Pelatih Kepala Ganda Putra Indonesia Antonius Budi Ariantho memberikan instruksi tegas kepada para atletnya menjelang turnamen Indonesia Open 2026. Anggota skuad ganda putra diwajibkan untuk membawa pulang gelar juara dalam kompetisi tersebut, apalagi setelah melihat hasil evaluasi persiapan yang dinilai sudah berjalan dengan baik.
Hingga memasuki bulan Mei tahun ini, tim bulutangkis Indonesia belum berhasil mengamankan satu pun gelar juara dari turnamen berkategori Super 1000, seperti dilansir dari Detik Sport. Padahal, dua ajang bergengsi pada level tersebut telah selesai dilaksanakan, yakni Malaysia Open yang bergulir pada Januari serta All England yang diselenggarakan sepanjang Maret.
Pencapaian tertinggi tim Merah Putih dalam kedua kompetisi papan atas tersebut hanya mencapai babak semifinal, yang masing-masing dicatatkan oleh sektor tunggal putra dan ganda putra. Indonesia terakhir kali mencicipi podium tertinggi turnamen level Super 1000 di ajang China Open pada Juli 2025 lewat performa impresif Fajar Alfian dan Muhammad Shihibul Fikri yang baru dipasangkan.
Ajang Indonesia Open 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 7 Juni mendatang dipandang sebagai momentum emas bagi tim tuan rumah. Sektor ganda putra memikul misi besar untuk menebus ketertinggalan prestasi dalam beberapa bulan terakhir melalui target tinggi yang dipatok oleh sang pelatih.
"Harus juara," tegas Anton saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung.
Evaluasi pasca kegagalan di turnamen Thomas Cup langsung direspon cepat dengan menggenjot porsi kesiapan fisik dan taktik para pemain. Fokus utama tim ganda putra kini diarahkan penuh pada dua turnamen terdekat yang menghadang di depan mata, yaitu Singapore Open dan Indonesia Open 2026.
Tim kepelatihan sengaja mengambil keputusan untuk melewatkan turnamen Thailand Open dan Malaysia Masters demi menjaga kebugaran pemain. Faktor mepetnya waktu jeda turnamen serta risiko kelelahan akibat perbedaan zona waktu menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan jadwal tanding atlet.
"Ya saya harus bisa mempersiapkan karena habis dari Thomas Cup itu, kalau mau berangkat Thailand, dekat banget waktunya, ya kan?" jelas Anton.
"Nah, dari Thomas Cup saja, kita mau persiapan ke Singapura cuma dua minggu. Kalau kita berangkat Thailand kan cuma satu minggu. Jadi itu dekat banget (waktunya). Apalagi dari Eropa ke Asia kan pasti ada jetlag-nya segala ya. Saya mempertimbangkan seperti itu juga," tutur Anton.
Manajemen performa puncak para atlet diatur sedemikian rupa melalui peningkatan intensitas latihan secara bertahap sekembalinya dari turnamen beregu tersebut. Langkah ini diambil agar kondisi fisik dan fokus terbaik para pemain dapat tercapai tepat saat bertanding di hadapan publik sendiri.
"Persiapannya setelah pulang dari Thomas Cup, ada waktu dua minggu, ya maintenance-nya kita naikin dikit ya. Ya oke lah, cukup baik lah. Nanti kita peak-nya bisa mudah-mudahan di Indonesia Open. Peak performanya," katanya.