Perupa asal Yogyakarta, Dian Suci, dinobatkan sebagai pemenang Anugerah Max Mara Art Prize for Women Cecilia Alemani edisi ke-10 dan dijadwalkan menjalani residensi selama enam bulan di Italia. Pengumuman pemenang tersebut disampaikan oleh kepala dewan juri Cecilia Alemani pada Kamis (7/5/2026), bertepatan dengan pembukaan pameran seni La Biennale di Venesia, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Penghargaan yang dikuratori oleh Max Mara, Collezione Maramotti, dan Museum MACAN ini bertujuan mempromosikan seniman perempuan pada awal hingga pertengahan karier. Dian terpilih berdasarkan proposal proyek berjudul Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice yang mengeksplorasi pertemuan tradisi keagamaan dengan sistem kapitalis.
Karya-karya Dian Suci selama ini dikenal kerap bersinggungan dengan narasi domestik, otoritarianisme, patriarki, hingga kapitalisme. Melalui kriya, ia berupaya menampilkan arsip hidup yang merekam transformasi sosial serta ekonomi suatu bangsa.
Presiden Max Mara Fashion Group, Luigi Maramotti, memberikan apresiasi terhadap visi artistik yang diusung oleh sang perupa dalam keterangan persnya pada Jumat (8/5/2026).
"Proyek menjanjikan dari Dian Suci, mengeksplorasi ranah ritual dan gerak, menjalin keduanya dengan teknik kriya kuno dan sejarahnya, dalam dialog berkelanjutan antara Timur dan Barat. Kekayaan tradisi kriya Italia, dalam segala seginya, berada di jantung Max Mara Art Prize, yang juga bertujuan mempertemukan dua dunia yang berbeda namun saling melengkapi, yakni seni dan kriya," tulis Luigi Maramotti, Presiden Max Mara Fashion Group.
Dian yang memiliki latar belakang studi arsitektur dinilai memiliki kemandirian dari institusi seni tradisional. Direktur Museum MACAN, Venus Lau, menyatakan dukungannya terhadap perkembangan karier Dian di masa depan.
"Saya percaya residensi di Italia akan menyediakan kerangka penting baginya untuk memperluas suara artistik ini," ucap Venus Lau, Direktur Museum MACAN.
Pemenang penghargaan ini juga mengungkapkan harapannya terkait peluang riset yang akan dilakukan di dua negara berbeda.
"Pengakuan ini memberi saya kesempatan untuk memperluas riset saya antara Indonesia dan Italia, serta untuk belajar dari tradisi dan ritual yang menyimpan spiritualitas dalam tubuh-tubuh yang menciptakan," tegas Dian Suci, Seniman.
Selama masa residensi, Dian akan memulai perjalanannya di Assisi untuk mempelajari cara hidup biarawan, kemudian berlanjut ke Roma guna menghadiri misa di Basilika Santo Petrus. Ia juga dijadwalkan mendalami kerajinan papier-mache di Lecce sebelum mengakhiri program di Firenze.
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Italia bersama Collezione Maramotti, Dian Suci akan menggelar pameran tunggal di Museum MACAN pada pertengahan 2027. Pada tahun yang sama, karya hasil residensi tersebut juga bakal dipamerkan di Reggio Emilia, Italia.