Dara Menangi Eurovision 2026 di Tengah Aksi Boikot Lima Negara

Dara Menangi Eurovision 2026 di Tengah Aksi Boikot Lima Negara

Penyanyi asal Bulgaria, Dara, berhasil memenangi Grand Final Eurovision Song Contest ke-70 lewat lagu "Bangaranga" di Wiener Stadthalle, Wina, Austria, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Namun, ajang tahun ini diwarnai aksi boikot dari Spanyol, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Islandia sebagai protes atas partisipasi Israel.

Dilansir dari Yahoo dan AP News, Dara mengamankan total 516 poin yang terdiri dari 204 poin juri nasional dan 312 poin pilihan penonton untuk membawa Bulgaria meraih kemenangan perdana sepanjang sejarah. Mantan kontestan X Factor Bulgaria tersebut mengalahkan wakil Israel, Noam Bettan, yang meraih posisi kedua dengan 343 poin lewat lagu "Michelle". Sementara posisi ketiga ditempati Rumania melalui Alexandra Căpitănescu, disusul Delta Goodrem dari Australia di peringkat keempat, Sal Da Vinci dari Italia di urutan kelima, dan Finlandia di peringkat keenam.

Dara, yang juga menjadi mentor dalam ajang The Voice Bulgaria, membawakan lagu pop modern yang memadukan unsur cerita rakyat dan terinspirasi ritual kuno kukeri di negaranya.

"pop music with folklore bones" cetus Dara, Penyanyi Bulgaria.

Dara juga menguraikan pesan mendalam dari judul lagu andalannya tersebut ketika malam kompetisi berlangsung.

"bangaranga is a special energy that everyone has got in themselves, a feeling that everything is possible." kata Dara, Penyanyi Bulgaria.

Kemenangan ini memastikan Bulgaria menjadi tuan rumah gelaran Eurovision ke-71 pada tahun depan.

"Surrender to the blinding lights. No one’s gonna sleep tonight. Welcome to the riot." bunyi lirik lagu Dara, Penyanyi Bulgaria.

Sejarawan Eurovision, Dean Vuletic, menilai penonton cenderung memberikan dukungan lebih kepada para artis yang sedang berkembang atau mereka yang mewakili negara yang lebih kecil.

"Eurovision has never really been a contest for big stars. It’s largely been a contest for underdogs," tutur Dean Vuletic, Sejarawan Eurovision.

Menurut analisis Dean Vuletic, terdapat kecenderungan psikologis tersendiri dari para pemilih dalam kompetisi ini.

"People like to see the underdog on stage. They like to the artist-in-the-making on stage or an artist from a smaller, poorer country on stage." tambah Dean Vuletic, Sejarawan Eurovision.

Di sisi lain, situasi kontras dialami utusan Inggris Raya, Sam Battle, yang menggunakan nama panggung Look Mum No Computer. Ia terpuruk di dasar klasemen akhir setelah membawakan lagu "Eins, Zwei, Drei" karena hanya mendapat 1 poin dari juri dan tanpa poin dari publik. Sebelum naik ke atas panggung, Battle sempat membagikan pandangannya mengenai peluang kemenangan dalam wawancara bersama Radio Times.

"It would be nice to win, of course. I won't be horrified if I don't win. There are a lot of very good acts that we're playing with. I'm going for the experience, and regardless of the outcome, I'm going to try my hardest, be myself and have a lot of fun." ujar Sam Battle, perwakilan Inggris Raya.

Penyelenggaraan Eurovision 2026 yang diikuti 35 negara ini memicu gelombang kritik tajam karena European Broadcasting Union (EBU) tetap mengizinkan Israel berkompetisi di tengah perang Gaza. Gelombang protes juga terjadi di pusat kota Wina yang melibatkan demonstrasi sekitar 2.000 orang, sehingga pengamanan ketat diterapkan di sekitar arena.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, dalam pesan video di media sosial X pada Jumat, 15 Mei 2026, menegaskan bahwa pemboikotan negaranya mengekspresikan komitmen terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional melalui kebudayaan.

"Itulah mengapa Spanyol tidak berpartisipasi di Kontes Eurovision, karena komitmen kami terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional juga diekspresikan melalui kebudayaan," kata Sanchez, sebagaimana dikutip Anadolu.

Pedro Sanchez membandingkan situasi ini dengan dikeluarkannya Rusia dari Eurovision pada tahun 2022 akibat invasi ke Ukraina.

"Ketika Rusia menginvasi Ukraina, mereka dilarang mengikuti kontes dan Spanyol mendukung keputusan itu. Prinsip-prinsip ini juga harus berlaku ketika kita membicarakan Israel. Tidak boleh ada standar ganda," kata Sanchez.

Menurut Pedro Sanchez, negara-negara peserta tidak boleh abai terhadap perang ilegal dan genosida yang terus terjadi di Gaza dan Lebanon.

"Kita tidak boleh abai dengan apa yang terus terjadi di Gaza dan Lebanon. Ini masalah konsistensi, tanggung jawab, dan kemানুsiaan," kata Sanchez.

Penarikan diri juga dilakukan oleh Islandia akibat tekanan sosial internal yang berkembang di negara tersebut. Direktur Jenderal lembaga penyiaran publik Islandia RÚV, Stefan Eiriksson, menegaskan alasan mundurnya negara tersebut dari kompetisi di Wina.

"In the current situation, there is no peace and joy associated with this contest. Therefore, first and foremost, we are withdrawing as long as the situation remains the same." tegas Stefan Eiriksson, Direktur Jenderal RÚV.

Selain Islandia dan Spanyol, Slovenia mengambil langkah protes yang unik dengan mengganti siaran festival musik ini menggunakan program khusus yang didedikasikan untuk Palestina. Guna membatasi promosi masif, EBU selaku penyelenggara sempat mengubah aturan pemungutan suara penonton di rumah menjadi maksimal 10 suara per orang.

Artikel terkait

Rekomendasi