Band d'Masiv mengambil langkah besar dengan menyudahi kerja sama dengan Musica Studios, label rekaman yang telah menaungi mereka selama dua dekade di industri musik tanah air. Seperti dikutip dari Medcom, keputusan untuk mengakhiri kemitraan ini dipastikan berjalan secara damai tanpa adanya perselisihan.
Musica Studios merupakan perusahaan rekaman yang ikut membesarkan d'Masiv bersama sejumlah band besar lainnya seperti Geisha, Nidji, Peterpan, hingga NOAH. Kontrak d'Masiv bersama label tersebut resmi berakhir pada bulan Mei 2026, yang kemudian melatarbelakangi keputusan band asal Ciledug ini untuk berpisah.
"Kami tahun 2007 menang festival musik terus hadiahnya dikontrak sama Musica. Sejak itu hampir setiap dua tahun rilis album. Sampai album 8 kemarin, kontrak kami habis terhitung dua tahun setelah album terakhir dirilis tahun 2024 kemarin," kata Kiki gitaris d'Masiv di Jakarta.
Seluruh personel d'Masiv menyatakan rasa terima kasih atas andil besar label lama mereka dalam membangun karier bermusik selama ini. Rian mengaku sangat tersentuh ketika manajemen mengadakan sebuah seremoni perpisahan khusus untuk mereka.
"Komunikasinya baik, ada exit letter juga, bahkan ada acara perpisahan. Mereka ikut dukung kami, ya memang cukup emosional ya," kata Rian.
Selepas keluar dari manajemen Musica Studios, d'Masiv memilih untuk mendirikan perusahaan rekaman mandiri. Langkah menjadi band indie ini diakui Rian memberikan kebebasan penuh bagi mereka dalam menentukan arah kreativitas musik serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak.
"Kami sekarang mandiri tapi tidak bisa sendiri, jadi semakin melibatkan banyak orang dan kolaborasi dengan banyak pihak," ucap Rian.
Menandai dimulainya lembaran baru dalam perjalanan karier mereka, d'Masiv memperkenalkan logo teranyar berupa gambar pesawat kertas. Simbol ini dimaknai sebagai representasi dari perjalanan panjang yang masih harus mereka tempuh untuk menggapai mimpi-mimpi baru.
"Jadi namanya pesawat kertas ya. Ini cukup panjang, cukup panjang kita akhirnya bisa membuat atau menentukan ikon atau logo yang baru. Karena buat kita logo itu juga menjadi doa, menjadi satu karakter yang memang bisa mencerminkan sebuah band," jelas Rian.
"Akhirnya kita menentukan bahwa ada satu ikon, satu simbol di logo d'Masiv, yaitu di bagian apostrof-nya itu diubah menjadi paper plane atau pesawat kertas. Kenapa pesawat kertas? Karena buat kita pesawat kertas itu adalah satu hal yang sederhana, yang bisa kita terbangkan ke mana pun," lanjutnya.
Sebagai modal awal di jalur independen, d'Masiv merilis karya terbaru berjudul "On Our Own". Melalui lagu ini, mereka menggandeng musisi asal Amerika Serikat demi mempermudah jalan merambah pasar musik internasional.
"Tapi ya mungkin perbedaannya adalah kita lagunya sekarang Bahasa Inggris, mungkin akan sedikit tidak terbiasa ya yang biasa dengerin d'Masiv lagu-lagu Indonesia gitu. Nah ini kita mencoba memberanikan diri untuk membuat lagu Bahasa Inggris dan plannya nanti satu album Bahasa Inggris," ungkap Rian.