Tim produksi film Nobody Loves Kay meriset perjalanan hidup atlet Mobile Legends Kairi Rayelsdelsol hingga ke pelosok Bataan, Filipina, untuk memotret realitas kemiskinan sang pemain sebelum meraih kesuksesan. Pengumuman proyek drama coming-of-age ini disampaikan dalam konferensi pers di Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin, 11 Mei 2026.
Dilansir dari Suara, produser Faisal Hibatullah menjelaskan bahwa kru film mendatangi langsung rumah masa kecil Kairi yang terletak di kawasan padat penduduk. Perjalanan darat selama lima jam dari Manila dilakukan guna memahami titik nol perjuangan atlet yang kini membela tim ONIC tersebut.
"Itu beneran se... emang semiskin itu katakanlah. Rumahnya tuh kayak masuk gang, masuk gang lagi, pinggir kali," ungkap Faisal, Produser.
Faisal menambahkan bahwa keberhasilan karier Kairi saat ini telah mampu mengubah kondisi ekonomi keluarganya secara signifikan.
"Dan sekarang Kairi tuh beneran bangun rumahnya sendiri, gede banget," tambah Faisal, Produser.
Sutradara Bernardus Raka menyebut adanya keterikatan emosional yang kuat antara dirinya dengan tema zero privilege dalam film ini. Raka merasa pengalaman hidupnya memiliki kemiripan dengan rintangan yang dihadapi Kairi saat memulai langkah dari keterbatasan fasilitas.
"Pengalaman personalnya dia tuh hampir sama dengan pengalamanku. Kairi tidak punya HP, aku dulu untuk mengejar mimpiku sebagai sutradara, aku enggak punya kamera, aku nggak punya laptop, dan aku tidak kuliah film," jelas Raka, Sutradara.
Raka menilai bahwa inti dari cerita ini adalah semangat perjuangan dari titik terbawah meskipun alat atau medium yang digunakan berbeda.
"Zero privilege yang dimiliki Kairi itu hampir sama dengan punyaku. Device-nya aja beda," lanjut Raka, Sutradara.
Film ini juga menyoroti benturan antara ambisi generasi muda di dunia e-sports dengan harapan konvensional orang tua. Pemeran tokoh ibu, Mian Tiara, merefleksikan bagaimana konflik tersebut masih relevan dengan pengalamannya sendiri saat memilih jalur seni.
"Itu terjadi di generasi saya ketika orangtua saya, terutama ibu saya, tidak mempercayai bahwa mimpi saya yang mau jadi seniman. Saya butuh tahunan untuk mendengar ibu saya ngomong, 'Kamu kerja kantoran aja nak, yang safe'," kenang Mian, Aktris.
Perspektif keluarga yang tidak memahami dunia gim digambarkan melalui karakter nenek Kay. Aktris Elly D Lutan mengungkapkan bahwa karakter yang diperankannya menunjukkan kasih sayang meski asing dengan profesi sang cucu.
"Saya tidak pernah tahu apa itu mimpi dia. Saya hanya melihat handphone, kemudian teriak-teriak, dan teman-temannya yang berisik," tutur Elly, Aktris.
Karakter nenek dalam film ini diposisikan sebagai sosok pendorong moral bagi tokoh utama dalam meraih cita-citanya.
"Tapi bahwa kasih sayang, rasa cinta, rasa tanggung jawab, itu mudah-mudahan menjadi pendorong buat Kay menuju mimpi," lanjut Elly, Aktris.
Nobody Loves Kay dibintangi oleh Bima Azriel, Rey Bong, dan jajaran aktor lainnya di bawah naungan kolaborasi produksi Migunani Cinema Cult serta Visinema Pictures. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.