Bentara Budaya Jakarta bersama Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) menyelenggarakan diskusi dan pertunjukan bertajuk Lengger: Tradisi, Tubuh dan Tafsir pada Selasa (5/5/2026). Acara ini diadakan untuk memperingati Hari Tari Dunia sekaligus membedah makna mendalam kesenian tradisional asal Banyumas tersebut.
Dilansir dari Lifestyle, kegiatan ini bertujuan memberikan perspektif bahwa lengger bukan sekadar tontonan, melainkan identitas dan refleksi kehidupan masyarakat. Kesenian ini secara historis hadir dalam berbagai ritual sosial seperti selamatan, hajatan, hingga perayaan panen di tengah masyarakat.
Pendiri BWCF, Seno Joko Suyono, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini didasari oleh perbedaan sudut pandang terhadap lengger yang berkembang di publik. Ia menilai terdapat kecenderungan penyederhanaan makna yang berisiko mengaburkan variasi asli kesenian tersebut.
"Lengger itu sebenarnya masih satu praktik yang cair, bukan hanya lengger lanang, tetapi juga lengger perempuan dan bentuk-bentuk lain yang sangat beragam," ujar Seno Joko Suyono, Founder BWCF.
Upaya membawa gagasan ini ke ranah pertunjukan dilakukan agar masyarakat bisa merasakan langsung nilai-nilai tradisi yang biasanya hanya tersedia dalam bentuk teks atau literatur.
"Kami ingin membawa refleksi itu ke panggung, agar publik tidak hanya membaca, tetapi juga mengalami," kata Seno Joko Suyono, Founder BWCF.
General Manager Bentara Budaya, Ilham Khoiri, menambahkan bahwa seni seperti lengger dapat menjadi ruang jeda bagi masyarakat di tengah rutinitas modern. Nilai sejarah dan cara pandang hidup warga Banyumasan tersimpan kuat dalam setiap gerakannya.
"Kehidupan sekarang membuat kita sibuk dan kehilangan kesempatan untuk berefleksi, sementara dengan melihat lengger kita bisa berhenti sejenak dan memikirkan berbagai hal," ujar Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya dan Communication Management Kompas Gramedia.
Penari dan koreografer Rianto memaparkan sisi historis lengger yang melibatkan penari laki-laki dengan riasan perempuan. Perkembangan kesenian ini tercatat mulai mengemuka sejak abad ke-19, beriringan dengan populernya kethoprak tobong.
Kelenturan budaya terlihat dari bagaimana lengger tumbuh berdampingan dengan kesenian rakyat lain seperti ledhek dan tayub. Rianto juga menjelaskan etimologi tradisional atau jarwo dhosok yang melekat pada nama kesenian ini.
"Lengger dimaknai sebagai diarani leng jebulane jengger, dikira perempuan ternyata laki-laki," ujar Rianto, Penari dan Koreografer.