Klub kasta kedua Stade Lausanne Ouchy menantang tim papan atas FC St Gallen dalam laga final Schweizer Cup yang berlangsung di Stadion Wankdorf, Bern, pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 14.00 waktu setempat.
Pertandingan ini menjadi momen krusial bagi kedua tim demi mengamankan trofi juara sekaligus tiket menuju babak kualifikasi Europa League musim depan. FC St Gallen bertindak sebagai favorit setelah menyelesaikan musim di peringkat kedua Liga Super Swiss di bawah Thun, sementara Stade Lausanne Ouchy finis di peringkat keempat Challenge League.
Stade Lausanne Ouchy melaju ke final pertama sepanjang sejarah klub setelah menyingkirkan tim-tim Liga Super seperti Winterthur, Luzern, dan Grasshoppers (GC) di babak semifinal. Pelatih Stade Lausanne Ouchy, Dalibor Stevanovic menilai sang lawan memiliki komposisi skuad yang sangat tangguh di lapangan.
"Sie verfügen über physisch starke Spieler", räumt Stade Lausannes Trainer Dalibor Stevanovic im Vorfeld der Partie ein.
Stevanovic mengantisipasi taktik lawan berkaca pada laga semifinal saat St Gallen menaklukkan Yverdon dengan skor 2-0 lewat gol cepat di lima menit awal. Sang pelatih kini bertumpu pada performa impresif Vasco Tritten yang selalu mencetak gol dalam empat laga terakhir.
"Wir bereiten uns darauf vor, das Pressing, das sie zu Spielbeginn ausüben, zu umgehen", erklärt Stevanovic vor dem ersten Cupfinal der Vereinsgeschichte.
Arsitek tim asal Slovenia tersebut tetap optimistis menghadapi daya serang St Gallen yang mengandalkan duet Alessandro Vogt dan Carlo Boukhalfa.
"Um zu gewinnen, benötigen wir grosse defensive Stabilität."
Ketangguhan mental anak asuhnya menjadi modal penting untuk memutus rekor buruk St Gallen yang selalu kalah dalam empat final piala domestik terakhir mereka.
"Wir haben ein gutes Team, das zugleich auch über starke Individualisten verfügt."
Kepercayaan diri tinggi diusung oleh skuad berjuluk SLO tersebut menjelang peluit pertama dibunyikan.
"Wir haben keine Angst", bekräftigt der SLO-Coach.
Di sisi lain, rombongan suporter FC St Gallen memadati pusat kota Bern dengan atribut hijau-putih menjelang laga, meski sempat terkendala gangguan operasional kereta SBB rute Zürich-Bern.
"Alle St. Galler Fans raus, wir fahren nicht ab Zürich."
Kericuhan jadwal tersebut sempat memicu kekecewaan para pendukung yang bergegas menuju stadion. Di dalam gerbong kereta, optimisme tinggi tetap disuarakan oleh para pendukung yang memprediksi kemenangan telak bagi St Gallen.
"Ich denke mal, dass die Gewinnchancen 50-50 sind", sagt ein Fan aus dem Zug.
Sambil menikmati perjalanan, suporter tersebut berharap timnya bisa meraih kemenangan mudah tanpa harus melalui drama adu penalti.
"Aber ein 3-0 wäre entspannt."
Suasana riuh di dalam fanzug itu diwarnai selingan canda dari pendukung yang sama mengenai situasi di dalam kereta.
"Der Vollste ist der Tollste."
Harapan serupa juga diungkapkan oleh kelompok suporter lain yang menginginkan hujan gol di laga final ini.
"Es könnte knapp werden. Vor allem wenn es dann auf ein Penalty-Schiessen hinausläuft. Ein 4-0 wär aber geil."
Kendati demikian, keyakinan bahwa St Gallen akan langsung tampil menekan sejak menit pertama tetap tidak tergoyahkan bagi para penggemar fanatik.
"Noch in den ersten 20 Minuten werden die St.Galler zwei Töpfe schiessen. Die können das einfach", gab sich ein langjähriger Fan überzeugt.
Jika St Gallen berhasil memenangkan pertandingan ini, berkah juga akan didapatkan oleh FC Sion yang berhak mewarisi tiket kualifikasi Conference League setelah finis di posisi keempat Liga Super Swiss.