Pendakwah Hanny Kristianto mengumumkan pencabutan sertifikat mualaf milik dokter Richard Lee pada Minggu (3/5/2026) karena kekhawatiran penyalahgunaan dokumen tersebut sebagai alat bukti hukum. Keputusan ini diambil setelah adanya potensi konflik hukum antara Richard Lee dengan pihak yang dikenal sebagai Dokter Detektif.
Dilansir dari Detik Hot, langkah pembatalan administrasi ini dipicu oleh pernyataan Richard Lee dalam sebuah unggahan video yang dinilai bertentangan dengan prinsip ketauhidan. Hanny menyebut adanya dokumentasi yang memperlihatkan aktivitas Richard di sebuah gereja bersama istrinya baru-baru ini.
"Ya, jadi Richard ini kan ngaku di video bahwa, 'Setelah 3 tahun saya masuk Islam, eh mualaf, ini pertama kali saya ke gereja lagi, dan saya percaya Tuhan Yesus', di gereja dia mengucapkan itu. Itu kalimat menurut saya sudah tidak mengakui la ilaha illallah. Sudah mengakui Tuhan selain Allah," kata Ko Hanny Kristianto.
Meski melakukan tindakan administratif tersebut, Hanny memberikan penegasan bahwa keputusannya tidak berkaitan dengan status spiritual seseorang di mata Tuhan. Ia menyampaikan pandangannya mengenai hakikat manusia yang bisa melakukan kesalahan selama masa hidupnya.
"Kalau yang pasti saya cabut itu bukan untuk membatalkan keislamannya. Siapapun manusia selama masih hidup dapat kita harapkan, kita doakan dapat hidayah. Manusia pasti bisa bikin salah, termasuk saya," ujarnya.
Penjelasan tersebut dilanjutkan dengan imbauan untuk memberikan bimbingan bagi mereka yang dinilai melenceng dari ajaran agama. Ia menekankan pentingnya proses akhir kehidupan seorang manusia dibandingkan kondisi saat ini.
"Ketika salah, harusnya kita doakan, kita nasihati supaya bisa bertobat. Karena orang itu dilihat dari akhirnya, matinya, bukan dari hidupnya," sambungnya.
Mengenai isu keterlibatannya dalam persidangan, Hanny memberikan pernyataan terkait permintaan untuk menjadi saksi dalam pertikaian tersebut. Dirinya memilih untuk menjaga jarak dari konflik yang dianggapnya sebagai masalah antar sesama muslim.
"Sudah ada yang minta saya untuk menjadi saksi di sidang. Nah dalam hal ini, ini kan bukan penistaan agama, masalahnya kan masalah undang-undang kesehatan ya. Jadi saya gak mau dilibatkan dalam pertikaian sesama mereka, sesama muslim. Dan saya tidak mau juga sertifikat ini digunakan untuk bahan saling menyerang, bahan bukti di pengadilan," jelasnya.
Hanny juga melontarkan kritik terkait validitas dokumen yang selama setahun terakhir tidak diproses untuk keperluan identitas resmi. Ia membandingkan kemudahan prosedur birokrasi dalam pembaruan data kependudukan saat ini.
"Saya gak tahu secara hukum, harusnya udah gak bisa ya. Kenapa sertifikat yang sudah lebih dari setahun tidak digunakan untuk mengurus KTP itu berlaku atau sah? Kan ngurus KTP jadi kolom agama itu cuma 1 jam gak sampai, selesai," katanya.
Rasa kecewa juga diungkapkan oleh Hanny atas kegagalan pemanfaatan sertifikat tersebut sesuai fungsinya. Ia memberikan peringatan agar Richard Lee dan timnya memfokuskan pembelaan pada substansi permasalahan kesehatan tanpa memperlebar isu ke arah lain.
"Jadi ya nasihat kita, mudah-mudahan nonton nih si dokter Richard Lee dan timnya, gak usah melebar ke mana-mana. Kasusnya kan kasus kesehatan," ucapnya.
Selain masalah mualaf, Hanny menyoroti perselisihan Richard Lee dengan Kartika Putri yang masih memanas di media sosial. Ia menyesalkan adanya aksi perundungan digital yang terus berlanjut terhadap pihak-pihak terkait dalam konflik tersebut.
"Di highlight-nya dia di atas, itu masih ada bully-annya tentang Kartika Putri masih di-bully di situ. Terus ada juga kata-kata yang 'janda mandul'," bebernya.
Ia meminta agar serangan terhadap Kartika Putri segera dihentikan mengingat persoalan lama tersebut dianggap sudah seharusnya selesai. Hanny menekankan bahwa aksi perundungan masih terpantau terjadi hingga hari ini.
"Nah, masalah Kartika Putri kalau sudah selesai, ya orangnya jangan di-bully. Sampai hari ini masih di-bully," lanjutnya.
Sebagai penutup dari pernyataannya, Hanny Kristianto mempertanyakan urgensi berpindah keyakinan jika tidak diiringi dengan ketaatan menjalankan ibadah. Ia menyayangkan adanya perselisihan antar sesama muslim tanpa adanya upaya perbaikan data administratif keagamaan.
"Nah itu nasihat saya, buat apa kita masuk Islam? Masuk Islam kalau mau masuk Islam, lalu buat apa kalau kita gak salat? Kita buat berantem, kita gak mengubah kolom agama, kita masih menyerang ribut bermusuhan dengan sesama muslim," pungkasnya.