Tradisi pesta babi di Papua kembali menjadi sorotan publik setelah diangkat dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Jauh sebelum viral melalui layar dokumenter, ritual ini telah menjadi fondasi penting dalam tatanan kehidupan masyarakat adat Papua sejak lama, seperti dilansir dari Suara.
Bagi komunitas setempat, babi bukan sekadar hewan ternak biasa melainkan simbol status sosial, kehormatan, dan solidaritas antarkeluarga maupun antarkomunitas.
Pesta babi tidak dapat diartikan hanya sebagai acara makan bersama karena memiliki dimensi sosial, ekonomi, hingga spiritual yang mendalam.
Tradisi yang dijaga turun-temurun dari kawasan Pegunungan Tengah hingga Boven Digoel ini digelar pada momen krusial seperti pernikahan, perdamaian, dan penyelesaian konflik.
Lembaga arsip dan kajian budaya Papua, Stichting Papua Erfgoed, mencatat bahwa jumlah kepemilikan babi menunjukkan pengaruh dan posisi sosial seseorang dalam struktur masyarakat.
Hewan ini juga berfungsi sebagai alat pembayaran adat, mas kawin, serta bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu penting.
Peneliti antropologi Belanda H.L. Peters, yang tinggal bersama masyarakat Dani di Lembah Baliem pada akhir 1950-an, mencatat babi tidak pernah disembelih secara sembarangan.
Pemotongan hewan tersebut hanya dilakukan dalam upacara adat besar yang melibatkan gotong royong dan bertujuan mempererat hubungan antar-kampung.
Tradisi Awonbon dan Atatbon Suku Muyu
Masyarakat suku Muyu di Boven Digoel, Papua Selatan, mengenal dua bentuk utama dalam tradisi ini, yaitu awonbon dan atatbon.
Awonbon merupakan perayaan skala kecil yang diadakan oleh keluarga inti dengan jumlah undangan yang terbatas.
Sementara itu, atatbon adalah pesta besar yang melibatkan satu marga atau klan untuk mengundang kelompok masyarakat dari luar.
Melalui ritual atatbon, tuan rumah membagikan daging babi kepada para tamu sebagai lambang persaudaraan sekaligus bentuk hubungan timbal balik.
Keterikatan dengan Hutan Adat
Proses penyelenggaraan pesta babi membutuhkan waktu bertahun-tahun karena hewan wajib dipelihara sendiri oleh keluarga atau marga di dalam hutan.
Pada beberapa tradisi kuno, kaum perempuan adat merawat anak babi layaknya anggota keluarga sendiri dan membawanya menggunakan noken ke kebun.
Setelah tumbuh besar, babi dilepasliarkan ke hutan adat dan baru akan diburu kembali menjelang pelaksanaan ritual adat dimulai.
Eksploitasi hutan Papua berdampak langsung pada kelestarian tradisi ini karena ruang hidup hewan peliharaan mereka terus menyusut.
Film dokumenter Pesta Babi memotret potret kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan yang kini berhadapan dengan pembukaan lahan skala besar untuk proyek pangan dan energi nasional.
Di tengah tekanan modernisasi dan ekspansi industri, tradisi pesta babi kini bertransformasi menjadi simbol solidaritas serta ketahanan budaya bagi generasi muda Papua.