Sutradara Hanung Bramantyo melakukan eksperimen sinematik dalam menggarap film terbarunya yang merupakan adaptasi dari karya legendaris Iran, Children of Heaven versi Indonesia. Langkah berani diambil dengan keluar dari pakem visual megah yang selama ini melekat pada rumah produksi MD Pictures.
Eksperimen tersebut bertujuan untuk mengejar realisme yang jujur tanpa polesan dramatis berlebihan, seperti dilansir dari Suara. Kendati kontras dengan selera biasanya, produser Manoj Punjabi menyatakan kepuasan penuh terhadap hasil akhir film, khususnya pada intensitas cerita menjelang penutup.
Manoj Punjabi bahkan menegaskan tidak memiliki keinginan untuk merombak jajaran pemain yang terlibat. Kepuasan tersebut disampaikan langsung oleh sang produser saat menghadiri acara gala premiere yang berlangsung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
"Adegan terakhir itu, 20 menit terakhir saya kayak keringetan nonton. Per menit saya bisa merasa tegangnya, saya sudah involved di karakter ini, bahkan sampai lagu yang luar biasa itu keluar, sudah puas saya," kata Manoj Punjabi dalam Gala Premiere film tersebut yang digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Sabtu, 16 Mei 2026.
"Di sini semuanya right-right casting. Kalau saya punya time capsule untuk rewind apa yang bisa diganti, saya enggak akan ganti apa pun," tambahnya.
Sejak awal proyek berjalan, Hanung Bramantyo telah memberikan peringatan tegas kepada pihak produser mengenai konsep penyutradaraannya. Dirinya bersikeras untuk mempertahankan ruh asli dari neorealisme film Iran dan menolak bentukan visual yang terlalu formulaist atau megah.
"Saya bilang sama Pak Manoj, 'Saya enggak mau ya film Children of Heaven ini dibentuk seolah-olah sebagaimana film yang bentuknya sangat formulaist. Enggak bisa, ini beda banget lho, beda dari taste-nya Pak Manoj biasanya'," ungkap Hanung.
Bagi sutradara tersebut, mengubah gaya sinematik yang biasa diterapkan MD Pictures menjadi sangat realis merupakan sebuah tantangan besar. Karakteristik produksi yang biasanya menonjolkan visual bombastis harus disesuaikan agar selaras dengan paham realisme.
"MD kebanyakan membuat film yang sangat bentuk, dar-der-dor, seperti film India. Sementara film Iran itu pahamnya realisme. Bagaimana gaya yang terbiasa sinematik itu di-tweak, itu sudah kayak pindah agama kan," tuturnya.
Perbedaan mencolok dari versi aslinya terletak pada penyisipan unsur komedi. Hanung Bramantyo melibatkan beberapa komika nasional untuk menyesuaikan tontonan dengan tradisi seni pertunjukan masyarakat Indonesia yang menyukai perpaduan cerita menyentuh dan kelucuan.
"Tradisi pertunjukan kita selalu mengedepankan tiga hal, yaitu cerita bagus, menyentuh, dan lucu. Orang Iran mungkin hidupnya serius sekali, sementara kita, lapar saja masih bisa ketawa. Makanya kita masukkan unsur kelucuan ini dari para komika agar film ini terasa komplet buat penonton kita," beber Hanung.
Aspek kesejahteraan para aktor anak menjadi fokus utama selama proses produksi berlangsung. Manajemen waktu yang ketat diterapkan agar jam kerja tetap sehat dan tidak memicu kelelahan pada pemeran utama.
"Syutingnya sehat, jam 7 pagi sampai sore, ada break dulu. Kalau dilanjut malam, enggak boleh ada anak-anak. Saya keras soal itu. Kalau untuk adegan malam, mereka calling-annya sore, biar pagi sampai siangnya istirahat dulu," tegas Hanung.
"Selain itu saya siapkan dua sampai tiga body double untuk adegan lari jarak jauh atau long shot agar Ali (Jared Ali) tidak diforsir," lanjutnya.
Kendati proteksi telah dilakukan secara maksimal, kendala fisik tetap terjadi di lapangan akibat totalitas sang aktor utama. Infeksi pada kaki sempat membuat proses pengambilan gambar harus dihentikan sementara pada hari pertama.
"Hari pertama adegan maraton sudah kumpul 500 anak, tiba-tiba Ali enggak bisa syuting karena kakinya cantengan. Ternyata selama syuting sepatunya basah untuk kebutuhan continuity, dan saking intensnya, dia enggak lepas sepatu itu bahkan saat lagi nunggu. Akhirnya virus masuk dan kita harus break," kenang Hanung.
Film drama keluarga yang diadaptasi dari karya Majid Majidi ini menampilkan performa dari talenta baru Jared Ali dan Humaira Zahra. Jajaran aktor pendukung lainnya meliputi Andri Mashadi, Faradina Mufti, serta para komika seperti Muhadkly Acho, Dodit Mulyanto, dan Oki Rengga.
Sinema ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026. Bersamaan dengan penayangannya, proyek ini mengusung misi sosial berupa gerakan donasi sepatu untuk anak-anak sekolah di wilayah terpencil.