Drama Korea Perfect Crown yang menampilkan adu peran antara IU dan Byeon Woo-seok resmi berakhir di episode 12. Kisah pasangan kerajaan ini sukses mencatatkan angka rating tertinggi sepanjang masa penayangannya.
Seperti dilansir dari Wolipop, episode ke-11 yang mengudara pada Jumat (16/5/2026) sempat memecahkan rekor dengan raihan 13,5%. Namun, capaian tersebut langsung terlampaui oleh episode final yang meraup rating baru sebesar 13,8%.
Pada ujung cerita, jalinan asmara Pangeran I-an dan Seong Hui-ju berakhir dengan bahagia. Pangeran I-an yang naik takhta menjadi raja memilih untuk menghapus sistem monarki konstitusional agar dapat hidup sebagai pasangan masyarakat biasa bersama Hui-ju.
Tayangan penutup Perfect Crown menyajikan akhir yang manis lewat adegan ciuman antara I-an dan Hui-ju di area bangku penonton pertandingan baseball. Momen romantis tersebut disambut riuh oleh para penonton yang menyaksikannya melalui layar besar stadion.
Serial ini telah memikat perhatian publik sejak awal pengumuman karena mempertemukan IU dan Byeon Woo-seok. Dua minggu sebelum penayangan perdana, proyek ini bahkan menempati peringkat pertama popularitas drama TV-OTT versi FUNdex dari Good Data Corporation.
Pencapaian tersebut mencetak sejarah baru karena untuk pertama kalinya sebuah drama yang belum tayang mampu memuncaki survei popularitas. Kendati demikian, respons yang muncul setelah episode pertama mengudara justru diwarnai beragam kritik dari penonton.
Kemampuan akting kedua pemeran utama sempat menjadi sorotan tajam. Byeon Woo-seok menuai kritik akibat pelafalan dan intonasi dialog yang dianggap kaku, sementara akting IU dinilai sebagian penonton terlalu dibuat-buat dan menyerupai karakternya di drama terdahulu.
Seiring berkembangnya alur cerita, chemistry di antara keduanya semakin solid sehingga kritik tersebut mereda. Namun, menjelang episode akhir, gelombang kritik baru muncul kembali terkait dugaan distorsi sejarah seperti dikutip dari Chosun Daily.
Sistem kasta dalam cerita dinilai lebih mirip dengan struktur keluarga kekaisaran Jepang modern daripada era Joseon. Proyek ini juga sempat terseret dalam isu kontroversi Northeast Project di kalangan masyarakat.
Protes keras dari publik muncul saat upacara penobatan Pangeran I-an menggunakan seruan Cheonse yang bermakna negara bawahan, alih-alih Manse yang melambangkan kemerdekaan. Penggunaan mahkota Guryu-myeon-gwan sembilan untaian manik juga dinilai keliru karena busana tersebut mencerminkan penguasa bawahan.
Merespons polemik tersebut, tim produksi menyampaikan permohonan maaf secara resmi melalui situs daring MBC atas ketidakakuratan latar sejarah serta dialog yang dihadirkan dalam beberapa bagian cerita.
"Kami menerima dengan serius kritik penonton terhadap adegan penobatan raja (Byeon Woo-seok) yang mengenakan 'Guryu Myeonryugwan' serta seruan 'Cheon-se' dari para rakyat, yang dianggap merendahkan status kedaulatan negara kita. Masalah ini terjadi karena kami gagal menelaah secara cermat bagaimana tata protokol Dinasti Joseon berkembang sepanjang sejarah. 21st Century Grand Queen adalah drama yang menggabungkan romansa dengan unsur sejarah. Seharusnya diperlukan pertimbangan yang lebih hati-hati dan mendalam pada bagian ketika dunia fiksi bersinggungan dengan konteks sejarah nyata. Namun kami kurang maksimal dalam menyempurnakan dunia cerita dan meninyaunya secara lebih menyeluruh. Kami dengan rendah hati menerima kritik dari penonton," tutur tim produksi Perfect Crown.