Dara Menangkan Eurovision Song Contest 2026 di Austria

Dara Menangkan Eurovision Song Contest 2026 di Austria

Penyanyi asal Bulgaria, Dara, sukses menjuarai Grand Final Eurovision Song Contest ke-70 melalui lagu "Bangaranga" di Wiener Stadthalle, Wina, Austria, pada Sabtu (16/5/2026). Kemenangan perdana Bulgaria sejak bergabung pada 2005 ini diraih setelah Dara mengumpulkan total 516 poin.

Total poin tersebut bersumber dari 204 poin juri nasional dan 312 poin pilihan penonton melalui jajak pendapat elektronik, sebagaimana dilansir dari Yahoo dan AP News. Lagu andalan mantan kontestan X Factor Bulgaria tersebut memadukan musik pop modern dengan unsur cerita rakyat yang terinspirasi dari ritual kuno kukeri di negaranya.

"pop music with folklore bones" cetus Dara, Penyanyi Bulgaria.

Sebelum meraih kesuksesan internasional ini, Dara telah mendedikasikan pengalamannya sebagai pelatih di temuan ajang pencarian bakat The Voice of Bulgaria sejak tahun 2021 dan mencatatkan berbagai lagu hit nomor satu di tangga musik lokal.

"bangaranga is a special energy that everyone has got in themselves, a feeling that everything is possible." kata Dara, Penyanyi Bulgaria.

Atmosfer penampilan Dara di atas panggung malam itu juga digambarkan secara eksplisit melalui penggalan lirik dari lagu yang ia bawakan kepada para penonton.

"Surrender to the blinding lights. No one’s gonna sleep tonight. Welcome to the riot." bunyi lirik lagu Dara, Penyanyi Bulgaria.

Peringkat kedua kompetisi diraih oleh wakil Israel, Noam Bettan, dengan 343 poin, diikuti Alexandra Căpitănescu dari Rumania dengan 296 poin di posisi ketiga. Delta Goodrem dari Australia menempati posisi keempat, dan Sal Da Vinci dari Italia berada di peringkat kelima.

Sementara itu, utusan Inggris Raya, Sam Battle, yang tampil menggunakan nama panggung Look Mum No Computer dengan instrumen rakitan sendiri, harus terpuruk di dasar klasemen akhir setelah hanya mendapatkan 1 poin dari juri.

"It would be nice to win, of course. I won't be horrified if I don't win. There are a lot of very good acts that we're playing with. I'm going for the experience, and regardless of the outcome, I'm going to try my hardest, be myself and have a lot of fun." ujar Sam Battle, perwakilan Inggris Raya.

Dukungan penuh di arena Wina diberikan langsung oleh orang tua Sam, Jane dan Alan, yang menceritakan bahwa putranya tersebut baru saja menjadi seorang ayah beberapa minggu lalu dan selalu gemar membongkar pasang barang sejak kecil.

"The first thing he did when I gave him a trike, wasn't to try and ride it, it was to turn it upside down and see if he could get the wheels off - he's always been like that. He'll try and build anything, take it apart, see how it works." kata Jane, ibu Sam Battle.

Jane menambahkan bahwa meski pekan ini terasa sangat cepat berlalu, ia merasa sangat bangga dengan pencapaian putranya di panggung Eurovision.

"What an experience, I mean, how many people can say this is what they've done?" ujar Jane, ibu Sam Battle.

Setelah kompetisi selesai, Jane berseloroh mengenai aktivitas pengasuhan anak serta proyek unik lainnya yang akan segera dilanjutkan oleh Sam.

"Changing nappies, and then probably getting on with another mad project. He's got quite a few on the go. He's got a car that he's rebuilding; it'll probably have flames coming out and make a tune." kata Jane, ibu Sam Battle.

Di sisi lain, gelaran tahun ini diwarnai aksi boikot dari Spanyol, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Islandia, yang menarik diri sebagai protes atas keputusan European Broadcasting Union (EBU) yang tetap mengizinkan Israel berkompetisi.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, membela keputusan boikot negaranya melalui pesan video di media sosial X pada Jumat (15/5/2026), dengan menyoroti tindakan genosida Israel di Gaza serta serangan ke Lebanon.

"Itulah mengapa Spanyol tidak berpartisipasi di Kontes Eurovision, karena komitmen kami terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional juga diekspresikan melalui kebudayaan," kata Sanchez, sebagaimana dikutip Anadolu.

Sanchez juga membandingkan situasi ini dengan dikeluarkannya Rusia dari Eurovision pada tahun 2022 akibat invasi ke Ukraina dan menuntut penerapan prinsip yang adil tanpa standar ganda.

"Ketika Rusia menginvasi Ukraina, they dilarang mengikuti kontes dan Spanyol mendukung keputusan itu. Prinsip-prinsip ini juga harus berlaku ketika kita membicarakan Israel. Tidak boleh ada standar ganda," kata Sanchez, Perdana Menteri Spanyol.

Ia menambahkan bahwa negara-negara partisipan tidak boleh tinggal diam demi menjaga esensi kompetisi yang dibuat untuk mempromosikan perdamaian dunia.

"Kita tidak boleh abai dengan apa yang terus terjadi di Gaza dan Lebanon. Ini masalah konsistensi, tanggung jawab, dan kemanusiaan," kata Sanchez, Perdana Menteri Spanyol.

Langkah boikot serupa diikuti oleh Slovenia yang mengganti siaran festival musik ini dengan program khusus untuk Palestina, sedangkan beberapa penggemar lama dilaporkan BBC juga menolak menonton ajang ini.

Direktur Jenderal lembaga penyiaran publik Islandia RÚV, Stefan Eiriksson, menjelaskan bahwa penarikan diri negaranya didorong oleh adanya tekanan sosial internal yang kuat.

"In the current situation, there is no peace and joy associated with this contest. Therefore, first and foremost, we are withdrawing as long as the situation remains the same." tegas Stefan Eiriksson, Direktur Jenderal RÚV.

Ketegangan politik ini memicu demonstrasi sekitar 2.000 orang di pusat kota Wina, yang membuat pihak keamanan menerapkan penjagaan ketat di sekitar arena Wiener Stadthalle.

EBU bahkan sempat mengubah aturan pemungutan suara penonton menjadi maksimal 10 suara per orang setelah perwakilan Israel sempat mendapat sorakan ejekan dari penonton saat pengumuman poin publik, meskipun sistem voting baru ini kini mewajibkan biaya hingga 0,99 euro untuk menekan kecurangan.

Selain dinamika politik, jalannya kompetisi juga menguras fisik peserta, di mana kontestan asal Swedia, Felicia, dilaporkan sempat pingsan di belakang panggung akibat dehidrasi dan penurunan tekanan darah setelah gladi resik kedua hari Jumat.

“The dress rehearsal yesterday felt great. But it was so incredibly hot in the green room and the more time went by I felt like I was getting more and more dizzy and when I got to the dressing room I was very weak. I got great help from the medical staff on site. Now I have slept well, drunk as much water as I can and have eaten. So now I am super ready for the day," kata Felicia, Kontestan Asal Swedia.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang membayangi, sejarawan Eurovision Dean Vuletic memberikan pandangan mengenai karakteristik unik para pemenang di panggung festival musik tahunan ini.

"Eurovision has never really been a contest for big" kata Dean Vuletic, Sejarawan Eurovision.

Artikel terkait

Rekomendasi