Film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini tengah memicu perbincangan hangat di berbagai lini media sosial. Sinema investigatif ini mengupas tuntas persoalan eksploitasi sumber daya alam serta konflik agraria yang terjadi di Indonesia.
Karya sinematik ini digarap oleh dua sineas dokumenter ternama, Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale. Kehadiran film ini langsung memicu rasa penasaran publik, terutama terkait jadwal penayangan dan akses untuk menontonnya.
Dikutip dari Suara, film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita pertama kali diluncurkan dalam gala premiere pada 12 April 2026. Acara peluncuran perdana tersebut dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Agenda tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari aktivis lingkungan, akademisi, pegiat film dokumenter, hingga komunitas masyarakat sipil. Mereka merupakan kelompok yang aktif mengawal isu perampasan lahan dan eksploitasi alam.
Setelah penayangan perdana, karya visual ini diputar melalui forum diskusi publik, pemutaran independen, serta agenda akademik di sejumlah negara. Dokumen lingkungan ini bahkan sempat dipresentasikan dalam forum di Berlin dan Columbia University.
Meskipun ramai diperbincangkan sejak diluncurkan pada April hingga Mei 2026, film ini belum mendapatkan jadwal tayang reguler di jaringan bioskop komersial Indonesia.
Masyarakat saat ini hanya bisa menyaksikan film Pesta Babi melalui pemutaran yang diselenggarakan secara terbatas. Akses menonton tersedia di screening komunitas, forum kampus, acara diskusi publik, serta kegiatan kebudayaan dan advokasi.
Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai penayangan di jaringan bioskop nasional seperti XXI, CGV, maupun Cinepolis. Karya ini juga tidak didistribusikan melalui platform streaming populer seperti Netflix, Disney+ Hotstar, Prime Video, atau YouTube.
Masyarakat yang tertarik menonton disarankan memantau langsung informasi jadwal pemutaran berkala melalui media sosial komunitas penyelenggara atau jaringan aktivis. Pengumuman screening ini juga kerap dibagikan secara mendadak lewat akun Instagram Watchdoc.
Secara substansi, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan dokumenter investigatif yang menyoroti dampak nyata ekspansi industri terhadap masyarakat lokal. Fokus utamanya mencakup konflik agraria, dugaan perampasan tanah adat, hingga perluasan tambang dan perkebunan.
Narasi film juga memperlihatkan kerusakan lingkungan hidup, kriminalisasi terhadap warga, serta pola relasi antara korporasi, aparat, dan elite kekuasaan. Seluruh dinamika tersebut digambarkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi lapangan.
Judul "Pesta Babi" dipakai sebagai bentuk metafora untuk mengritik keserakahan dalam perebutan kekayaan alam. Praktik tersebut dinilai hanya menguntungkan kelompok tertentu, sementara masyarakat lokal harus menanggung kerusakan ekologis.
Pendekatan visual film ini diperkuat dengan kompilasi rekaman kondisi lingkungan, testimoni warga terdampak, serta arsip kebijakan pemerintah. Produksi sinema ini berada di bawah naungan kolektif Ekspedisi Indonesia Baru.
Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale dikenal konsisten melahirkan karya jurnalisme visual independen yang kritis terhadap kebijakan publik. Dengan durasi sekitar 95 menit atau 1 jam 35 menit, penonton diajak melihat rangkaian investigasi konflik lingkungan di berbagai wilayah Indonesia.