Dokumenter Pesta Babi Viral, Sosok Antropolog Cypri Dale Jadi Sorotan

Dokumenter Pesta Babi Viral, Sosok Antropolog Cypri Dale Jadi Sorotan

Nama Cypri Dale mulai ramai diperbincangkan masyarakat setelah film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita viral di media sosial.

Selama ini, publik lebih akrab dengan nama Dandhy Dwi Laksono sebagai sosok di balik berbagai film investigatif bertema sosial-politik.

Namun, dilansir dari Suara, ada peran penting Cypri Dale yang turut membangun narasi kuat mengenai masyarakat adat Papua, konflik agraria, dan eksploitasi hutan di Papua Selatan.

Cypri Dale bukan sekadar pembuat film dokumenter, melainkan dikenal sebagai antropolog sosial, peneliti, sekaligus aktivis.

Ia telah bertahun-tahun menaruh perhatian pada isu pembangunan, hak masyarakat adat, dan perubahan sosial di Indonesia Timur, khususnya Papua.

Pria yang memiliki nama lengkap Cypri Jehan Paju Dale ini dikenal luas di dunia akademik internasional karena fokus penelitiannya pada politik pembangunan dan perjuangan masyarakat adat di Papua.

Ia meraih gelar doktor atau PhD di bidang Antropologi Sosial dari University of Bern, Swiss, pada 2018 dengan disertasi yang membahas perjuangan antikolonial dan transformasi sosial masyarakat Papua Barat.

Selain itu, Cypri Dale juga pernah menjadi peneliti dan fellow di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang, serta University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

Dalam berbagai penelitian akademiknya, ia banyak mengkaji politik pembangunan, antropologi agama Kristen, korupsi sistemik, hubungan masyarakat adat dengan lingkungan, hingga relasi manusia dan makhluk hidup lain di wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Flores.

Melalui latar belakang tersebut, pendekatan Cypri Dale terhadap isu Papua dinilai tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga dekat dengan realitas sosial masyarakat adat di lapangan.

Peran Cypri Dale dalam Film Pesta Babi

Cypri Dale berkolaborasi bersama Dandhy Laksono menjadi sutradara film dokumenter investigatif berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Film berdurasi sekitar 96 menit itu merekam pembukaan hutan alam dalam skala besar di wilayah Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.

Lewat dokumenter tersebut, mereka mencoba memperlihatkan dampak proyek pangan dan energi nasional bagi kehidupan masyarakat adat suku Awyu, Marind, hingga Muyu.

Salah satu bagian yang paling banyak disorot dalam film adalah tradisi pesta babi masyarakat suku Muyu yang dijadikan simbol hubungan erat masyarakat adat dengan tanah dan hutan mereka.

Film Pesta Babi mulai mendapat perhatian luas pada Mei 2026 setelah sejumlah acara nonton bareng dan diskusi publik di beberapa daerah mengalami pembubaran dan penolakan.

Beberapa screening kampus dan komunitas di daerah seperti Mataram dan Ternate menghadapi penghentian paksa oleh pihak tertentu.

Situasi tersebut justru membuat rasa penasaran publik terhadap dokumenter ini semakin besar, terlebih karena film ini mengangkat isu eksploitasi hutan Papua yang selama ini jarang dibahas secara mendalam di ruang publik nasional.

Aktivis dan Peneliti yang Fokus pada Papua

Di luar dunia perfilman, Cypri Dale dikenal aktif dalam kerja-kerja penelitian dan advokasi terkait masyarakat adat Papua.

Ia kerap menyoroti bagaimana pembangunan industri dan kebijakan ekonomi dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat lokal, terutama kelompok adat yang bergantung pada hutan dan tanah leluhur.

Keterlibatannya dalam Pesta Babi dianggap penting oleh banyak kalangan karena dinilai membawa perspektif orang Papua sendiri dalam dokumenter yang membahas Papua.

Pendekatan tersebut membuat film Pesta Babi terasa lebih personal, emosional, sekaligus kuat secara antropologis dan sosial.

Kini, nama Cypri Dale semakin dikenal luas sebagai salah satu intelektual muda Papua yang aktif menggabungkan riset akademik, dokumenter visual, dan advokasi masyarakat adat dalam karya-karyanya.

Artikel terkait

Rekomendasi