Sekuel film kultus The Devil Wears Prada resmi memulai debut penayangannya di bioskop pada Mei 2026 dengan menyajikan kolaborasi antara jurnalisme investigasi dan industri mode kelas atas. Film ini mempertemukan kembali sutradara David Frankel dengan pemeran utama Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, dan Stanley Tucci dalam narasi yang mengeksplorasi perjuangan media cetak di era digital.
Produksi film ini mengambil lokasi ikonik di dua benua, mulai dari New York hingga ke pusat mode Italia. Dilansir dari Tempo.co, lokasi di Manhattan mencakup Central Park dan kawasan Hudson Yards, sementara Long Island Bar di Brooklyn digunakan sebagai latar tempat kencan karakter Andy Sachs yang kini berprofesi sebagai jurnalis investigasi pemenang penghargaan.
Miranda Priestly, sang editor legendaris, dikisahkan menghadapi tantangan dari konsultan manajemen yang lebih mengutamakan jumlah klik daripada kualitas konten. Di tengah krisis majalah Runway, Andy kembali untuk membantu mantan atasannya tersebut, sementara Emily Charlton telah naik pangkat di jajaran mode mewah.
Desainer kostum Molly Rogers mengambil alih tanggung jawab dari Patricia Field untuk mendefinisikan ulang gaya berpakaian yang mencerminkan kekuasaan. Rogers menekankan pentingnya menghormati elemen orisinal dari film pertama, termasuk menghadirkan kembali benda-benda ikonik milik para karakter utama.
"I need that cerulean sweater," ujar Molly Rogers, Desainer Kostum.
Rogers menjelaskan bahwa sweter biru tersebut harus terlihat memiliki bekas penggunaan namun tetap layak pakai untuk adegan penutup film. Selain pakaian, tim produksi juga harus merekonstruksi perhiasan tertentu berdasarkan arsip foto lama karena barang aslinya tidak ditemukan di studio.
"I thought Stanley had taken it as a memento, but he denied it, so I believe him," kata Molly Rogers, Desainer Kostum.
Selain New York, syuting dilakukan secara ekstensif di Milan dan Danau Como, Italia. Lokasi yang digunakan meliputi Galleria Vittorio Emanuele II, Palazzo Parigi, hingga Villa del Balbiano yang merupakan istana abad ke-16. Rogers juga melibatkan talenta lokal dan mahasiswa mode untuk mengisi adegan di lemari pakaian guna memberikan autentisitas pada latar film.
"Can I give someone a moment where they can actually say, ‘My piece was in The Devil Wears Prada 2!’" ungkap Molly Rogers, Desainer Kostum.
Dalam wawancara mengenai pemilihan busana, Rogers mengungkapkan bahwa Meryl Streep memiliki pandangan purist terhadap detail pakaian, termasuk saat pemilihan sepatu untuk gaun khusus Balenciaga. Streep menyarankan penggunaan sepatu yang lebih rendah sesuai visi direktur kreatif rumah mode tersebut.
"This is what Pierpaolo Piccioli, the Creative Director of Balenciaga, intended for this gown, and we should stick with this idea of a lower shoe," tutur Molly Rogers, Desainer Kostum.
Dari perspektif industri, film ini memicu diskusi mengenai tanggung jawab pembaca dalam mendukung jurnalisme berkualitas. Digital Director Vogue Adria, Nives Bokor, memberikan catatan bahwa film ini menangkap kegelisahan antara kecepatan konten digital dengan kedalaman teks editorial.
"Good journalism is not only the responsibility of journalists, but also of readers," papar Nives Bokor, Digital Director Vogue Adria.
Art Director Stanislav Zakic menambahkan bahwa suasana dalam film ini masih membawa tekanan dan ironi yang sama dengan dunia kerja nyata di industri kreatif. Meskipun banyak hal telah berubah dalam dua dekade, ambisi para karakter tetap menjadi penggerak utama cerita.
"Don’t be ridiculous Andrea, everybody wants this," pungkas Stanislav Zakic, Art Director Vogue Adria.