Gelandang bertahan tim nasional Haiti Woodensky Pierre terhambat pengurusan visa Amerika Serikat untuk bergabung dengan skuadnya di Florida menjelang Piala Dunia pada Rabu, 27 Mei 2026. Pierre menjadi satu-satunya pemain dalam skuad yang masih menetap di Haiti di tengah situasi negara yang dilanda konflik geng motor.
Sebanyak 25 pemain timnas Haiti lainnya saat ini berkarier di luar negeri, tersebar di liga-liga seperti Inggris, Prancis, Portugal, Kanada, dan Amerika Serikat. Pierre sendiri merupakan pemain klub Violette AC yang berbasis di ibu kota Port-au-Prince.
Kondisi keamanan di Port-au-Prince memburuk dengan sekitar 70 persen wilayah kota dikepung oleh geng kriminal bersenjata. Pierre berasal dari Cite Soleil, sebuah kawasan kumuh di tepi laut yang kerap dilanda kekerasan dan kelaparan, bahkan laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB mencatat 5.300 orang terpaksa mengungsi dari sana.
Akibat situasi yang tidak aman tersebut, stadion kandang timnas Haiti terpaksa dipindahkan ke Curacao untuk menggelar pertandingan kualifikasi Piala Dunia. Sementara itu, Pierre tetap menjalankan latihan di sebuah lapangan rumput sintetis di area elite Petion-Ville sembari menunggu kejelasan visanya.
Keterlambatan visa administrasi ini tidak hanya dialami Pierre, tetapi juga menimpa belasan pejabat federasi sepak bola Haiti seiring pengetatan pembatasan perjalanan oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Partisipasi Haiti kali ini merupakan yang kedua dalam sejarah setelah debut pertama mereka pada tahun 1974.
Juru bicara federasi sepak bola Haiti, Thecieux Jeanty, menjelaskan bahwa situasi skuad saat ini sangat berbeda dengan tahun 1974, di mana hampir seluruh pemain kala itu tinggal dan bermain di dalam negeri. Jeanty berkomunikasi via telepon dengan Associated Press terkait harapannya untuk masa depan Pierre.
"I hope he doesn’t have to live in (Haiti) after the World Cup," ujar Thecieux Jeanty, Juru Bicara Federasi Sepak Bola Haiti kepada Associated Press. "It’s an opportunity to present himself to the world and await a contract."
Jeanty menambahkan bahwa kesempatan bermain di turnamen besar ini menjadi kebanggaan tersendical bagi sang pemain serta memberikan kepuasan bagi para pejabat sepak bola dan masyarakat di tengah krisis multidimensi yang melanda negara tersebut.
"It’s a source of pride for him," kata Thecieux Jeanty. "It’s satisfying for (soccer) officials and for the public, too. As you know, Haiti is in crisis."
Pejabat timnas Haiti mengonfirmasi bahwa sebagian besar anggota skuad telah tiba di Florida sejak hari Minggu, dan para pemain sudah memulai sesi latihan di Port St. Lucie sejak hari Selasa. Jeanty pertama kali memantau bakat Pierre pada tahun 2022 saat mendampingi timnas U-20 bertanding di Honduras.
"I saw him as a top-level player," ucap Thecieux Jeanty mengenang momen tersebut sembari menegaskan kegembiraan seluruh tim atas kehadiran sang gelandang.
"There is soccer in Haiti," tutur Thecieux Jeanty. "It’s a country that wants to live."
Haiti masih memiliki waktu untuk menyelesaikan permasalahan visa Pierre sebelum melakoni dua laga uji coba di Florida Selatan, yakni melawan Selandia Baru pada hari Selasa dan Peru pada 5 Juni 2026. Selanjutnya, Haiti dijadwalkan membuka laga Piala Dunia melawan Skotlandia pada 13 Juni di Foxborough, disusul laga kontra Brasil pada 19 Juni di Philadelphia, dan Maroko pada 24 Juni di Atlanta.