Penyerang tim nasional Haiti, Duckens Nazon, dilaporkan sempat terjebak dalam situasi berbahaya akibat konflik bersenjata di Iran saat membela klubnya, Esteghlal. Pengalaman emosional ini dialami Nazon di tengah kesuksesannya membawa Haiti lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Aksi militer yang terjadi membuat pemain berusia 32 tahun tersebut harus menyaksikan secara langsung jatuhnya proyektil di wilayah tempat tinggalnya. Sebagaimana dilansir dari Suara yang merujuk laporan BBC, Nazon berada dalam kondisi terancam saat bermukim di negara tersebut.
"Saya melihat bom jatuh dari sekitar 100 meter. Itu pengalaman yang gila," ujar Duckens Nazon.
Pelarian Nazon dari zona konflik tidak berjalan mulus karena pembatalan jadwal penerbangan yang terjadi secara mendadak. Hal ini memaksa sang pencetak gol terbanyak sepanjang masa Haiti tersebut menempuh jalur darat menuju perbatasan Iran-Azerbaijan.
Upaya evakuasi mandiri tersebut membuat Nazon harus bertahan di wilayah perbatasan selama dua hari penuh sebelum mendapatkan akses keluar. Selama masa sulit tersebut, ia mengandalkan teknologi kartu SIM digital untuk tetap terhubung dengan dunia luar.
"Saya ditolak di perbatasan dan harus tidur di sana. Tapi saya beruntung membeli eSIM sebelum perang, karena internet di Iran diputus," kata Duckens Nazon.
Kekhawatiran penyerang Esteghlal ini sedikit berkurang karena keluarganya tidak berada di Iran saat ketegangan memuncak. Istri dan keempat anaknya diketahui tetap tinggal dengan aman di Prancis selama Nazon menjalani karier profesionalnya.
"Kalau bersama keluarga dalam kondisi itu, pasti jauh lebih sulit mengambil keputusan," ucap Duckens Nazon.
Saat ini, Nazon telah berhasil keluar dari zona konflik dan mulai memusatkan perhatiannya pada persiapan membela Haiti di turnamen akbar tahun 2026. Ia berkomitmen menjaga kondisi fisik melalui latihan individu mengingat kompetisi sepak bola di Iran sedang dihentikan sementara.
Haiti dijadwalkan menghadapi persaingan ketat di fase grup melawan Brasil, Maroko, dan Skotlandia. Nazon memandang partisipasi negaranya yang kedua kali dalam sejarah Piala Dunia ini sebagai sebuah tanggung jawab besar.
"Kami adalah duta negara kami. Ini bukan tekanan, tapi misi yang kami jalani dengan cinta dan semangat," tegas Duckens Nazon.