Baginya, proses kualifikasi tersebut adalah pembuktian atas kerja keras mereka.
"Kami lolos kualifikasi. Tony lolos kualifikasi selama dua tahun. Kemudian, Bernard juga lolos kualifikasi selama dua tahun. Jadi, ini prosesnya yang panjang dantidak mudah. Tapi ini adalah sebuah pencapaian dan membuat saya bangga," tegas Dadang.
Keputusan mundur ini terjadi saat ICF sedang mempersiapkan target empat medali emas untuk Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya. Dadang meyakini bahwa pelatih muda yang ada saat ini mampu meneruskan tongkat estafet kepelatihan dengan baik.
"Sekarang ini banyak pelatih-pelatih muda berpotensi. Ini bisa menjadi kesempatan mereka untuk menimba pengalaman. Asian Games juga tantangannya cukup besar apalagi di Jepang. Harapannya bisa tembus lah," harap Dadang.