Danilla Riyadi Siap Luncurkan Album Candramawa Berisi Delapan Lagu Reflektif

Danilla Riyadi Siap Luncurkan Album Candramawa Berisi Delapan Lagu Reflektif

Penyanyi dan penulis lagu Danilla Riyadi bersiap menyapa para pendengar musik di Tanah Air melalui peluncuran album studio penuh keempatnya yang bertajuk Candramawa. Karya terbaru ini hadir setelah empat tahun berselang dari era album POP SEBLAY yang dirilis pada tahun 2022 lalu.

Seperti dikutip dari Medcom, Candramawa merupakan sebuah repertoar album yang merangkum delapan trek lagu. Melalui jajaran lagu tersebut, Danilla mengisahkan refleksi perjalanan hidup manusia dalam menghadapi luka serta ketakutan masa lalu untuk kemudian berdamai dengannya.

Sebagai langkah awal, dua nomor pembuka telah dilepas ke publik sebagai pengenalan, yaitu "Lembar Biru" pada 31 Desember 2025 dan "Pertunjukan Terakhir" pada 13 April 2026. Sementara itu, peluncuran album penuh secara resmi dijadwalkan mengudara pada 5 Juni 2026 mendatang.

Menjelang perilisan resmi, sebuah acara sesi dengar (listening session) bertajuk Sebuah Pengantar Candramawa telah diselenggarakan di Warung Fotkop, Jakarta Selatan, pada Minggu, 17 Mei 2026. Dalam kesempatan ini, Danilla bersama tim menyajikan sebuah pengalaman baru yang sinematik dan imersif kepada para tamu undangan.

Berbeda dari sesi dengar konvensional, para pengunjung disuguhkan visualisasi melalui teknologi video-mapping. Selain itu, kualitas audio dialirkan secara jernih lewat perangkat wireless headphone yang disediakan sepanjang acara.

Atmosfer multisensori ini diperkuat dengan elemen interaktif dari bingkisan yang dibagikan saat registrasi. Para undangan diajak bersantai di atas bean bag, menghirup aroma parfum khusus yang dirancang untuk membangun suasana lagu, serta membaca buklet lirik sambil menikmati minuman.

Alasan Pemilihan Yogyakarta Sebagai Lokasi Workshop

Proses produksi hingga rekaman album Candramawa berlangsung sepanjang tahun 2024 sampai 2025 di dua kota berbeda, yakni Jakarta dan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam sesi konferensi pers, Danilla membeberkan alasan memboyong proses kreatif ini ke Yogyakarta.

"Hidupnya lebih murah untuk kita bawa teman-teman kita. Terus yang kedua, kebetulan kakekku juga lahir di sana," ungkap Danilla.

Danilla juga menjelaskan bahwa langkah melakukan workshop di luar kota ini merupakan pengalaman pertama bagi timnya. Faktor efisiensi anggaran menjadi pertimbangan utama bagi proyek musik independen ini.

"Ini pertama kali sebetulnya kita tuh workshop di luar kota, tapi yang namanya band indie ya jangan yang mahal-mahal dong. Gitu, kalau bisa di bawah Jakarta nih budget-nya," lanjutnya.

Proses penggarapan di Yogyakarta tersebut melibatkan tim kecil yang beranggotakan lima orang, termasuk Danilla sendiri.

"Akhirnya kita bertiga, bawa Nawan untuk dokumentasi, sama Andifa untuk senang-senang. Jadi kita mau mengambil suasana slow living-nya juga sih, lebih tepatnya ke sana gitu," tutur Danilla.

Pernyataan tersebut diiringi seloroh dari Otta Tarrega mengenai rencana awal lokasi workshop mereka.

"Tadinya pengennya ke Iceland cuma budget-nya nggak ada, jadi Jogja aja deh gitu," timpal Otta.

Perjalanan selama satu minggu menggunakan kereta menuju Yogyakarta tersebut akhirnya membuahkan hasil yang produktif. Tim kreatif yang terdiri dari Danilla, Otta Tarrega, dan Lafa Pratomo berhasil merampungkan enam lagu hanya dalam waktu enam hari, melampaui target awal satu hari satu lagu.

"Kita di sana tujuh hari, akhirnya dari tujuh hari kita jadi enam lagu, karena di hari ketujuhnya ya sudah senang-senang saja. Kayak sudah overachieved gitulah rasanya waktu itu," ungkap Lafa Pratomo.

Kolaborasi Musik dan Karya Terakhir Bersama Mendiang Gusti

Dalam menyusun fondasi musik untuk album Candramawa, Danilla kembali bekerja sama dengan Lafa Pratomo dan Otta Tarrega yang bertindak sebagai produser, penulis lirik, sekaligus penata aransemen. Proyek ini juga diperkaya oleh kolaborasi vokal bersama Bilal Indrajaya, hara (proyek solo Rara Sekar), dan Sandrayati.

Pada departemen instrumen, sejumlah musisi turut memberikan sumbangsih, meliputi Enrico Octaviano, Bembi Gusti, dan Edward Manurung pada drum. Posisi gitar diisi oleh Billy Saleh, sedangkan lini bass dikerjakan oleh Iskandar.

Sisi emosional dari album ini tercermin kuat pada trek ketujuh yang berjudul "Dasawarsa". Lagu tersebut melibatkan kontribusi dari almarhum musisi Gusti Irwan Wibowo yang bertindak sebagai co-producer sebelum ia berpulang.

Mendiang Gusti sempat merekam bagian suara untuk instrumen ukulele, synthesizer, sekaligus mengisi vokal latar pada lagu tersebut.

"Dan memang karena albumnya juga delapan track, jadi tujuh lagu kita kerjain di sana (Yogyakarta), satu lagu lagi kita aransemennya sama Almarhum Gusti gitu, barengan sama anak-anak juga, dia co-producer," tutup Danilla.

Artikel terkait

Rekomendasi