Jutaan penggemar sepak bola di India dan China berpotensi kehilangan akses siaran resmi Piala Dunia FIFA 2026 menyusul belum adanya kesepakatan hak siar di kedua negara tersebut. Masalah ini menjadi sorotan karena turnamen akbar tersebut dijadwalkan akan dimulai pada 11 Juni 2026 mendatang.
Hingga Kamis (7/5/2026), badan sepak bola dunia FIFA dilaporkan telah merampungkan kontrak siaran di setidaknya 175 wilayah secara global. Namun, dilansir dari Bola, ketidakpastian di dua negara berpenduduk terbesar di dunia ini dinilai sangat tidak biasa mengingat waktu persiapan yang kian menyempit.
Pihak otoritas sepak bola dunia menyatakan bahwa proses komunikasi dengan mitra potensial di kedua negara masih terus berjalan secara tertutup. Langkah ini dilakukan guna mencari solusi komersial yang tepat bagi semua pihak yang terlibat.
"Diskusi China dan India mengenai penjualan hak media untuk Piala Dunia FIFA 2026 masih berlangsung dan harus tetap dirahasiakan pada tahap ini," komentar FIFA.
Di pasar India, tantangan utama muncul dari perbedaan nilai valuasi antara FIFA dan pihak penyiar. Usaha patungan antara Reliance dan Disney dikabarkan hanya memberikan penawaran senilai US$20 juta untuk hak siar turnamen edisi mendatang. Angka tersebut jauh di bawah target FIFA yang mencapai US$100 juta untuk paket hak siar Piala Dunia 2026 dan 2030.
Penurunan nilai tawar ini dipicu oleh faktor geografis, di mana lokasi turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menyebabkan jam tayang pertandingan jatuh pada tengah malam di India. Kondisi tersebut diprediksi akan menurunkan minat penonton dan daya jual iklan di negara tersebut.
"Sepak bola adalah segmen berisiko di India," kata salah satu sumber anonim kepada South China Morning Post.
Situasi serupa terjadi di China meski negara tersebut menjadi penyumbang jam tayang digital terbesar pada edisi 2022 lalu. Hingga saat ini, penyiar negara CCTV belum memberikan pernyataan resmi terkait status hak siar untuk turnamen tahun 2026.
Secara akumulasi, India dan China memberikan kontribusi sebesar 22,6% dari total jangkauan streaming digital global pada Piala Dunia sebelumnya. Absennya kesepakatan resmi hingga lima pekan sebelum pembukaan turnamen membuat persiapan infrastruktur siaran dan penjualan slot iklan menjadi semakin mendesak.