Aktris Qorianka Kilcher Gugat James Cameron Terkait Pencurian Wajah

Aktris Qorianka Kilcher Gugat James Cameron Terkait Pencurian Wajah

Aktris asal Peru, Q’orianka Kilcher, mengajukan gugatan hukum terhadap sutradara James Cameron dan The Walt Disney Co. pada Selasa (06/05/2026). Ia menuduh Cameron menggunakan fitur wajahnya saat remaja sebagai dasar pembuatan karakter Neytiri dalam waralaba film Avatar tanpa izin atau kompensasi.

Kilcher mengklaim bahwa pada tahun 2005, saat dirinya berusia 14 tahun, Cameron mengambil detail wajahnya dari foto promosi film The New World di Los Angeles Times. Data biometrik tersebut kemudian diekstraksi dan diberikan kepada tim desain untuk menjadi fondasi visual tokoh utama yang diperankan oleh Zoe Saldaña.

Gugatan tersebut merinci bahwa proses digitalisasi melibatkan pembuatan sketsa produksi, pemahatan maket, hingga pemindaian laser resolusi tinggi. Citra yang berasal dari wajah Kilcher tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai vendor efek visual untuk merender penampilan akhir karakter Neytiri.

"This case exposes how one of Hollywood’s most powerful filmmakers exploited a young Indigenous girl’s biometric identity and cultural heritage to create a record-breaking film franchise — without credit or compensation to her — through a series of deliberate, non-expressive commercial acts," tulis rilis gugatan tersebut.

Dokumen hukum itu juga menyoroti ironi waralaba Avatar yang mencitrakan diri simpati terhadap perjuangan masyarakat adat, namun secara diam-diam mengeksploitasi pemuda adat di balik layar. Cameron diduga memilih wajah Kilcher sebagai 'sauh wajah' karena desain awal karakter Na'vi dianggap terlalu asing untuk membangkitkan empati penonton.

"The result was a hugely lucrative film franchise that presented itself as sympathetic to Indigenous struggles, all while silently exploiting a real Indigenous youth behind the scenes," lanjut pernyataan dalam gugatan itu.

Kilcher mengaku baru menyadari penggunaan wajahnya setelah melihat klip wawancara Cameron yang beredar di media sosial akhir tahun lalu. Dalam video tersebut, Cameron memegang sketsa Neytiri dan secara eksplisit menyebut nama Kilcher sebagai sumber inspirasi bagian bawah wajah karakter tersebut.

"When I received Cameron’s sketch, I believed it was a personal gesture, at most a loose inspiration tied to casting and my activism," kata Kilcher.

Kilcher menambahkan bahwa dirinya merasa sangat kecewa karena merasa kepercayaannya telah disalahgunakan secara sistematis dalam proses produksi film yang sangat ia kagumi pesannya.

"Millions of people opened their hearts to ‘Avatar’ because they believed in its message and I was one of them. I never imagined that someone I trusted would systematically use my face as part of an elaborate design process and integrate it into a production pipeline without my knowledge or consent. That crosses a major line. This act is deeply wrong," ujar Kilcher.

Gugatan tersebut juga menyinggung potensi pelanggaran undang-undang pornografi deepfake di California karena menggunakan kemiripan anak di bawah umur dalam adegan intim di film tersebut. Kilcher menyatakan bahwa tindakan pengambilan aset komersial dari wajahnya yang masih berusia 14 tahun adalah hal yang sangat mengganggu.

"It is deeply disturbing to learn that my face, as a 14-year-old girl, was taken and used without my knowledge or consent to help create a commercial asset that has generated enormous value for Disney and Cameron," tutur Kilcher.

Kuasa hukum utama Kilcher, Arnold P. Peter, menegaskan bahwa tindakan Cameron bukanlah sekadar inspirasi seni, melainkan sebuah ekstraksi. Ia menyebut bahwa pengambilan fitur biometrik unik tanpa izin demi keuntungan miliaran dolar merupakan bentuk pencurian.

"He took the unique biometric facial features of a 14-year-old Indigenous girl, ran them through an industrial production process, and generated billions of dollars in profit without ever once asking her permission," cetus Arnold P. Peter.

Pihak pengacara menekankan bahwa langkah hukum ini tidak bertujuan untuk membatasi ekspresi artistik, melainkan untuk memperbaiki pengambilan properti pribadi secara melawan hukum demi kepentingan komersial.

"That is not filmmaking. That is theft," tegas Arnold P. Peter.

Kilcher menuntut ganti rugi kompensasi, ganti rugi punitif, serta penyerahan keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan kemiripan wajahnya. Hingga berita ini diturunkan, perwakilan James Cameron belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan tersebut.

"This action does not seek to restrict or punish speech or artistic expression; it seeks to remedy the unlawful taking of Plaintiff’s property: her own face, used as a commercial production asset to generate billions of dollars in profit," pungkas dokumen hukum tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi