Tim bulu tangkis putra Malaysia harus menghentikan ambisi juara pada Piala Thomas 2026 setelah dipulangkan China dengan skor telak 0-3 di babak perempat final. Kegagalan ini memicu evaluasi mendalam terkait strategi perombakan pemain akibat cedera dan masalah kedisiplinan atlet di bawah naungan Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM).
Pelatih ganda putra Malaysia, Herry Iman Pierngadi, mengungkapkan bahwa faktor kebugaran menjadi kendala utama timnya saat melakoni laga krusial. Keputusan untuk mengacak formasi pasangan dilakukan karena salah satu pemain kunci tidak dalam kondisi prima saat fase grup melawan Jepang.
"Keputusan itu dibuat dalam rapat yang melibatkan para pelatih dan pemain," kata Herry IP dikutip Bolasport dari New Stripes Times.
Herry menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai strategi darurat agar sektor ganda tetap bisa memberikan kontribusi poin maksimal di tengah keterbatasan fisik pemain. Strategi ini diambil setelah melakukan analisis mendalam terhadap kondisi kebugaran Man Wei Chong.
"Itu adalah pilihan terbaik karena Man Wei Chong belum sepenuhnya fit karena cedera yang dialaminya," tandas Herry.
Pihak kepelatihan menilai rotasi pemain adalah solusi agar performa tim tidak merosot tajam akibat memaksakan pemain yang cedera. Herry menekankan bahwa tujuan utama pengacakan pasangan adalah untuk memeras potensi terbaik dari setiap pemain yang tersedia.
"Kami harus mengacak pasangannya agar pemain ganda dapat menampilkan performa terbaik mereka," jelas Herry.
Meskipun upaya maksimal telah dilakukan di lapangan, hasil akhir pertandingan tetap tidak sesuai dengan target yang dicanangkan federasi. Herry tetap memberikan apresiasi terhadap daya juang anak asuhnya yang telah berupaya mengamankan kemenangan untuk Malaysia.
"Meskipun hasilnya tidak sesuai harapan, saya merasa para pemain telah memberikan yang terbaik," jelas pelatih asal Indonesia ini.
Kekalahan dari China di babak delapan besar semakin disesalkan setelah ganda putra andalan Aaron Chia/Soh Wooi Yik gagal mempertahankan keunggulan atas pasangan Liang Wei Keng/Wang Chang. Herry menyoroti banyaknya kesalahan mendasar yang dilakukan pemainnya saat berada di poin-poin kritis.
"Seharusnya kami memenangkan gim pertama, tetapi terlalu banyak kesalahan sendiri di tahap akhir," kata Herry.
Kegagalan mengamankan gim pembuka membuat lawan asal China mendapatkan momentum dan kepercayaan diri untuk mendominasi sisa pertandingan. Konsentrasi pemain Malaysia dianggap terganggu sehingga ritme permainan yang sudah terbangun menjadi berantakan.
"Ketika kami gagal mengamankannya, pasangan China itu semakin percaya diri. Aaron/Wooi Yik melakukan terlalu banyak kesalahan, dan itu mengganggu ritme permainan mereka," kata Herry.
Di sisi lain, kegagalan ini memicu reaksi keras dari Ketua Komite Prestasi BAM, Lee Chong Wei, yang menyoroti aspek kedisiplinan pemain. Lee Chong Wei bersama Presiden BAM menegaskan tidak akan menoleransi setiap pelanggaran aturan di dalam lingkungan asrama atlet nasional.
"Saya dan Presiden BAM memiliki perhatian yang sama terhadap kedisiplinan para atlet," ungkap Lee Chong Wei dikutip dari laman Berita Harian.
Legenda bulu tangkis Malaysia tersebut mengancam akan mengambil tindakan tegas berupa pencoretan dari tim nasional bagi siapa saja yang tidak patuh pada aturan. Ketegasan ini berlaku bagi seluruh level pemain tanpa melihat status kebintangan maupun prestasi yang pernah diraih di masa lalu.
"Sebagai contoh selepas Piala Thomas, jika ada yang masih belum kembali ke asrama sesuai ketetapan, kami akan mendepaknya dari tim," kata Lee Chong Wei.
Lee Chong Wei menambahkan bahwa ketaatan terhadap aturan adalah kunci bagi seorang atlet jika ingin meraih prestasi tertinggi di level internasional. Menurutnya, kegagalan disiplin akan menghambat perkembangan karier pemain profesional di masa depan.
"Tidak peduli mau juara dunia atau Olimpiade sekalipun. Jika tidak disiplin, Anda tak akan bisa melangkah lebih jauh lagi," jelas Lee Chong Wei.
BAM berkomitmen untuk meningkatkan standar profesionalisme di kamp pelatihan nasional demi mengembalikan kejayaan Malaysia di ajang beregu. Lee Chong Wei menekankan bahwa status sebagai pemain nasional menuntut dedikasi dan pengorbanan yang tidak sedikit.
"Kehidupan atlet memerlukan pengorbanan besar. Tanggung jawab itu sangat penting bila sudah bergabung menjadi pemain tim nasional," cetus Lee Chong Wei.
Para pemain senior seperti Lee Zii Jia dan Aaron/Soh diharapkan menjadi figur yang memberikan contoh positif bagi para junior. Lee Chong Wei memperingatkan bahwa perilaku buruk pemain senior akan berdampak langsung pada mentalitas generasi muda di bawahnya.
"Saya ingin pemain senior menjadi teladan yang baik. Kalau berjalan sebaliknya, pemain muda akan mengikuti mereka," ucap Lee Chong Wei.
Isu penurunan kedisiplinan ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak sebulan sebelum turnamen Piala Thomas 2026 dimulai di Denmark. Lee Chong Wei menegaskan bahwa langkah tegas yang diambil federasi saat ini bukan sekadar respons emosional akibat kekalahan dari China.
"Saya tak mau orang salah paham. Reaksi kami ini bukan karena kita kalah di Piala Thomas," imbuh Lee Chong Wei.
Federasi menyatakan telah memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini jauh sebelum keberangkatan tim ke turnamen. Pembenahan internal akan terus dilakukan guna memastikan tim Malaysia tampil lebih solid dalam kompetisi internasional mendatang.
"Sebenarnya sudah memberikan perhatian lebih awal lagi (sebelum Piala Thomas)," tandas peraih tiga medali perak Olimpiade tersebut.